Teruntuk Dysta dan Puisi Lainnya

Petrikor di Rahim Ibu

Barangkali aku memang tak kenal cahaya
sepertinya gelap lebih dulu mengenal
kubilang, “Aku bukan anak manja”
kubilang lagi, “Bu, dalam gelapmu aku kekal.”

Di rahimmu tersemai doa.
lalu, lahirlah aku dari lapang mu.
Harap-harap diriku jadi anak yang ceria
tumbuh dengan namamu yang tak pernah layu

Selambat lupa wangi dan juga hangatnya
barangkali seperti dastermu yang terkena hujan
lalu bercampur petrikor yang membuatku terlena
tanah yang basah merengkuhku pulang pelan-pelan

***

Jari-jari dan Kertas

Kalau pada sekian hal untuk dibawa,
selain tubuh yang perlahan dimakan usia,
kupilih sepuluh ruas jari ini untuk tetap terjaga.

Mengeja namamu dengan rindu,
menari-nari dalam kertas sunyi.
Setiap ruas adalah karanganku yang semu,
setiap goresnya adalah cerita yang abadi.

Andai bisa patahkan sendiri jari-jari ini,
membiarkannya melebur jadi tinta abadi,
tak apa tubuhku habis, tak lagi berarti,
asal puisiku hidup dan namamu terukir dalam puisi ini.

***

Seperti Nirmana

Memang! Aku nirmana
Pada lukisanmu yang tak terlihat.
Tanpa warna, tak punya makna
Seperti kau tak menyadarinya, begitu pula aku terikat

Menjadi garis yang kauabaikan.
Pada kanvasmu yang memudar,
Mungkin memang tak berhak kupamerkan?
Seperti rasamu yang ikut memudar.

***

Teruntuk Dysta

Teruntuk Dysta yang berujung dusta.
Yang bilang teh tak perlu gula,
Hanya perlu aku yang juwita,
Manis pada hidupmu yang hampa.

Ingatkah mawar rambat di halaman rumah?
Kaularang siapapun membawaku bunga,
Sebab aku sudah punya sekebun indah,
Tak kucium harum dari tangan lainnya.

Mawar-mawar itu enggan layu.
Mungkin… aku mengeja namamu terburu,
Membungkusnya jadi rindu yang membiru.

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top