Pseudo-esei ini Tentang Apa?

Siang ini, selepas dzuhur, saya menemukan sebuah pos di Instagram yang berisi potongan wawancara The Verge dengan Werner Herzog. Tentu saja saya tidak melanjutkan pembacaan saya dengan membuka wawancara lengkapnya. Saya malah membuka Google Docs dan menuliskan pseudo-esei ini. Ya. saya kerap salah mengingat aksara terakhir dari namanya itu. Saya selalu mengira itu adalah sebuah q. Saya tidak tahu banyak tentang dirinya. Bisa jadi satu atau beberapa film karyanya telah saya tonton. Bisa jadi belum. Yang jelas wajahnya familiar. Dan yang jelas, dari pengetahuan saya yang tipis itu, setahu saya, dia pernah berjalan kaki dari Munich ke Paris. Serius, Anda mungkin akan selalu sekecewa ini saat membaca tulisan saya, karena saya hampir selalu lebih memilih menuliskan segala sesuatu dari ingatan belaka—inilah mungkin yang dirasakan Tino tiap kali saya mengganggu malam-malamnya yang seharusnya dapat dipergunakannya untuk beristirahat.

Tentu saja yang saya bicarakan adalah ingatan saya. Segala hal yang bisa Anda cek sendiri di internet ya itu urusan Anda. Mengapa harus saya yang capek melayani keantusiasan Anda. Kita bahkan suami istri. Dan bisa jadi Anda adalah seorang lelaki. Dan ya, saya yakin, besar kemungkinan saya sendiri salah besar saat saya mengasumsikan Anda antusias saat membaca tulisan ini.

Potongan wawancara pada pos tersebut menarik memori saya ke beberapa tahun yang lalu. Saat itu saya sedang keranjingan bermain Pokemon GO. Iya, saya tahu seharusnya Pokémon GO. Saat menuliskan segala sesuatu, satu hal yang kurang menyenangkan adalah membayangkan nazi bahasa seperti Anda sebagai salah satu orang yang akan membaca tulisan saya.

Anda bisa jadi akan mendecakkan lidah dan berpikir, seharusnya yang barusan adalah grammar nazi. Anda memang tipe orang yang pantas di-sleding kepalanya. Sungguh. Pokemon GO adalah salah satu anomali yang saya rasakan dalam hidup saya. Gim tersebut adalah alasan saya membeli powerbankpowerbank pertama yang saya miliki. Biasanya saya tidak dapat menikmati hal-hal yang dinikmati oleh khalayak ramai atau orang-orang di sekeliling saya.

Pada banyak kesempatan, saya justru sengaja menghindari segala hal semacam itu, terutama saat saya berusia dua puluhan. Saat itu, mengikuti tren adalah dosa. Walaupun saya juga tidak dapat mengklaim kalau saya tahu banyak hal yang tidak diketahui banyak orang. Selain karena batas usia kita sebagai manusia tidak mendukung akumulasi pengetahuan semacam itu, pada satu titik dalam kehidupan saya, saya merasa mantap melepaskan topi ke-hippie-an semacam itu dan mencoba menyukai banyak hal yang disukai banyak orang.

Ternyata upaya conformity semacam itu adalah hal yang sulit dilakukan dan dapat membuat diri mengalami kekaburan identitas. Padahal identitas sangat berkaitan dengan hal-hal yang kita yakini. Mungkin karena kegagalan itulah, saya juga akan selalu gagal memberikan jarak saat menulis fiksi berupa kisah pendek. Disadari atau tidak, segala yang sifatnya personal akan terekam di sana, sedikit atau banyak.

Saya ingat, seorang kawan di kelas saya—atau lebih tepatnya ketua kelas saya, atau mantan ketua kelas saya, saya lupa apakah dia masih ketua kelas atau bukan pada saat itu—mengajak kami para Pokemon GO enthusiast untuk berburu pokemon bersama. Sebuah ajakan menghabiskan sore yang sangat menarik. Ajakan yang sama menariknya dengan ajakan yang akan saya dapatkan beberapa tahun setelah itu, ajakan menggempur Tevyat dari Mas Jati dan Mas Harry sambil menunggu datangnya waktu berbuka puasa. Sore itu, saya mendatangi kawan saya itu di depan tugu dekat SMA 1 Purwokerto dan gedung eks karesidenan. Kalau memori saya betul adanya, tidak ada kawan lain yang datang. Saya tidak dapat mengingat hal-hal yang kami bicarakan sore itu. Yang saya ingat adalah saya mendapatkan pikachu pertama saya di sebelah utara alun-alun Purwokerto. Tepatnya di bawah pohon beringin, saat gerimis mulai turun melanda.

Kawan saya baru mendapatkan pikachu-nya beberapa belas menit kemudian di dalam masjid alun-alun, beberapa puluh detik setelah iqomah. Para jamaah sudah berjejer rapi di barisan depan. Saya ingat seorang bapak-bapak yang melewati kami—yang masih duduk jauh di belakang dengan perasaan amazing—melirik kami dengan tatapan kurang berkenan. Maafkan saya karena saya tidak mengingat nama masjid itu. Satu-satunya nama masjid yang saya ingat di Purwokerto hanyalah Masjid Fatimatuzzahra. Saya masih ingat makan siang saya bersama Adi Hayu di dekat masjid itu tidak terasa seenak biasanya karena siang itu saya gagal mendapatkan sebungkus rokok dari warung yang buka sekitar sana. 

Bisa jadi Kaset Pita Takdir Lokananta saya tulis karena momen gerimis di bawah pohon beringin itu. Walaupun ya, pada saat saya menemani istri saya ke alun-alun itu pada tanggal 20 Juni malam setelah acara di belakang eks karesidenan, saya tidak menemukan pohon beringin yang ada dalam ingatan saya. Mungkin memang isi kepala saya yang suka mendramatisasi.

Bisa jadi sore hari saat saya mendapatkan pikachu itu pun, tidak ada gerimis yang turun. Bisa jadi kisah pendek tersebut adalah sebuah buih yang lahir dari keterkesanan saya dengan Conundrum-nya The SIGIT. Ya ada pohon banyan pada lagu tersebut. Saya tidak pernah mengecek padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Saya hanya membayangkan saja itu adalah sebuah pohon beringin. Mengapa kita harus mengecek segala sesuatu saat kita tidak diburu keharusan untuk melakukannya? Ini bukan soal tauhid kan?

Hingga saat ini banyak sekali lagu yang saya sukai yang tidak pernah saya perhatikan lirik sesungguhnya dan juga maknanya. Besar kemungkinan saya banyak salah paham. Namun, untuk memahami dengan benar bukan tugas saya. Anda yang pernah membaca tentang konsep misreading tentu akan mendukung dan dapat menjelaskan kalimat saya persis sebelum kalimat ini dengan lebih baik.

Oleh karena itu, jawaban seorang pedagang buku di basement Blok M Square—yang kemungkinan besar adalah Ziarah Buku—saat saya mencari buku Saut Situmorang beberapa belas tahun lalu terdengar sangat menyebalkan. Dia saat itu kurang lebih menyatakan kalau mau tahu isi bukunya tanya saja ke orangnya. Orangnya masih hidup kan, demikian katanya. Demikian juga penjelasan soal Tambera, yang kalau tidak salah—menurut Bung Dodit—ada dalam Di Bawah Langit Tak Berbintang

Menurut saya, seorang penulis fiksi tidak boleh overexplain dalam menjelaskan simbol-simbol yang digunakannya. Menemukan makna, pesan terbuka maupun tersembunyi, asonansi maupun disonansi, yang secara sadar maupun tidak sadar diletakkan seorang pencipta adalah adalah kesenangan milik pembaca. Sementara itu, membaca interpretasi pembaca atas sesuatu adalah bentuk kesenangan yang lain lagi, milik pembaca yang lain lagi, yang tidak melulu si pencipta.

Membaca interpretasi Nabokov bahwa Gregor Samsa sebenarnya seekor kumbang yang bersayap, yang dapat terbang dari kamarnya, adalah sesuatu yang menyenangkan. Bukan katarsis, tetapi itu sungguh hal yang menyenangkan. Demikian juga membaca pencarian pemahaman yang dilakukan Werner Herzog atas Pokemon Go adalah sesuatu yang menyenangkan. When two persons in search of a pokemon clash at the corner of Sunset and San Vicente is there violence? Is there murder? Wkwkwk. Allah begitu baik memberikan hiburan serenyah ini hari ini, tidak seperti saya yang tidak memberikan apa-apa kepada Anda dalam pseudo-esei ini. 

Pseudo-esei ini tentang apa? Mengapa esei, dan bukan esai? Apakah Muhidin dalam Esai itu Gaya Menulis “Bukan-Bukan” sudah tepat, bahwa:

Oleh karena itu, jika esai diandaikan seperti gaya hidup, maka gaya hidup yang tak linier, penuh kejutan, mencoba-coba seperti coba sana coba sini sebagaimana para perintis usaha, dan tak melupakan kesenangan setelah bekerja sangat keras, adalah gaya hidup seorang esais.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top