
Menyimpan yang Lain
Membuka layar maya.
Menatap layar persegi panjang itu.
Jari mencari
yang terbaru, yang pantas di pampang
kepada mata-mata yang tak pernah kenyang.
Terbaca di sudut kiri bawah:
yang tren hari ini.
Foto diri,
yang tersayang,
makanan kesukaan,
tempat favorit,
dan pertanyaan tidak penting yang tersimpan di ponsel.
Saat ini bulan Maret,
tetapi pencarian
mencari foto diri
sudah sampai Agustus tahun lalu—
dan masih juga tidak menemukan.
Bahkan foto buruk pun tak ada.
Sudah lama rupanya
aku tak mengabadikan diri.
Menyimpan yang lain,
tetapi tidak dengan diriku.
Ke mana diriku?
Sejak kapan
aku berhenti menyimpannya?
Diri yang tertimbun
suara token listrik
dan slip pembayaran spp anak.
Ah, ini dia.
Akhirnya kutemukan
foto diri itu—
April tahun lalu.
Apa kabar, diriku?
***
Seblak, Dinosaurus, dan Cucian yang Sabar
Malam sudah jatuh,
hampir longsor digerus pagi,
saat Ibu menikmati detik-detik kecil kebahagiaannya
dengan mata panda di bawah mata.
Setumpuk pakaian di bak cuci
menunggu dengan sabar,
seolah sedang berdiskusi
tentang kapan mereka akan mandi pagi.
Ada segerombolan dinosaurus di teras rumah,
siap menyerbu kapan saja.
Televisi tertawa,
mengiringi sofa
yang dijadikan tempat tidur
oleh lembaran kerja
yang belum usai.
Rumah sangat ramai.
Sesak.
Namun keramaian itu
tak mampu menembus ruang tidur.
Ruang tidur sepi?
Tentu tidak.
Hahaha.
Ruang tidur juga ramai,
bahkan bising sekali.
Gemuruh dengkuran Papa
setelah bernyanyi satu album penuh
untuk menidurkan Kala,
buah hati mereka.
Kala lelap tanpa gelisah.
Napas kecilnya bersaing
dengan dengkuran Papanya.
Ibu tertidur
dengan tawa yang masih hangat
di ingatannya.
Semangkuk seblak hangat
dan film-film
sebagai micin kehidupan.
Sedap sekali.
Kantung mata Ibu lelah,
tetapi tersenyum.
Dengkuran Papa juga lelah,
tetapi merdu.
Kala tertidur lelap
dalam kebisingan rumah
yang ramai dan sesak itu.
Ibu, Papa, dan Kala.
Kombinasi nama yang aneh
untuk sebuah keluarga.
Tidak apa-apa.
Meriah-meriahlah.
***
Alis Hari ini
Dia menghadap ke arah cermin.
Pantulan itu menatap yang asli dengan kosong—
wajah yang dikenal,
dan jiwa yang enggan menubuh.
Ia mengambil pensil alisnya.
Mulai mengukir bingkai baru
di atas lengkung yang sudah ada.
Menarik garis lurus—
sebuah batas.
Mengisi warna perlahan.
Menyisir hingga rapi,
hingga tampak lahir dari kulitnya sendiri.
Padahal ia tak pernah benar-benar menyukai alisnya—
lengkung yang terlalu jujur
tentang keraguan.
Ia ingin sudutnya menukik.
Tajam.
Tegas.
Berani.
Menyisir.
Mengisi.
Mengukir.
Tangannya ragu.
Garis itu terlalu tipis.
Dihapus.
Menyisir lagi.
Mengisi lagi.
Mengukir lagi.
Ia mendekat.
Menatap lebih dalam.
Kurang berani.
Dihapus lagi.
Serbuk halus jatuh ke pipi—
sisa percobaan yang gagal.
Butiran keringat muncul
di hidung
dan sekitar bibirnya.
Menyisir—
mengisi—
mengukir—
Jika tak pas, ia ulang dari awal.
Menyisir.
Membingkai.
Mengisi.
Bentuk alisnya berubah lagi.
Tak pernah benar-benar selesai.
Baiklah.
Ia berhenti.
Selesai.
Ia tersenyum pada pantulan itu.
Lalu ia menghapusnya.
Mengembalikan lengkung lama.
Ia kembali ke ranjang,
tidur dengan senyum kecil—
ia puas dengan alisnya.
***
Menggantung di Titik
Puisiku berlari liar
dalam bait-baitnya sendiri.
Seperti kopi pahit,
kuteguk—terjaga.
Aneh,
dirimu membuatku bermimpi
dengan mata terbuka.
Namamu kucari
di ujung kalimat.
Tanda petik terbuka.
“Masihkah?”
Sebelum titik,
terukir kalimat:
“akan bertemu?”
Larik-larikku goyah,
enggan menempatkan titik
di akhir kata.
“Baiklah, titik?”
***

dari Banyumas menyapa Indonesia




