
Pranata Mangsa, adalah sebuah tata teknologi warisan leluhur. Dari segi bahasa, berasal dari perpaduan 2 kata, yaitu “Pranata” (aturan) dan “Mangsa” (musim atau waktu). Pranata Mangsa bukan hanya urutan angka di atas lembar kalender -biasanya kita temukan dalam lembaran besar “Almanak Dinding”. Bagi masyarakat agraris di Nusantara, khususnya Suku Jawa, ia adalah kompas eksistensial yang menjadi panduan -yang awal mula tak tertulis terhadap ritme hidup para petani dan nelayan. Panduan agar senantiasa laras dengan denyut nadi semesta.
Sistem penanggalan pelik ini melampaui perhitungan solar atau lunar konvensional; ia merangkum pembacaan astronomi pada kerlip “Rasi Pleiades” (bintang Wuluh) dan “Orion” (Waluku), yang berkelindan secara intim dengan indikator ekologis, biologis, serta perilaku flora-fauna di sebuah wilayah. Dari sinilah bentang waktu satu tahun tidak dipandang sebagai garis lurus yang mati, melainkan sebuah lingkaran siklus yang membagi waktu ke dalam empat musim utama yaitu “Terang, Semplah, Udan, dan Pangarep-arep”, -serta dijabarkan secara rinci ke dalam dua belas Mangsa yang memiliki watak, watak meteorologis, dan candra puitisnya masing-masing. Pranata Mangsa adalah aksiologi tradisi bahwa hidup manusia agraris sepenuhnya ditenun oleh keselarasan mengikuti perubahan irama alam.
Dalam menakar kedalaman Pranata Mangsa, budayawan Romo Sindhunata lewat esainya dalam majalah Basis (2008) mengingatkan kita bahwa sistem ini merupakan wujud konkret dari “the spirituality of the earth”. Sebuah spiritualitas bumi yang menempatkan alam bukan sebagai objek mati yang musti ditaklukkan. Melainkan sebagai subjek, sebagai “ibu pertiwi” yang mencintai dan dicintai. Subandi Giyanto dalam esainya “Pranata Mangsa” saat ArtJog 2024 menegaskan bahwa penanggalan yang diwarisi turun-temurun sejak periode Kerajaan Medang abad ke-9 hingga dibakukan secara formal oleh Sunan Pakubuwana VII di Surakarta pada 22 Juni 1856 ini, sejatinya memuat pertalian mengagumkan antara aspek kosmografis dan bioklimatologis.
Di balik istilah-istilah yang ada dalam Pranata Mangsa yang tampak mistis, seperti “sotya murca ing embanan” pada Mangsa Kasa atau “waspa kumembeng jroning kalbu” pada Mangsa Kapat, tersimpan basis empiris-rasional yang sangat akurat mengenai perubahan suhu, curah hujan, hingga kelembaban udara. Tradisi ini merekam ketahanan mental manusia Jawa; sebuah spiritualitas radikal yang meyakini filosofi “ana dina ana upo” (ada hari ada nasi) -esai lain dari Romo Sindhunata yang serupa. Sebab dalam Mangsa yang paling pelik dan kering sekalipun (seperti unit Mangsa Katiga), alam dipercaya selalu menyimpan benih kesuburan dan harapan yang kelak akan mekar pada musim panen raya.
Namun, jika kita maknai dalam sudut pandang lain, Pranata Mangsa tidak berhenti di pematang sawah dan batas lambung kapal nelayan. Pengetahuan kosmik ini meresap kuat ke dalam pori-pori kesenian tradisional, mewujud nyata dalam proses luhur kepengrajinan dan penciptaan alat musik Calung di wilayah Banyumas.
Bambu Wulung, sebagai tanaman indigenous lokal yang tumbuh subur di tanah pegunungan Banyumas, Jawa Tengah, tidak sekadar diperlakukan sebagai komoditas mentah. Ia adalah struktur material yang menyimpan “arsip” ingatan alam. Ia menyerap riwayat tiupan angin yang menjadikannya kuat. Merekam perubahan cuaca yang menyebabkannya adaptif, dan saksi perkembangan olah pikir dan olah rasa masyarakat Jawa, termasuk Banyumas.
Ketika sebilah bambu dipotong dan diproses melalui ketepatan Pranata Mangsa, seluruh rangkaian pra-produksi hingga produksinya sejatinya merupakan perpanjangan dari pembicaraan intim antara pengrajin dengan semesta. Hingga pada akhirnya, ketika Calung-calung tersebut rampung ditata dan dimainkan untuk mengiringi seni pertunjukan Lengger, ia bertransformasi menjadi sebuah “Agriculture Ceremony” (upacara kesyukuran masyarakat agraris). Kesenian di atas panggung itu tidak lagi sekadar dimensi estetik penenang telinga dan pengiring gerak tubuh pemain Lengger dan alunan Calung, melainkan sebuah pertalian sakral yang mengikat kembali simpul kemanusiaan masyarakat agraris dengan alam lingkungannya.
Suluk estetika agraris ini mewujud nyata dalam laku hidup Hadi Sumarto Sukendar, seorang maestro yang telah mendedikasikan hidupnya mengolah bilah-bilah bambu menjadi Calung sejak tahun 1982 di bawah naungan Sanggar Langen Budaya -sebuah sanggar seni yang ia lahir dan rawat hingga kini. Sukendar yang saat ini tinggal di Desa Papringan Kecamatan Banyumas, mempelajari keahlian ini secara otodidak. Upaya otodidak tersebut didasari kegelisahan seorang pemain musik yang membutuhkan kemandirian alat. Kemudian, ia mempraktikkan kalkulasi Pranata Mangsa secara ketat sebelum sebilah Kudi -parang khas Banyumas, menyentuh batang bambu Wulung, sebagai ibu dari Calung.
Dalam percakapannya dengan semesta, bagi Sukendar waktu penebangan mutlak dilakukan pada Mangsa sepuh (musim tua), yaitu Mangsa-mangsa ganjil di penghujung siklus: Mangsa Kapitu (7), Kasanga (9), atau Dhesta (11). Tak cukup hanya melihat Mangsa, Sukendar juga memperhitungkan kombinasi hari dan pasaran (neptu) guna menghindari cacat material pascaproduksi Melalui hitungan matematis tradisional, -setiap hari dan pasaran memiliki bobot angka, dengan Kliwon bernilai 1-ia mulai mendaras takdir bambu. Perhitungannya adalah “bubuk, dlurung, kumbang, mamprung”. Hari Selasa Pahing (3+9=12) sangat baik, karena jatuh pada watak mamprung yang berarti sudah tidak ada hamanya -hama kumbang. Pasaran Kliwon dan neptu nenem (enam) ditabukan karena membawa masalah, serta Minggu Pahing dihindari. Sebaliknya, hari Sabtu Pahing (9+9=18) dapat dikerjakan, karena jatuh pada hitungan dlurung, sebuah penanda kosmik bahwa bambu tersebut akan memiliki serat yang sangat bagus, padat, tebal, dan tahan lama untuk dijadikan Calung, material rumah maupun perabot rumah tangga.
Jika jatuh pada bubuk, maka bambu tersebut tidak akan bertahan lama. Makna bubuk di sini adalah bambu tidak memiliki usia yang panjang dan akan perlahan berubah menjadi material kecil seprti debu. Sedangkan jika jatuh kumbang, maka akan ada hama kumbangnya.
Setelah kalkulasi waktu “magis” itu terpenuhi, Sukendar memilih bambu Wulung tua yang tumbuh di dataran tinggi atau lereng gunung. Karena di tempat tersebut, embusan angin kencang, sehingga secara alami telah menggembleng dan memperkuat kerapatan serat tanaman tersebut. Setelah ditebang, bambu tidak serta-merta ditarik keluar dari rumpunnya; ia didiamkan di tempatnya selama setengah bulan agar kadar air di dalamnya menyusut secara perlahan dan alami. Proses pengeringan berlanjut dengan menyimpan bambu secara miring -kurang lebih 90˚ di tempat teduh selama 4 hingga 5 bulan dan tidak terpapar sinar matahari. Untuk selanjutnya disimpan di dalam rumah produksi selama satu tahun penuh untuk mencapai kematangan material yang mutlak.
Saat bambu telah benar-benar stabil, proses pemotongan menjadi dua atau empat ruas dimulai. Selanjutnya tahap paling krusial yang disebut pracel (proses penglarasan atau menyetem nada). Di sinilah percakapan dengan semesta kembali terjadi: Sukendar memotong bagian depan bilah untuk menaikkan nada (titian tinggi), atau mengupas bagian samping bilah (pracal) untuk mendapatkan nada yang lebih rendah. Dengan membagi panjang bambu secara matematis menjadi empat titik ukuran tetap, seperti bilah 88 cm yang dibagi per 22 cm, atau bilah kecil 28 cm dengan jarak kelipatan 7 cm. Melalui teknis dipracal, bambu-bambu itu akhirnya melung (mengeluarkan suara yang nyaring) dan kemluntung, menghasilkan resonansi laras slendropelog yang presisi.
Di atas panggung pertunjukan Lengger Banyumasan, bertemulah seluruh untaian benang merah yang mengaitkan Pranata Mangsa, kepengrajinan Calung, dan ekspresi estetik manusia. Nada-nada yang keluar dari ketukan bilah Calung hasil rakitan Sukendar sejatinya adalah simfoni suara alam yang telah disublimasikan melalui sebuah pertunjukan seni. Ketika penonton menyaksikan kelincahan gerak penari Lengger dan mendengar resonansi kemluntung dari Calung tersebut, mereka tidak sekadar menikmati sebuah hiburan. Mereka sedang menyimak sebuah orkestrasi kosmik, di mana suara angin gunung, ketebalan serat bambu yang dipotong pada hari Sabtu Pahing, dan watak meteorologis Mangsa sepuh dihadirkan kembali secara komunal. Panggung kesenian tradisi berubah menjadi sebuah ruang ritual di mana batas antara yang profan dan yang sakral melebur; ia mengikat kembali kesadaran penontonnya bahwa ekspresi kesenian terbaik manusia agraris selalu lahir dari rahim kepatuhan dan penghormatan yang mendalam terhadap hukum-hukum alam semesta.
Maka dari itu, Calung dalam lanskap kebudayaan Banyumas musti dibaca sebagai sebuah perwujudan aksiologi ekologi. Sebuah nilai guna yang fundamental mengenai cara masyarakat agraris berkomunikasi dan memperlakukan alam sekelilingnya.
Calung bukanlah sekadar produk industri kreatif yang dinilai berdasarkan angka penjualan atau keindahan akustik semata. Ia adalah peranti spiritual tempat manusia menumpahkan harapan, ketakutan, dan rasa syukurnya kepada bumi. Mengikuti pemikiran ekologis Romo Sindhunata, Pranata Mangsa dan Calung mengajarkan kita bahwa alam memiliki suara, bahasa, dan kejiwaan yang bertalian erat dengan manusia. Melalui laku kepengrajinan yang sabar, manusia agraris menolak untuk bertindak serakah. Mereka tidak mengeruk bambu kapan saja sesuka hati demi memburu keuntungan finansial singkat. Melainkan menunggu alam memberikan sinyal kesiapannya melalui peredaran rasi bintang dan jatuhnya hari pasaran yang tepat. Calung adalah sebuah monumen hidup dari sebuah peradaban yang memposisikan dirinya setara sebagai kawan karib alam, sebuah bahasa cinta kebudayaan yang melantunkan harmoni, alihalih eksploitasi destruktif.
Sebagai simpulan, bahtera sejarah literasi dan estetika agraris yang tersimpan dalam resonansi bilah Calung kini tengah menghadapi hantaman badai kemodernan serta ancaman nyata perubahan iklim global. Seperti yang dikhawatirkan dalam catatan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada tahun 2007 dan refleksi ekologis, pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca yang menaikkan suhu bumi telah memorak-porandakan keteraturan tatanan musim yang selama ribuan tahun menjadi kompas para petani dan pengrajin. Ketika rasi bintang Waluku tak lagi selaras dengan jatuhnya air hujan, dan burung-burung pipit tak lagi membuat sarang di Mangsa Kapat akibat didera kepanasan ekstrem, maka kearifan lokal Pranata Mangsa terancam sirna menjadi sekadar fosil teknologi. Pudarnya pengetahuan ini secara otomatis akan mengikis spiritualitas bumi yang mengaliri jiwa para pengrajin seperti Sukendar, dan para petani.
Oleh karena itu, sebagai saran dan ikhtiar penyelamatan, diperlukan sebuah reposisi pandangan kebudayaan yang radikal. Upaya pelestarian Calung Banyumas tidak boleh berhenti hanya pada pelatihan memukul bilah atau pementasan festival-festival pariwisata artifisial. Kita musti mengembalikan ekosistem kebudayaan ini secara utuh: memperluas penanaman kembali bambu Wulung yang merupakan indigenous alam Banyumas, mendokumentasikan serta mengontekstualisasikan kembali kalkulasi astronomi Panata Mangsa di tengah krisis iklim. Serta menanamkan kembali “the spirituality of the earth” kepada generasi muda. Hanya dengan menjaga kerohanian bumi tetap hidup di dalam sanubari, kita dapat memastikan bahwa “Bahtera Mangsa” itu akan terus berlayar, dan bilah-bilah Calung di masa depan tetap mampu melantunkan sabda kemanusiaan, keagungan Tuhan dan kita tetap bisa bertemu dalam kelarasan dengan semesta.

Editor in Chief bilfest.id | Pekerja Teks Komersial.




