Bunyi Lift Menjadi Harapan Mahasiswa

Sore hari setelah ujian akhir semester berlangsung, suasana tampak sunyi imbas terkurasnya energi dan pikiran yang disalurkan untuk mengerjakan ujian. Sempat mengisi tenaga di kantin, diskusi hingga bergurai ramai terdengarnya saking asyiknya sampai hampir lupa jadwal bimbingan di sore hari, 3 jam sebelum azan magrib tiba. Berangkat lah kita dengan teman bimbingan yang sama. Sampai di gedung fakultas yang berdiri tidak lebih dari 3 lantai yang  terdapat fasilitas lift dengan bunyi alarm ketika tiba di lantai tujuan. Menyusuri lorong tembok yang cukup panjang duduklah di sebuah sofa berwarna coklat sambil menunggu.

Tak kuat rasanya tubuh ini menunggu dan berujung menggerakan kaki hingga anggota badan lainnya ke berbagai sudut fakultas, mencoba membaca buku yang sempat dibeli minggu lalu, memainkan ponsel genggam, dan melamun dari ketinggian lantai 3 melihat suasana di luar. Jam makin sore hari makin gelap tapi seseorang yang ditunggu belum kunjung datang karena ada kesibukan lain. Sebenarnya waktu janjian kita menggunakan waktu estimasi. Cuma dari kita saja yang bergerak menuju lokasi lebih awal – melakukan kebiasaan disiplin yang diajarkan sedari tingkat Sekolah Dasar. Bunyi lift setiap ada yang keluar masuk berbunyi, penuh harapan bahwa inilah saatnya yang ditunggu datang. Setiap lift itu berbunyi sontak semua mata mengarah menujunya berharap ada yang datang dari balik tembok itu. 

Bunyi alarm lift bukan hanya sekadar suara mesin, melainkan simbol harapan mahasiswa. Setiap dentingnya membawa kemungkinan akan hadirnya dosen yang dinanti, sejenak menghidupkan harapan di tengah penantian. Meski sering berakhir tanpa kepastian, bunyi itu terus memanggil keyakinan bahwa penantian tidak sepenuhnya sia-sia. Dalam proses akademik,  bunyi lift menjadi metafora harapan yang sederhana, rapuh, namun terus dipelihara. Bunyi mesin itu kerap menghadirkan harapan yang seketika tumbuh, seolah menandai kedatangan yang dinanti. Namun harapan itu serasa dipatahkan karena yang datang mahasiswa lain yang akan menyetorkan tugasnya atau seseorang yang memiliki kepentingan lain. Larut bersama lorong yang kembali sunyi dan waktu yang terus berjalan. Meski berulang kali tidak terpenuhi, bunyi lift tetap menjadi simbol harapan yang seakan hadir, menghilang, lalu muncul kembali dalam siklus penantian yang tak pasti. 

Bunyi lift sejatinya hanyalah suara mekanis yang menandakan pintu akan terbuka. Suara yang sama terdengar setiap hari, puluhan bahkan ratusan kali, tanpa memiliki makna khusus bagi sebagian besar orang. Teruntuk bagi seseorang yang memiliki-menaruh harapan bunyi itu menjelma menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekedar notifikasi kedatangan. Setiap kali suara itu terdengar, seakan dipaksa untuk berharap kembali. Berbagai kemungkinan muncul di dalam pikirannya, mungkin kali ini giliran dosen pembimbingnya yang melangkah keluar, mungkin berkas-berkas yang telah disiapkan akhirnya berpindah tangan untuk dikoreksi. Setiap denting seakan menyalakan kembali nyala kecil optimisme yang sempat redup di lorong fakultas yang sepi. 

Realitas sering kali menyuguhkan kejutan yang berulang. Ketika pintu lift terbuka dan langkah kaki yang terpantul bukan milik sosok yang ditunggu, kekecewaan kecil kembali menyusup. Harapan itu terhempas, berganti dengan helaan napas panjang dan pandangan yang kembali terlempar ke arah jam dinding. Anehnya, kekecewaan itu tak pernah benar-benar membunuh harapan. Begitu bunyi lift berikutnya bertaut di udara, kepala ini akan kembali menoleh secara refleks. Sebuah siklus penantian yang unik dihempaskan oleh kenyataan, lalu dibangunkan kembali oleh suara mekanis yang sama. 

Di balik dinding penantian itu, bunyi lift akhirnya mengajarkan sesuatu yang lebih mendalam tentang dinamika kehidupan akademis. Bahwa proses bimbingan bukan sekadar urusan revisi bab demi bab atau perburuan tanda tangan persetujuan. Lebih dari itu, ia adalah ruang latihan kesabaran dan ketahanan mental. Mahasiswa diajar untuk menghargai waktu, mengelola ekspektasi, serta berdamai dengan ketidakpastian tentang hal-hal yang tidak pernah tertulis dalam kurikulum. 

Pada akhirnya, bunyi lift itu bukan lagi sekedar penanda datang atau perginya seseorang. Bagi mahasiswa yang setia menunggu di lorong sunyi itu, bunyi lift adalah detak jantung dari perjuangan mereka sendiri. Ia adalah pengingat bahwa selama pintu itu masih terbuka, selama bunyi itu masih terdengar, harapan untuk menyelesaikan apa yang telah kita mulai akan selalu ada meski harus dilewati dengan seribu kali penantian.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top