
“Santri kabur dari pesantren”, “santri diam-diam membawa ponsel”, “santri malas-malasan”. Berita semacam ini nyaris menjadi agenda tahunan di berbagai pesantren. Saat kabar ini sampai ke telinga wali santri dan masyarakat, mereka spontan menyalahkan santri itu dan menganggap sebagai sumber masalah yang ada. Bahkan sebagian ustadznya sependapat dengan mereka. Tapi benarkah kedisiplinan hanya soal niat dan kesadaran santri secara pribadi? Sesederhana itukah?
Ada alasan kuat mengapa argumen ini mudah diterima. Di pesantren, disiplin melekat erat dengan konsep kesadaran, keikhlasan, dan perjuangan santri dalam menempa diri. Sehingga ketika ada santri yang melanggar aturan, narasinya hampir selalu sama: “santri itu belum sadar”, “kurang niat”, “kurang ikhlas”, dan lain sebagainya.
Argumen ini punya bukti yang tidak bisa dibantah karena sesuai dengan faktanya. Misalnya dalam satu kamar yang sama, jadwal yang sama, dan pengawasan yang sama, belum bisa menjadi tolok ukur bahwa santri yang di dalam kamar tersebut memiliki jiwa kedisiplinan yang sama, tetap ada yang melanggar. Jika dilihat dari sudut pandang seperti ini, wajar jika faktor pribadi dianggap sebagai variabel penentu.
Namun perlu diketahui, kesadaran jarang terlahir dari ruang hampa. Sebagian besar santri yang masuk pesantren bukan atas kemauan mereka sendiri, melainkan keinginan orang tua dengan harapan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Ibaratkan kesadaran itu adalah benih yang dititipkan orang tua sejak awal. Persoalannya tidak lagi dari mana benih itu berasal, tapi bagaimana benih itu bisa tumbuh di tempat baru dengan kondisi yang berbeda. Sama halnya dengan tuntutan orang tua. Bagaimana tuntutan itu berubah menjadi keyakinan dan kesadaran yang tertanam dalam hati anaknya bukan sekadar menyenangkan hati orang tua.
Tapi ada bagian penting yang nyaris tidak tersentuh dan terlupakan setiap kali persoalan santri muncul ke permukaan. Jika hal ini murni soal niat individu, mengapa polanya terus berulang dari generasi ke generasi? Padahal tidak ada konsistensi mindset pada santri setiap generasi, ada yang mindsetnya sudah terbentuk kuat sejak dari rumah karena keluarga yang taat, ada yang biasa saja, ada pula yang mindset kedisiplinannya belum terbentuk sama sekali karena datang dari lingkungan yang keras. Kalau disiplin murni soal mindset pribadi, semestinya polanya acak dan bukan berulang tahun demi tahun. Pola yang konsisten macam ini justru mengarah ke satu hal yang sama di setiap generasi: sistemnya.
Dari sinilah sistem perlu dipertanyakan. Sebagian besar pesantren masih menjalankan pola pengawasan represif ketimbang edukatif. Peraturan yang hanya memberikan hukuman tanpa ada penjelasan di dalamnya, membuat santri menyimpulkan bahwa kedisiplinan ditegakkan oleh hukuman. Akibatnya, santri patuh bukan karena memahami bahwa peraturan itu penting, tetapi karena rasa takut terhadap hukuman.
Pendekatan yang seragam ini diperparah oleh satu hal lagi: nyaris tidak ada ruang dialog. Santri datang dari latar belakang keluarga hingga kondisi psikologis yang berbeda, tapi diperlakukan sama dengan satu pendekatan kepada seluruh santri. Padahal jelas kebutuhan mereka berbeda-beda. Ketika santri melanggar peraturan, jarang adanya proses menggali alasan di baliknya. Justru yang kerap terjadi adalah pemberian hukuman tanpa upaya memahami akar masalahnya.
Bicara soal kelelahan, ini juga bagian yang sering luput dari perhatian dan tidak bisa diremehkan, bayangkan santri mulai menjalani rutinitasnya dari subuh bahkan sebelum subuh sampai larut malam tanpa jeda yang cukup. Hal ini bisa membuat santri stres. Dalam kondisi seperti ini, pelanggaran kecil yang dilakukan santri bukan lahir dari niat buruk, tetapi dari fisik dan pikiran yang lelah.
Dan di balik semua itu, ada satu faktor yang menentukan apakah sistem ini dipercaya atau tidak yaitu keteladanan. Ketika pengurus hanya menyampaikan peraturan tanpa ikut menjalankannya, santri menangkap bahwa ketimpangan jelas ada sehingga muncul rasa tidak adil dan iri yang akhirnya justru mendorong mereka melanggar aturan yang sama.
Dua argumen ini tidak bisa dijadikan saingan yang akan kalah salah satu. Karena keduanya adalah dua sisi yang saling membentuk. Mindset baik tanpa didukung oleh sistem yang baik, tidak akan terwujud. Sama halnya dengan sistem yang baik tanpa diikuti mindset santri yang baik tidak akan berjalan. Ibaratnya mindset adalah benih dan sistem adalah tanah. Benih yang bagus tidak akan tumbuh di tempat yang gersang, begitu juga tanah yang subur tidak akan menghasilkan tanaman unggul jika benihnya jelek.
Oleh karena itu, dari segi mindset perlu dilakukan pendampingan untuk mengenali karakter setiap santrinya secara personal. Supaya sistem yang diberikan bisa disesuaikan berdasarkan karakter dan kebutuhannya. Hal ini lebih efektif daripada satu pendekatan yang dipukul rata untuk semua santri.
Dari segi sistem, pesantren perlu menggeser pola pengawasan menjadi berbasis edukasi dan kesadaran. Ini bisa dimulai dari hal sederhana seperti perlakuan sistem kepada masing-masing santri sesuai karakter dan kebutuhannya, memberi ruang dialog sebagai keluh kesah santri, menyelipkan kegiatan have fun diantara padatnya rutinitas supaya santri tidak merasa jenuh dan kelelahan. Selain itu, keteladanan dari para pengurus juga menjadi kunci. Santri akan lebih mudah menginternalisasikan disiplin ketika mereka melihat peraturan yang dipraktikkan langsung oleh pengurus sebagai figur terpandang di kalangan santri, bukan hanya sekadar omongan.
Kesimpulannya, argumen yang menyatakan bahwa mindset santri sebagai sumber masalah dalam hal kedisiplinan adalah jawaban yang terlalu cepat dan mudah. Padahal, dibalik pelanggaran kecil yang dilakukan santri pasti ada sistem yang turut membentuknya mulai dari cara pengawasan, ruang dialog, beban rutinitas yang ditanggung, hingga pengurus yang dijadikan contoh oleh santri dalam menerapkan peraturan pesantren. Pesantren yang bijak bukanlah pesantren yang mengklaim dirinya sudah sempurna dalam menegakkan disiplin, melainkan pesantren yang berani mengakui masih belajar, mau duduk bersama santrinya, mendengar keluh kesahnya, dan memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Hingga pada akhirnya, disiplin sejati akan tumbuh bukan dari rasa takut tapi dari ruang yang memberikan kesempatan untuk saling memahami.
Dewi Anjani Seorang mahasiswi UIN SAIZU Purwokerto asal Kebumen. Sebagai penikmat kata, ia percaya bahwa setiap kata memiliki kekuatan untuk membangun pemahaman, bahkan mengubah perspektif. Bisa disapa melalui Instagram: @njann_y




