Menyoroti Fenomena “Losing The Spark” dalam Hidup

Baru–baru ini di media sosial ramai dibicarakan terkait fenomena “Losing The Spark”. Fenomena ini bisa terjadi di berbagai rentang usia mulai dari remaja sampai dewasa dan terjadi di perkotaan dengan berbagai macam kemudahan dan fasilitasnya. Tapi, apakah sebenarnya fenomena “Losing The Spark” ini? Apa sebab munculnya fenomena ini dan bagaimana cara kita agar tidak terjangkiti fenomena ini. Semua hal tersebut, akan kita bahas di tulisan ini. 

“Losing The Spark” sendiri merupakan gejala psikologis yang ditandai dengan ciri- ciri yaitu merasa hampa, merasa hidup gini-gini aja, merasa tidak bisa mewujudkan mimpi, tidak semangat dalam melakukan aktivitas yang biasanya disenangi, hidup serasa rutinitas, bisa beraktivitas seperti biasa tetapi merasa kosong dan banyak keluhan dalam menjalani aktivitas. Meminjam istilah yang dikemukakan oleh Viktor Frankl fenomena tersebut merupakan salah satu penyakit psikologis yang dinamakan “Frustasi Eksistensial”.

Frustasi Eksistensial sendiri bermakna suatu kondisi psikologis yang dialami ketika seseorang ingin hidupnya lebih bermakna tetapi dalam kenyataan hidupnya ia tidak merasakan suatu kebermaknaan. Hidup yang bermakna tidak muncul tiba-tiba tetapi melalui proses yang panjang, terjadi ketika seseorang memiliki tujuan dalam hidupnya yang ingin ia kejar. Tujuan hidup inilah yang akhirnya menjadikan manusia itu hidupnya bermakna karena setiap gerak hidupnya difokuskan pada tujuan hidup tersebut.

Hidup yang penuh makna karena tahu apa yang dituju akan menjadikan bahagia dalam menjalani kehidupan, ketika ada cobaan atau kesulitan dalam menjalani hidupnya ia akan menjalaninya dengan ikhlas karena kesulitan itu dimaknai sebagai proses dalam hidupnya untuk mencapai tujuan, sehingga tidak ada istilah putus asa dalam hidupnya dan dia  akan menjalani hidupnya dengan penuh semangat, tidak hanya sekedar rutinitas dan tidak akan membosankan karena apa yang dilakukan penuh makna untuk mencapai tujuan.

Penyakit “Frustasi Eksistensial” ini muncul disebabkan oleh beberapa hal:

Pertama, Individu yang tidak memiliki tujuan dalam hidupnya. Orang yang tidak memiliki tujuan hidupnya ibarat kapal yang berlayar di tengah laut tanpa tujuan, terombang-ambing tanpa arah. Hidupnya tidak ada gairah karena mengikuti arus, hanya rutinitas karena tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam kesehariannya. Mudah bosan karena tidak ada target yang harus dikejar dan mudah putus asa ketika ada kesulitan karena hidupnya tidak harus sukses untuk mengejar tujuan.

Kedua, Individu yang memiliki tujuan, tapi tujuan hidupnya keliru. Hal ini disebabkan karena munculnya budaya materialisme, liberalisme dan hedonisme sehingga ukuran kebahagiaan dan kebermaknaan itu dari materi dan kebebasan untuk mendapatkan kebahagiaan. Kenyataanya banyak yang memiliki materi, ketenaran, jabatan tinggi, tapi hidupnya tidak bermakna, tersiksa sampai akhirnya banyak yang bunuh diri.

Ketiga, Individu sudah memiliki tujuan yang benar dalam hidupnya, tetapi tidak membuat jalan dan tahapan yang konkret untuk mencapai tujuan hidup itu sehingga kebingungan dan aktivitasnya justru mengarah pada hal yang tidak memberikan makna dalam hidupnya.

Keempat, Individu sudah memiliki tujuan yang benar dalam hidupnya, tetapi tidak mampu untuk mengatasi setiap masalah yang dihadapi dalam proses mencapai tujuan yang benar itu. Dampaknya, berhenti di tengah jalan dan tidak mendapatkan tujuan yang benar tersebut. Ia justru mengarah pada tujuan hidup yang salah yang tidak memberikan kebermaknaan.

Lantas, bagaimana cara agar kita terhindar dari penyakit psikologis “Frustasi Eksistensial ini”. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan:

Pertama, Memiliki tujuan hidup
Sesuatu yang kita jadikan sebagai tujuan hidup haruslah tujuan hidup yang bagi kita tertinggi dan harus benar.  Adanya tujuan hidup yang benar dan tertinggi ini akan menjadikan kita semangat untuk mencapainya, berkorban apapun untuk bisa mencapainya. Sehingga, tidak ada istilah rutinitas, bosan, dan tidak tahu harus ngapain karena ada sesuatu yang harus kita kejar dalam hidup. 

Kedua, Menetapkan jalan dan langkah-langkah konkret 
Setelah menemukan tujuan hidup kita yang benar dan tertinggi tersebut  kita tentukan jalan dan langkah-langkah apa saja yang harus kita lakukan agar tujuan itu bisa kita dapatkan. Tanpa jalan dan langkah- langkah yang konkret maka tujuan tersebut tidak mungkin bisa kita dapatkan dan hidup kita akan jauh dari kebermaknaan. Adanya jalan dan langkah-langkah yang konkret ini membuat kita tahu harus ngapain aja dalam hidup, tidak terjebak pada rutinitas dan kebosanan.

Ketiga, Siap untuk menghadapi tantangan dan hambatan dalam proses mencapai tujuan hidup
Proses untuk mencapai tujuan hidup tidaklah mudah. Banyak sekali tantangan dan hambatan yang akan kita temui. Jika tidak siap dengan hal itu akan membuat kita berhenti mengejar tujuan hidup yang benar tersebut. Justru jadinya kita akan mengejar tujuan hidup yang salah karena mudah jalannya dan pada akhirnya kebermaknaan itu tidak bisa kita dapatkan dalam hidup karena mengejar sesuatu yang salah.

Keempat, Lingkungan yang kondusif
Sosialisasi nilai-nilai materialisme, liberalisme dan hedonisme bisa menjauhkan seseorang dari tujuan hidupnya yang paling benar dan memberikan makna. Hanya sekadar mengejar materi tiada ujung, kebahagian semu dan pencapaian dengan segala cara yang justru membuat hidup jadi gelisah dan tidak tenang. Perlu bagi kita untuk bisa terus berada pada lingkungan yang senantiasa bisa mengingatkan kita akan tujuan hidup kita dan memotivasi kita agar terus berjuang mendapatkan tujuan hidup tersebut.

Kelima, Menghidupkan nilai-nilai spiritual dalam diri
Nilai-nilai spiritual yang dimaksud di sini adalah bagaimana kita hidup dan berjuang senantiasa didasarkan pada nilai-nilai ketuhanan atau nilai-nilai Allah. Kita bekerja, kita belajar, kita beraktivitas selalu didasarkan pada nilai-nilai ketuhanan. Nilai ketuhanan ini akan menyadarkan kita terkait dengan untuk apa kita hidup dan diciptakan, ketika kita banyak menerima ujian akan menyadari bahwa ini adalah bentuk ujian dari Allah sehingga tidak mudah putus asa, ketika beribadah seperti salat dan berdoa akan menyadarkan kita bahwa ada Allah Maha Besar, memiliki kekuatan yang luar biasa, yang akan membantu kesulitan kita sehingga menumbuhkan motivasi dalam diri kita. Waktu kita digunakan untuk membantu orang lain yang membutuhkan dan memberikan manfaat bagi lingkungan. Nilai-nilai sosial dalam diri kita inilah yang akan membuat hidup kita lebih bermakna/berarti.

Dalam hidup memang motivasi kita tidak senantiasa stabil, ada kalanya akan naik turun seperti roller coaster. Lingkungan media sosial dan interaksi kita juga berpotensi besar menghilangkan “sparks” dalam hidup kita. Maka, di titik itu berhentilah sejenak dan ingatlah apa yang kamu kejar dalam hidupmu, hayati kembali tujuan hidupmu, dan berjuanglah habis-habisan untuk mencapainya. Semoga tulisan ini bisa membantu teman-teman yang sedang berada di  fase “Losing The Spark”. 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top