
Shirin, 1
di lereng bebatuan
yang sejak puluhan abad
ditalak hujan
angin mengarak debu
dari jalur kafilah
menjauhi
dinding pegunungan.
derap tapal kuda
bau pelana kulit
juga gema lonceng karavan
sontak
menggusah kesunyian
yang belum sempat
kujinakkan.
*
di antara cahaya petang
yang tumpah
seperti kunyit
di cadas perbukitan
seekor kuda hitam
menatari lereng
di atasnya
seorang perempuan:
shirin—
apakah wajahmu
siluet pertama
yang kelak harus kupahat
di sepanjang rute
kematian?
*
seperti tubuh bumi
yang membatu
sejak dunia diciptakan
jantungku
sesaat kehilangan
bebunyian:
debar
sejak bayangmu
menghitam
melintas ke jurang kapur
sehari
lebih dekat ke kekaisaran
ke sinonim perang
maut
yang tak bergerbang.
***
Shirin, 2
di gurun
hari-hari setelahnya
angin
lihai mengusik ingatan:
mengasinkan
wajahmu
yang masih gagal kupatung
di keras bebatuan.
shirin—
dua bola matamu
sungai
kehilangan
rindu
yang mengapak dadaku
ratusan musim
kesendirian.
*
di antara
perasan air mata
retak kuku, kering kulit
dan serbuk batu
yang terselip di tulang
juga 696 jam yang hilang
di mana
kesadaran purbaku
kau kuburkan?
shirin—
kuimpikan kau
di luar
kantukku yang hilang
kupahat namamu
di darah
yang tak bisa dikemaraukan.
***
Shirin, 3
hingga ia datang
khosrow
pedang kematianku
yang taat
kau asah di kerajaan
dengan sejinjing janji
ia gadaikan kau
ke judi
yang tak dimurkai tuhan:
hanya jika kubelah
bisutun
dengan satu tangan
dan air jadi giat
menangis
dari sela bebatuan
tanpa setumbal daging
ke inti hatiku
kau akan dimukimkan.
*
maka kusujudi kegilaan
persis menghamba
pada ajal
yang melata di gumuk
gersang.
kuhancurkan batu-batu
seperti
tanpa palu di tangan
hingga tahun-tahun
mengelupas
dari tanggalan
dan maut
terasa kerap menguntit
dari kejauhan.
***
Shirin, 4
shirin—
sepanjang malam
di gigil dan sunyi tebing
kubayangkan wajah
juga suaramu
melompat dari tenggorokan
menggema
dengan harakat panjang
membisikkan sesuatu
seperti
meralat takdir
dengan kalimat
rumpang
yang tersisa di belakang.
*
kuhancurkan batu-batu
seperti
tanpa palu di tangan
hingga tahun-tahun
menandai
tubuhku sebagai tambang
penderitaan.
*
shirin—
seteguh mengaji ayat
dari kitab
di luar keagamaan
kulafazkan namamu
berulang
dengan lidah
yang tak lagi lincah
membedakan
pahit rindu dan asin garam.
***
Shirin, 5
hingga suatu petang
di tahun kering ke delapan
ajal menggantung
dan langit
juga tipis debu gurun
menyusun
6 huruf asing pada nisan
sejak utusan khosrow
menghilang
dengan bangkai kabar:
selain di firdaus
kau tak lagi bisa kutemukan.
*
maka seperti murka
pegunungan
sontak dadaku meledak
memuntahkan api
lalu binasalah waktu
juga usia
di luar segala pendengaran.
shirin—
sigaran jantungku
yang hilang
kecuali di remuk jasadku
di mana
jenazah cinta
yang tak bertepuk ini
pantas dikuburkan?
2026
***

dari Banyumas menyapa Indonesia




