Coffee Shop di Purbalingga: Gaya Hidup Anak Muda serta Peluang Lapangan Kerja Baru buat Suami Berlabel “Pamong Praja”

Melihat sat-setnya pembangunan coffee shop di Purbalingga seperti nostalgia ke zaman Roro Jonggrang yang minta dibangunkan seribu candi dalam satu malam. Ibaratnya, ketika kita melintas di malam hari masih tampak ada ruko/rumah tidak terpakai di pinggir jalan, besok sorenya sudah launching coffee shop baru. 

Geliat ekonomi kreatif lewat UMKM coffee shop di Purbalingga kini sedang naik daun. Konsep dan latar tempatnya pun beragam. Ada yang dari di rooftop, di ruko, di bak mobil, di atas motor/ontel, di taman kota, alun-alun, teras rumah, sampai yang kursi-kursinya menaiki-memenuhi dan memanjang di trotoar jalan umum. 

Di malam hari barisan kursi-kursi coffee shop di Purbalingga terpantau ramai oleh anak muda. Sebagai warga naturalisasi dari kota Surabaya, in a place like Purbalingga, hal ini sungguh janggal.

Gaya Hidup vs. Biaya Hidup

Mohon izin, warga lokal. Saya tidak bermaksud mengerdilkan, apalagi mengomparasi antara satu daerah dengan yang lainnya dengan nada sinis. Tapi lebih ke heran, padahal gaya hidup ngopi di coffee shop itu tidak murah, jika dibudayakan anak muda yang tinggal di Purbalingga—salah satu kabupaten yang UMK-nya imut di Jawa Tengah, tapi biaya hidupnya sudah hampir mirip ibu kota provinsinya, Semarang. 

Harga nasi goreng seporsi saja sudah 15 ribu. Harga ini juga bersaing dengan harga nasi goreng di tempat tinggal saya sebelumnya, Surabaya. Kalau gaji UMK Purbalingga, tapi biaya dan gaya hidupnya ibukota, apa iya mereka (anak muda Purbalingga/pebege) tidak tergoda pinjol dan judol? Lain cerita jika kerjanya di Purbalingga, tapi gajinya UMK ibu kota.

In this economy, gaya hidup masyarakat (dibaca: “pasar”) nyaris selalu punya potensi untuk jadi mesin cuan bagi UMKM. Sebagai warga ber-KTP pebege yang masih magang, saya mengamati bahwa sebagian besar anak muda yang suka njagong di coffee shop berada di rentang usia SMA dan mahasiswa.

Jika rata-rata pendapatan orang tuanya yang ber-UMKpebege dialokasikan untuk biaya ngopi anaknya saja, jelas tidak realistis. Ini seperti bukan lagi sekadar urusan minum kopi. Ada semacam kontras gaya hidup yang berhadapan dengan kenyataan.

Sedangkan dari sisi pelaku UMKM, faktanya hal ini menjadi tren yang positif. Sebagian besar coffee shop lebih memilih berlomba-lomba mendesain tempatnya agar jadi storyable di medsos, ketimbang menyediakan buku-buku dan ruang diskusi yang dekat dengan isu keseharian masyarakat lokal.

Ditambah lagi, budaya mabar yang jamak kita temui di kalangan mereka, juga jadi pertimbangan sebagian pelaku UMKM untuk menyediakan koneksi Wi-Fi yang kenceng dan sudut-sudut colokan yang reachable.

Di satu sisi, gaya hidup semacam ini akan jadi mesin yang mendorong UMKM untuk berlomba-lomba memberi special treatment bagi sebagian anak muda. Imbasnya, menurut Dinpertan Purbalingga tahun 2025, dulu harga kopi Arabika Purbalingga masih di kisaran 18-20 ribu per kilo. Sekarang per kilo bisa mencapai 55-85 ribu. 

Di sisi lain, di balik meja pelayanan kopi modern ini ternyata bisa jadi salah satu media alternatif penyedia lapangan kerja yang sangat dibutuhkan hari ini, khususnya bagi laki-laki usia menikah di Purbalingga.

Sinyal Positif Hadapi “Pamong Praja”?

Istilah plesetan “Papa Momong Mama Kerja” (Pamong Praja) di Purbalingga menggambarkan relasi antara sosok suami yang cenderung aktif secara dominan di ruang domestik, seperti mengerjakan pekerjaan rumah, termasuk mengasuh anak. Sedangkan perempuan, lebih banyak di ranah publik untuk bekerja, bahkan menjadi penyedia utama kebutuhan keluarga. 

Sosok suami yang seperti ini cenderung dipandang negatif oleh sebagian masyarakat, karena laki-laki yang mestinya memenuhi nafkah keluarga, bukan istri.

Saya memandang fenomena sosiologis ini bisa dipahami dari dua wajah yang berbeda, tetapi masih dalam satu uang koin: ia akan jadi baik jika orang yang melihatnya baik, dan akan jadi buruk jika yang melihatnya  juga demikian.

Izinkan saya mengajukan pertanyaan dengan nada lembut. Memangnya kenapa kalau seorang Papa/Ayah momong dan Mama/Ibu bekerja? Sedangkan keterlibatan Ayah dalam pengasuhan anak akan mempercepat pertumbuhan anak. Apalagi, mayoritas orang Purbalingga tahu kalau kabupatennya tidak terlalu ramah bagi pencari kerja laki-laki. 

Selain itu, apakah kebahagiaan rumah tangga selalu bisa ditentukan oleh pembatasan ruang gerak semacam itu? Bukankah benar menurut ahli ketahanan keluarga yang mengatakan bahwa kesalingan peran pasutri-lah yang membuat relasi jadi seimbang? Bukankah keseimbangan itu yang jadi ideal?

Selama hampir sewindu terakhir, catatan angka perceraian oleh BPS Purbalingga konsisten berada di atas angka 2100 per tahun, dan konsisten bertahan di peringkat tiga untuk jumlah perceraian terbanyak di Jawa Tengah. Sebagian besar musabab perceraian didominasi oleh gugatan cerai dari pihak istri yang mengaku terbelit masalah ekonomi. Dengan kata lain, pendapatan suami tidak cukup, bahkan tidak ada karena terlibat penuh di ruang domestik yang non-profit oriented. Atau lebih parahnya, terlilit utang akibat kalah judol.

Boleh jadi, membuka lapangan kerja baru dari balik meja pelayanan coffee shop bisa menekan angka perceraian, karena mayoritas tim kerja coffee shop adalah laki-laki muda yang berada di kisaran usia rata-rata menikah orang Indonesia. Boleh jadi, ini sinyal positif untuk menjawab keresahan terhadap fenomena sosiologis pamong praja, khususnya di Purbalingga. 

Di sisi lain, pengkaderan barista lewat kelas-kelas gratis/berbayar juga jadi momen penempaan kompetensi yang organik nan ciamik bagi anak muda lokal. Lebih efektif ketimbang menunggu kelas gratis dari pemkab yang info pembukaannya sulit ditebak. Kalaupun dibuka, kuotanya sangat minim. 

Tapi jika peserta kelasnya kemudian jadi barista, apakah mereka sudah diupahi secara layak sesuai dengan beban kerjanya? Lagi-lagi, anak muda Purbalingga harus berhadapan dengan isu kelayakan upah kerja dan gravitasi iming-iming gaya hidup serba gengsi.

Khutbah Ringan Sekaligus Kesimpulan

Jamaah ngopi yang berbahagia, sesuatu yang berlebih-lebihan tentu tidak baik, kan? Rutinitas ngopi di tempat mahal, apalagi jika tidak digunakan untuk berkarya/bekerja, justru malah berpotensi sebagai bentuk pemborosan uang dan waktu. 

Makanan dan minuman yang halal bukan cuma soal tidak adanya kandungan babi atau alkohol padanya. Hal ini juga bisa dikatakan baik (thayyib) jika mencakup etika produksinya: Apakah ada eksploitasi tenaga kerja barista (upah murah) dan harga beli pasar yang merugikan petani kopi di dalam ekosistem coffee shop? Tampaknya kita juga perlu melihat rantai pasok (supply chain) kopi ini secara etis dari hulu ke hilir.

Sebuah ajakan yang tulus teruntuk anak muda pebege agar mulai memilih coffee shop yang mengupahi tim kerjanya secara layak, adil pada petani lokal, menghidupkan kembali diskusi komunal yang bermutu di meja kopi, dan tetap menjejak pada realitas sosial sekitar.

Hemat saya, dinamika pasar dan sosial ini akan jadi lebih baik jika didukung oleh kolaborasi antar-entitas di dalam ekosistemnya, termasuk dengan regulasi yang strategis agar manfaatnya semakin jelas, meluas, dan berkelanjutan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top