Sebelum Sekolah Menyeragamkan Cara Mereka Belajar

“Sebelum sekolah mengajarkan mereka belajar, barangkali pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah belajar memang sesuatu yang harus terlebih dahulu diajarkan?”

Jauh sebelum mengenal ruang kelas, anak telah belajar memahami dunia melalui pengamatan, eksplorasi, percobaan, pertanyaan, dan interaksi dengan lingkungan. Ketika menemukan sesuatu yang menarik, muncul dorongan untuk mengetahui lebih jauh. Ketika sebuah percobaan tidak berhasil, anak dapat mengulang, mengubah cara, dan mencoba kembali. Proses tersebut berlangsung tanpa kurikulum tertulis, penilaian, maupun pembagian waktu belajar yang formal. Belajar, dengan demikian, bukan hanya aktivitas yang terjadi setelah seseorang menerima pengajaran.

Pandangan tersebut sejalan dengan konsep lifelong learning yang menempatkan pembelajaran sebagai proses yang dimulai sejak lahir dan berlangsung sepanjang kehidupan (UNESCO Institute for Lifelong Learning, 2022). Dalam pendidikan anak usia dini, pengalaman belajar juga tidak hanya dibentuk melalui pengajaran langsung. Bermain dapat memberi ruang bagi anak untuk terlibat secara aktif, mengambil inisiatif, serta mengembangkan agency, motivasi, dan regulasi diri yang mendukung kapasitas untuk terus belajar (Baker et al., 2023).

Sekolah kemudian hadir dengan fungsi yang berbeda. Belajar ditempatkan dalam lingkungan yang memiliki tujuan, waktu, materi, pendidik, dan penilaian. Struktur tersebut diperlukan agar pendidikan berlangsung secara terarah. Persoalannya bukan terletak pada keberadaan struktur, melainkan pada saat struktur mulai menentukan bahwa proses belajar harus berlangsung dengan cara yang semakin seragam.

Anak dapat memiliki ketertarikan, pengalaman, kemampuan, dan ritme belajar yang berbeda. Namun, pendidikan dapat terdorong untuk menetapkan apa yang harus dipelajari, kapan harus dipelajari, bagaimana prosesnya berlangsung, dan seperti apa keberhasilan seharusnya terlihat. Kesamaan memang dapat menciptakan keteraturan, tetapi tidak otomatis menghasilkan pengalaman belajar yang bermakna bagi setiap anak.

Di sinilah pembahasan tentang lifelong learner menjadi penting. Jika kemampuan untuk terus belajar bertumpu pada rasa ingin tahu, keberanian mencoba, keterlibatan aktif, dan kemampuan mengambil peran dalam proses belajar, maka pendidikan perlu mempertanyakan apakah kualitas tersebut tetap memiliki ruang ketika pengalaman belajar semakin terstruktur. Persoalannya bukan bagaimana sekolah membuat semua anak belajar dengan cara yang sama, melainkan bagaimana sekolah menjaga agar struktur pendidikan tidak mematikan dorongan anak untuk terus menjadi pembelajar.

Kesamaan Tidak Selalu Berarti Kesetaraan

Keseragaman dalam pendidikan tidak selalu lahir dari tujuan yang buruk. Sekolah tetap membutuhkan tujuan pembelajaran, waktu, kegiatan, dan ukuran perkembangan agar proses pendidikan dapat berlangsung terarah. Persoalan muncul ketika keteraturan tersebut bergeser menjadi anggapan bahwa anak dalam lingkungan yang sama juga harus belajar melalui proses yang sama.

Pada pendidikan anak usia dini, anggapan tersebut perlu dipertanyakan. Anak dapat mengikuti kegiatan yang sama tetapi memberikan perhatian, mengambil inisiatif, mengajukan pertanyaan, dan membangun pemahaman dengan cara yang berbeda. Penelitian menunjukkan bahwa pengalaman belajar anak dapat bervariasi bahkan dalam kelas yang sama, sehingga ukuran pada tingkat kelas belum tentu menggambarkan pengalaman setiap anak secara utuh. Temuan ini memperkuat pentingnya melihat anak bukan hanya sebagai bagian dari kelompok, tetapi sebagai individu yang mengalami proses belajar secara berbeda.

Karena itu, kesetaraan tidak harus berarti kesamaan. Kesempatan belajar yang setara tidak menuntut setiap anak memiliki ritme, cara, atau bentuk keterlibatan yang identik. Ketika kesamaan proses dijadikan ukuran utama, pendidikan berisiko lebih sibuk memastikan semua anak berada di jalur yang sama daripada memperhatikan bagaimana anak membangun hubungan dengan pengetahuan.

Perlawanan terhadap keseragaman bukan berarti menghapus struktur pendidikan. Yang perlu dipertanyakan adalah kapan struktur berhenti membantu anak belajar dan mulai menentukan bagaimana semua anak harus belajar.

Anak Perlu Ruang untuk Menjadi Pembelajar

Lifelong learner tidak cukup dipahami sebagai seseorang yang terus memperoleh pengetahuan. Lebih mendasar daripada itu, terdapat kemampuan untuk mempertahankan dorongan belajar sepanjang kehidupan. Rasa ingin tahu, keberanian mencoba, motivasi, kemampuan mengambil inisiatif, dan kesediaan untuk belajar dari pengalaman merupakan fondasi penting dalam membentuk kapasitas tersebut. Pada pendidikan anak usia dini, fondasi ini dapat tumbuh melalui pengalaman yang memberi anak kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam proses belajar. Baker et al. (2023) menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis bermain dapat mendukung agency anak melalui kesempatan untuk mengambil kendali, membuat pilihan, dan terlibat secara aktif, sekaligus mengembangkan motivasi dan regulasi diri yang berkaitan dengan pembelajaran sepanjang hayat.

Gagasan tersebut memiliki titik temu dengan pemikiran Harry Santosa mengenai fitrah belajar dan bernalar dalam Fitrah Based Education. Anak tidak diposisikan sebagai penerima pengetahuan yang harus terus diisi, melainkan sebagai individu yang memiliki potensi untuk belajar dan bernalar yang perlu ditumbuhkan melalui pendidikan (Santosa, 2017). Perspektif ini mengubah pertanyaan pendidikan dari sekadar apa yang harus diberikan kepada anak menjadi bagaimana lingkungan pendidikan menjaga dorongan anak untuk terus mencari tahu.

Persoalan muncul ketika proses belajar terlalu berorientasi pada hasil yang telah ditentukan. Anak memang tetap melakukan aktivitas belajar, tetapi ruang untuk menentukan arah, menguji kemungkinan, membuat kesalahan, dan menemukan sesuatu di luar rencana dapat semakin terbatas. Dalam kondisi seperti ini, bahkan bermain dapat kehilangan sifat eksploratifnya ketika seluruh aktivitas diarahkan terutama untuk mencapai target yang telah ditetapkan.

Namun, memberikan ruang kepada anak tidak berarti menghilangkan tujuan pembelajaran. Penelitian Agustini et al. (2024) pada anak usia 5–6 tahun menunjukkan bahwa pembelajaran sains berbasis inquiry dapat meningkatkan keterlibatan dan rasa ingin tahu anak. Temuan tersebut menunjukkan bahwa tujuan dan kebebasan tidak harus ditempatkan sebagai dua kutub yang berlawanan. Pendidikan dapat memiliki arah sekaligus memberi anak kesempatan untuk bertanya, mengamati, menguji, dan membangun pemahaman melalui pengalamannya sendiri.

Pada akhirnya, yang perlu dijaga sekolah bukan hanya apa yang berhasil diketahui anak, tetapi juga hubungan anak dengan proses mengetahui itu sendiri. Sebab pembelajar sepanjang hayat bukan hanya seseorang yang mampu menemukan jawaban, melainkan seseorang yang tetap memiliki alasan untuk mencari pertanyaan berikutnya.

Menjaga Struktur Tanpa Menyeragamkan

Perlawanan terhadap keseragaman tidak berarti anak dibiarkan belajar tanpa arah. Anak tetap membutuhkan lingkungan yang aman, pendampingan, stimulasi, dan tujuan pembelajaran. Yang perlu dipertanyakan bukan keberadaan struktur, melainkan seberapa jauh struktur memberi ruang bagi anak untuk tetap mengambil peran dalam proses belajarnya. Baker et al. (2023) menunjukkan bahwa struktur dan agency tidak harus dipertentangkan. Struktur dapat memberi kerangka bagi pengalaman belajar, sementara anak tetap memiliki ruang untuk mengambil inisiatif. Temuan systematic review dan meta-analysis Skene et al. (2022) juga menunjukkan bahwa guided play, yang memadukan tujuan pembelajaran dengan pilihan dan agency anak, dapat memberikan manfaat pada sejumlah kemampuan belajar dibandingkan pengajaran langsung atau bermain bebas.

Dengan demikian, guru tidak harus menentukan seluruh proses belajar, tetapi dapat menyiapkan lingkungan, memberi pertanyaan pemantik, mengamati respons anak, lalu menyesuaikan pendampingan. Dua anak dapat mengikuti pengalaman yang sama dan tetap menghasilkan pertanyaan, pemahaman, atau strategi yang berbeda. Perbedaan tersebut tidak selalu menunjukkan kegagalan, tetapi dapat menjadi bagian dari proses anak membangun hubungan dengan pengetahuan.

Sekolah, dengan demikian, tidak perlu menciptakan lifelong learner dari awal. Tugas yang lebih mendasar adalah menjaga agar proses pendidikan tidak mengikis dorongan untuk mengetahui, mencoba, dan bertanya yang telah tumbuh sebelum anak mengenal sekolah.

***

Pendidikan yang mendukung lifelong learner bukan pendidikan yang membuat semua anak belajar dengan cara yang sama. Struktur tetap diperlukan, tetapi struktur seharusnya memberikan arah tanpa berubah menjadi cetakan. Yang perlu dipertahankan bukan kesamaan proses, melainkan kesempatan setiap anak untuk tetap terlibat dalam proses belajarnya serta memiliki ruang untuk berkembang melalui cara yang sesuai dengan pengalaman dan kebutuhannya.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bukan hanya dapat dilihat dari apa yang mampu dijawab anak setelah belajar, tetapi juga dari apakah anak masih memiliki keinginan untuk bertanya setelah jawaban ditemukan. Sebab sekolah tidak harus menciptakan anak yang baru belajar. Sekolah perlu memastikan bahwa anak yang sudah memiliki dorongan untuk belajar tidak kehilangan dorongan tersebut selama berada di dalamnya.

Daftar Bacaan:
– Agustini, R., Meilanie, R. S. M., & Pujiastuti, S. I. (2024). Enhancing critical thinking and curiosity in early childhood through inquiry-based science learning. Aulad: Journal on Early Childhood, 7(3), 734–743. https://doi.org/10.31004/aulad.v7i3.780
– Baker, S. T., Le Courtois, S., & Eberhart, J. (2023). Making space for children’s agency with playful learning. International Journal of Early Years Education, 31(2), 372–384. https://doi.org/10.1080/09669760.2021.1997726
– Santosa, H. (2017). Fitrah based education (Version 3.0): Sebuah model pendidikan peradaban bagi generasi peradaban menuju peran peradaban. Yayasan Cahaya Mutiara Timur.
– Skene, K., O’Farrelly, C. M., Byrne, E. M., Kirby, N., Stevens, E. C., & Ramchandani, P. G. (2022). Can guidance during play enhance children’s learning and development in educational contexts? A systematic review and meta-analysis. Child Development, 93(4), 1162–1180. https://doi.org/10.1111/cdev.13730
– UNESCO Institute for Lifelong Learning. (2022). Making lifelong learning a reality: A handbook. UNESCO Institute for Lifelong Learning.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top