
Selamat datang kembali pada momentum Mozaik Kanon: tulisan singkat untuk merespon karya fiksi yang tayang di bilfest.id. Sepertinya Mozaik Kanon akan selalu bersorak sejauh Sabtu dan Minggu diwarnai oleh karya-karya fiksi dari teman-teman bilfest.id dan sepanjang kami diberkati kesempatan cum kemampuan untuk menuliskan respon atas karya-karya tersebut. Karena pada dasarnya Tim Redaksi juga tak ubahnya manusia biasa, bukanlah robot dan tulisan Mozaik baik Mozaik Kanon maupun Mozaik Pekanan bukanlah buah karya dari rahim kecerdasan buatan.
Barangkali tulisan Mozaik bisa akan jadi panjang lebar dan serupa buih di lautan serta secepat kilat untuk menanggapi tiap-tiap tulisan yang tayang di bilfest.id jika biwasilati (dengan perantara) artificial intelligence, AI. Namun, sayangnya kami tidak melakukan praktik sebagaimana tersebut. Alasan sederhananya adalah kejujuran. Jika kami menunaikan praktik tersebut, ya itu bukanlah hasil respon dari kami, melainkan respon dari AI. Setidaknya kami menuliskan Mozaik dari pijakan moral berupa kejujuran. Terlepas dari tulisan Mozaik-nya memuaskan pembaca atau tidak, itu hal lain lagi.
Seorang jurnalis, penulis, dan peneliti Hak Asasi Manusia sekaligus salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Andreas Harsono, pernah menyebutkan bahwa “Menulis adalah laku moral”. Baik kita menuliskan non-fiksi ataupun fiksi, alangkah baiknya kita memulai ibadah menulis dengan memperhatikan sisi moralitas kita. Umpamanya, kejujuran. Jujur terhadap diri sendiri dan jujur dengan apa yang kita tuliskan. Semoga kita senantiasa bisa berlaku jujur sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.
***
Pada Mozaik Kanon kali ini, kita akan mengakrabi karya fiksi yang sudah tayang pada pekan kemarin. Lebih tepatnya pada Sabtu-Minggu, 23-24 Mei 2026. Ada cerpen “Sisa Senja di Saku Kiri” karya Dyan Uki Widyatmaja. Kemudian sekumpulan puisi “Tempo Hari dan Puisi Lainnya” karya Doli Mayok. Lantas yang terakhir, sekawanan puisi “Gentayangan dan Puisi Lainnya” karya Eki Saputra.
Romantisasi Senja
Membaca cerpen “Sisa Senja di Saku Kiri” yang ditulis oleh penulis asal Kebumen, membawa kita ke arena lanskap pantai dengan senja yang beranjak surut, raib ditelan malam, dengan sepasang kekasih yang bermesraan di atas pasir di pinggiran pantai, dan dengan serangkaian refleksi diri atas keberadaan senja. Refleksi diri ini tergambar dari suara terdalam yang keluar dari tokoh aku, “Kau duduk di sini, menahan waktu, seolah-olah itu bisa mengubah apa yang sudah selesai”; “Yang kau tunggu bukan senja.”; “Kau hanya menunggu sesuatu yang tidak akan kembali.”; “Dan selama itu, kau menyebutnya keindahan.”,
Tokoh aku merasa tidak ingin keindahan-keindahan di hari ini atau momentum epic pada saat itu ikutan raib bersama senja. Karena bagi tokoh aku, keindahan bukanlah semata terletak pada senjanya, melainkan experience atau kenangan indah yang berkelindan pada hari tersebut. Pengalaman bersama orang tersayang, umpamanya. Senja tak ubahnya benda mati, kitalah yang hidup yang mampu memberi makna pada setiap kejadian pada setiap keadaan. Sangat bisa senja tak hanya romantis, mungkin dramatis, humoris, atau bahkan tragis sekalipun.
Meromantisasi senja mungkin sudahlah banyak terjadi dalam karya karya fiksi. Barangkali akan menarik pula, jika senja dihadirkan dengan sudut pandang yang lain. Sudut pandang yang bukan romantis. Senja yang hanya bukan soal cinta, kekasih, dan keindahan. Melainkan senja yang semisal kocak, nakal, atau senja yang tidak diminati orang kebanyakan. Tentu akan berbeda senja dari kacamata setiap orang, contohnya senja yang tampak dari kacamata pekerja siang hari dan pekerja malam hari, pastinya berbeda dan punya manis-getirnya sendiri.
Mengulang Semoga
Selanjutnya, kita membaca “Tempo Hari dan Puisi Lainnya” yang ditulis oleh seorang penyair kelahiran Kota Cendana, bernama Doli Mayok. Dari puisi-puisi yang dihidangkan oleh penyair, kita bisa melihat kegelisahan dan kegetiran aku lirik dalam mengakrabi kehidupannya. Namun, sekalipun hidup sering menyuguhkan persoalan-persoalan yang membuat Raga lapuk segala pilu datang merampok atau Hari-hari berlalu seperti eksekusi senyap atau kerangka hitam takdir di nisan tubuh dan perumpamaan-perumpamaan lainnya, tapi aku lirik tetap berani untuk berharap akan keadaan yang lebih baik di kemudian hari.
Serangkaian kejadian yang tidak enak bagi kita, wajar jika kita lantas mengeluh dan kesal atas fragmen-fragmen kehidupan yang bikin sakit hati. Meski demikian, kita seyogyanya jangan langsung tetiba berputus asa dan hilang harapan akan masa depan. Dalam khazanah islam, ada ajaran yang mengatakan bahwa doa adalah senjata. Sederhananya, harapan dan doa adalah alat perang untuk menumpas setiap persoalan, keresahan, dan kegundahan yang timbul tenggelam dalam kehidupan. Tapi bukan lantas hanya cukup berdoa dan berharap saja. Melainkan juga perlu usaha (ikhtiar).
Ada ujar-ujar yang menyebutkan, “Lebih baik hidup sehari dengan penuh harapan daripada hidup setahun dengan penuh keputusasaan”. Rasa putus asa atau pesimis yang keterlaluan membuat orang kian terpuruk dan enggan untuk melakukan kerja-kerja positif. Oleh karenanya, dibutuhkan rasa optimis dan walau secercah harapan. Puisi Doli Mayok mengajak kita untuk terus melakukan peremajaan harapan dalam setiap harinya. // Pada titik yang bahkan nyaris / Kau masih saja mengulang semoga //.
Kita Terbengkalai
Membaca puisi-puisi dalam “Gentayangan dan Puisi Lainnya” karya Eki Saputra kita diajak membaca keberadaan kita saat ini. Keberadaan kita yang menjadi manusia. Dalam puisi berjudul l’existence Précède l’essence – atau yang bisa diartikan “eksistensi mendahului esensi” yang tak lain adalah gagasan yang dikemukakan oleh Jean-Paul Sartre – mengajak kita untuk membaca diri kita yang memang pada mula-mulanya terlahir ke dunia lebih dulu (eksistensi) dan kemudian seiring berjalannya waktu menemukan makna (esensi) atas dirinya sendiri.
Secara sederhananya, penulis sedang menyajikan kegelisahan seseorang yang jika dalam hidupnya atau eksistensinya tidak kunjung kemudian menemukan makna (esensinya). Manusia akan selalu gelisah atau berjalan ke arah hilang arti sepanjang ia tak sesegera mungkin merengkuh makna (esensi) atas keberwujudannya di dunia. // sebab manusiakah aku ini, / jika hanya tertawa lebar di mulut, / tetapi meraung raung di dasar batin //.
Selanjutnya dalam puisi berjudul “Gentayangan” penyair menuliskan, // Kau bilang kita terberkati, / aku bilang kita terbengkalai, / kita sering terombang-ambing / di gelombang kesepian / yang kita bangun sendiri //. Secara hematnya, aku lirik mengulik tentang, eksistensi manusia dalam kehidupan dunia bukanlah semata wujud keberkahan melainkan ada sisi negatif dan bisa berdampak menjadikan manusia terbengkalai. Terbengkalai oleh ulah manusianya sendiri. Hal ini bisa terjadi jika manusia belum sempat menemukan esensi atas kehadirannya dalam samudera kehidupan. Secara tidak langsung, penyair mengajak kita untuk segera menemukan esensi dari diri kita masing-masing. Tak hanya dalam jagad kehidupan saja. Umpamanya dalam lingkup sekolah atau belajar, apa esensi kita dalam bersekolah atau belajar? Yang penting makan MBG, atau berpikir, atau membaca, atau pergi ke kantin di saat jam pelajaran dll.
Tabik,
Tim Redaksi

dari Banyumas menyapa Indonesia




