
Aku menulis ini dan memublikasikannya di bilfest.id untuk dibaca oleh kalian, orang-orang di tahun 2036.
Jika masih ada Netflix di tahun ini, tontonlah serial korea berjudul Squid Game. Serial itu mulai tayang tahun 2021, ya, dua puluh lima tahun yang lalu. Serial itu terlihat ceria dan penuh warna. Menampilkan permainan anak-anak, kostum yang lucu, musik yang menyenangkan. Namun, di balik itu semua, serial itu bercerita tentang kerakusan.
Kehidupan sangat sulit, banyak orang berhutang dan tidak mampu membayar, kriminalitas di mana-mana, dan ini yang paling menyebalkan: sulit sekali mencari pekerjaan dan mendapatkan uang. Di tengah sulitnya menjalani hidup itu, ada sebuah undangan bermain yang hadiah utamanya tidak main-main yaitu 45,6 miliar won. Jika dikonversi ke rupiah maka nilainya sekitar 500 miliar. 456 orang mulai bermain bersaing, dan mempertaruhkan nyawa mereka. Kekalahan dalam serial ini, berarti mati. Mati dalam arti yang sesungguhnya. Dan epiknya, ada orang-orang kaya yang duduk menonton mereka, menjadikan orang miskin sebagai hiburan. Kesengsaraan mereka dipertontonkan. Rasa takut, putus asa, dan perjuangan untuk bertahan hidup menjadi tontonan yang memuaskan sekelompok VIP yang bahkan tidak mengenal nama para pesertanya.
Di dalam permainan itu juga ada orang-orang yang sekedar menjalankan perintah. Mereka ini adalah staf bertopeng dengan seragam berwarna merah muda. Mereka sangat patuh pada sistem. Meski (mungkin) hati nurani mereka menolaknya. Kepatuhan mutlak mereka dibangun di atas sistem yang ketat dan ancaman hukuman mati. Aturan utama mereka adalah tidak boleh melepas topeng dan dilarang berbicara dengan peserta maupun sesama penjaga tanpa izin. Ada pula yang memanfaatkan sistem untuk keuntungan pribadi, seperti staf yang diam-diam memperjualbelikan organ tubuh peserta yang telah mati.
Saat pertama kali menontonnya, banyak orang menganggap semua cerita dalam Squid Game itu hanyalah fiksi. Satir yang berlebihan. Mustahil terjadi di dunia nyata. Namun, hari ini, ketika aku menulis ini di tahun 2026, aku melihat squid game tidak lagi menjadi fiksi.
Semenjak dilantik menjadi presiden tahun 2024, Prabowo Subianto meluncurkan program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Dan di tahun inilah koperasi desa merah putih massif dibangun hampir di seluruh desa/kelurahan seluruh Indonesia. Ratusan lulusan sarjana direkrut menjadi calon manajer. Sebuah kesempatan kerja yang tentu sangat dinantikan di tengah persaingan yang semakin sulit. Tetapi setelah dinyatakan lolos mereka diwajibkan mengikuti latihan dasar militer (latsarmil) selama satu setengah bulan. Di tengah proses itu, lima orang dilaporkan meninggal dunia.
Aku tidak sedang mengatakan bahwa program ini sama dengan serial Squid Game. Tentu keduanya memiliki konteks yang berbeda. Namun, ada satu pertanyaan yang terus mengganggu. Mengapa untuk mendapatkan pekerjaan, orang muda harus mempertaruhkan tubuh mereka sedemikian jauh? Mengapa kesempatan kerja terasa begitu langka hingga apapun syaratnya akan dijalani? Kapan kita mulai menganggap risiko seperti itu sebagai sesuatu yang wajar? Yang paling menakkutkan bukan ketika orang rela mengambil risiko, tapi ketika seluruh masyarakat mulai menganggapnya normal. Apalagi hanya sekedar angka. Di situlah aku seperti melihat squid game.
Sebuah sistem yang membuat begitu banyak orang muda merasa bahwa apapun akan mereka lakukan demi mendapatkan pekerjaan. Dan ketika itu terjadi, kita patut bertanya: apakah martabat manusia masih menjadi tujuan utama, atau perlahan-lahan telah berubah menjadi sesuatu yang bisa dipertaruhkan demi mempertahankan hidup?
Semoga ketika kalian membaca tulisan ini di tahun 2036, pertanyaan-pertanyaan itu sudah menemukan jawaban yang lebih baik daripada yang kami miliki hari ini.

Penggagas Banyumas International Literacy Festival dan pendiri Penerbit Omera Pustaka. Ia aktif mengembangkan ruang-ruang literasi berbasis komunitas dan ekonomi kreatif, termasuk program-program seperti Wayang Bebek, Panggung Penulis & Sastrawan Banyumas, dan Sekolah Melukis. Dalam kesehariannya, Rahmi sangat berminat dengan ide dan gagasan manusia, baik di panggung maupun dalam obrolan, baginya menarik untuk didengar dan dibagikan. Temui Rahmi di Instagram: @rahmiwijayanti




