Puisi dan Road Map Muhammadiyah dalam Memajukan Kebudayaan Indonesia

Memulihkan Jiwa Bangsa lewat Puisi dan Dakwah Kultural

Di tengah dunia yang semakin terluka oleh kekerasan, ketimpangan, dan degradasi moral, puisi, dan kebudayaan tidak bisa lagi dianggap hanya sebagai bentuk ekspresi seni yang pasif. Ia adalah medium ruhani yang berperan menyembuhkan jiwa, menata ulang kepekaan, dan membangunkan hati nurani kolektif bangsa. Sebagaimana agama menjadi cahaya kehidupan, puisi dapat menjadi lentera makna bagi mereka yang rindu keadaban.

Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam modernis, tak hanya berorientasi pada amal sosial dan pendidikan, tapi juga memiliki peta jalan kebudayaan (road map kebudayaan) yang menekankan pentingnya integrasi keilmuan, nilai spiritual, dan ekspresi seni dalam membangun peradaban. Dalam konteks ini, bagaimana puisi mengambil posisi dalam visi kebudayaan Muhammadiyah?

Muhammadiyah, Kebudayaan, dan Tanggung Jawab Intelektual

Muhammadiyah sejak awal bukanlah gerakan yang alergi terhadap kebudayaan. KH Ahmad Dahlan, tokoh pembaru itu, mengusung metode dakwah yang tidak hanya menekankan pada fikih, tetapi juga pada pemaknaan ruhani dan transformasi sosial yang membumi. Oleh karena itu, kebudayaan dalam Muhammadiyah tak bisa dilepaskan dari tanggung jawab intelektual dan spiritual.

Risalah Islam Berkemajuan yang digaungkan dalam Muktamar ke-47 di Makassar menyatakan bahwa membangun peradaban adalah jalan utama gerakan ini, yang berbasis pada ilmu, nilai, dan seni. Dalam pandangan ini, seni—termasuk puisi—bukanlah sekadar hiburan atau pelengkap, tetapi instrumen penting untuk menginternalisasi nilai-nilai Islam dalam bahasa yang lebih estetis dan menyentuh.

Dalam “Risalah Islam Berkemajuan”, Muhammadiyah menegaskan bahwa seni harus “berbasis nilai tauhid dan kemanusiaan” (PP Muhammadiyah, 2015: 22). Dengan demikian, puisi sebagai bentuk seni adalah sarana peradaban, bukan sekadar pelipur lara.

Namun, tantangannya adalah, banyak gerakan keislaman saat ini cenderung hanya berkutat pada dimensi hukum lahiriah dan formalitas syariat. Penanaman nilai melalui bahasa estetis dan simbolik sering dianggap tidak urgen. Di sinilah puisi hadir sebagai jembatan antara langit dan bumi—antara wahyu dan kehidupan manusia yang konkret.

Puisi bukan sekadar kata-kata, tetapi adalah tafsir ruhani. Ia adalah perenungan, kontemplasi, dan ekspresi iman dalam bahasa yang berjiwa. Dan ketika tafsir itu disampaikan dalam bentuk puitik, maka Islam tampil sebagai agama yang indah, lembut, dan membebaskan.

Puisi sebagai Zikir Kultural dalam Tradisi Muhammadiyah

Puisi dalam pandangan saya adalah zikir kultural. Ia bukan hanya merangkai keindahan, tapi juga menghidupkan kembali jiwa yang mulai beku. Sebagai zikir, puisi adalah upaya menyebut, menyapa, dan menyadari kembali kehadiran Tuhan dalam kata dan dunia.

Dalam konteks Muhammadiyah, puisi bisa menjadi bagian dari dakwah kultural. Bukan dakwah formal di mimbar atau podium, tapi “dakwah sunyi” yang menyusup ke batin pembaca. KH Ahmad Dahlan sendiri memainkan lagu “Asmaul Husna” dengan biola sebagai bagian dari metode pendidikan ruhani yang memadukan seni dan makna.

Begitu pula Buya Syafii Maarif. Dalam setiap tulisannya, kita dapat menemukan irama puisi yang menyelinap di antara argumen dan data. Buya, seperti penyair, menyampaikan hikmah dengan kelembutan bahasa dan keluasan hati. Ia mengajarkan bahwa keislaman bukan hanya tentang identitas, tapi tentang kasih sayang dan kemanusiaan universal.

Dalam pengantar Islam dan Masalah Kenegaraan, Buya menulis, “Yang kita perlukan adalah etika peradaban yang bersumber dari nilai-nilai ketauhidan dan akal sehat.” (Yogyakarta: LKiS, 2010:x). Bahasa Buya sarat semangat sufistik, seperti halnya puisi yang tak menggurui, tapi menyentuh.

Generasi muda Muhammadiyah hari ini memerlukan bahasa yang lebih dekat dengan jiwanya. Ceramah normatif yang kering sering gagal menyentuh kedalaman batin mereka. Maka, puisi—jika ditulis dengan kesadaran tauhid—dapat menjadi media yang relevan untuk membangkitkan spiritualitas yang merdeka dan berakar.

Road Map Kebudayaan Muhammadiyah dan Peran Penyair-Pemikir

Peta jalan kebudayaan Muhammadiyah yang dirancang Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah menekankan pentingnya penguatan nilai budaya Islam dalam berbagai sektor: bahasa, media, seni, pendidikan, dan komunitas. Namun, peta tidak berarti tanpa pengembara. Maka dibutuhkan para pelaku budaya—penyair, sastrawan, seniman, dan cendekiawan—yang menjadikan kebudayaan sebagai amanah dakwah.

Penyair dalam konteks Muhammadiyah bukan hanya kreator kata, tetapi pemikir ruhani. Mereka menulis bukan untuk popularitas, tapi untuk meneruskan risalah pencerahan yang diwariskan oleh KH Ahmad Dahlan. Dengan puisi, mereka menghidupkan kembali imajinasi spiritual, membangunkan nalar moral, dan menggerakkan kesadaran sejarah.

Ekosistem kebudayaan dalam Muhammadiyah harus menciptakan ruang-ruang kreatif: sanggar, komunitas, festival, dan penerbitan yang menampung karya sastra dan puisi. Bukan untuk menjauh dari dakwah, melainkan justru untuk memperluas dan memperhalus jalan dakwah itu sendiri. Puisi bisa menjadi oase di tengah gersangnya wacana publik yang bising, banal, dan penuh hoaks.

Penyair Muhammadiyah adalah agen kebudayaan profetik. Mereka bukan hanya pembaca realitas, tapi juga penunjuk jalan ruhani. Mereka hadir untuk mengingatkan, menyentuh, dan membimbing dengan kata-kata yang mengalir dari mata air jiwa.

Relevansi Puisi dalam Pendidikan Muhammadiyah

Institusi pendidikan Muhammadiyah yang tersebar dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk kepribadian siswa tidak hanya secara kognitif, tetapi juga secara estetik dan spiritual. Dalam konteks ini, puisi dapat menjadi sarana efektif untuk pendidikan karakter, moral, dan kemanusiaan.

Sebagaimana dikemukakan Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed, pendidikan sejatinya adalah tindakan humanisasi yang menyadarkan manusia atas dunia dan dirinya. (“Education is an act of love, and thus an act of courage.”). Pendidikan adalah cinta—dan puisi adalah bahasa cinta yang membangunkan kesadaran.

Dalam Hermeneutika, Estetika, dan Religiusitas (Yogyakarta, Matahari, 2004,), Abdul Hadi W.M. menegaskan bahwa puisi adalah bagian dari penghayatan spiritual, bukan semata produk imajinasi. Maka, membiasakan siswa dan mahasiswa membaca dan menulis puisi berarti membangun nalar estetis dan empati sosial. Pendidikan Muhammadiyah yang ingin mencetak “Insan Berkemajuan” perlu memberi tempat yang layak bagi karya sastra, termasuk puisi, dalam kurikulum dan budaya sekolah.

Beberapa sekolah Muhammadiyah seperti SMP Muhammadiyah 5 Surabaya dan SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta telah memiliki tradisi pembacaan puisi atau jurnal sastra sebagai kegiatan kesiswaan yang membentuk sensitivitas. Kegiatan ini bukan sekadar ekstrakurikuler, tetapi bentuk nyata penanaman nilai lewat kata yang hidup.

Puisi sebagai Napas Kebudayaan Berkemajuan

Jika Road Map Kebudayaan Muhammadiyah hanya diisi dengan kebijakan dan program tanpa napas spiritual, maka ia akan menjadi kering dan teknokratis. Diperlukan penyair yang menjadi penafsir dan penjaga nafas kebudayaan itu—yang menghadirkan makna dalam keindahan, dan keindahan dalam makna.

Puisi bukanlah pengganti dakwah, melainkan pelengkap yang memperhalus dan memperdalam. Ia seperti “jalan sunyi” dalam membangun peradaban: tak tampak ramai, tapi punya gema yang panjang. Dalam sejarah, peradaban besar tak pernah lahir hanya dari bangunan dan senjata, tapi juga dari puisi, filsafat, dan seni.

Lirik lagu “Sang Surya” karya Djarnawi Hadikusumo adalah contoh bagaimana seni dan spiritualitas bersatu dalam gerakan Muhammadiyah:

Sang Surya tetap bersinar
Syahadat dua melingkar
Warna yang hijau berseri
Membuatku rela hati…

(Djarnawi Hadikusumo, “Sang Surya”)

Lagu ini bukan hanya hymne organisasi, tapi juga puisi pergerakan—menyulut semangat, menanamkan aqidah, dan menegaskan identitas keimanan.

Begitu pula puisi “Damai itu Embun” karya Mustofa W. Hasyim yang menggambarkan kesalehan sebagai keheningan yang mencerahkan:

Damai itu embun pagi
Jernih di ujung daun dan bunga

Dalam dinginnya, Tuhan
Membangunkan kasih yang terlupa

(Mustofa W. Hasyim, “Damai itu Embun,” Pikiran Rakyat, 2023)

Puisi semacam ini adalah napas kebudayaan berkemajuan: lahir dari iman, bergerak dalam kesadaran sosial, dan sampai kepada kemuliaan batin.

Maka, membangun kebudayaan Indonesia hari ini bukan hanya tugas negara atau lembaga, tapi juga para penyair yang berjalan dalam cahaya iman. Dengan puisi, Muhammadiyah dapat terus menjadi gerakan yang tercerahkan, dan mencerahkan peradaban.

Puisi dalam pandangan saya adalah zikir kultural. Ia bukan hanya merangkai keindahan, tapi juga menghidupkan kembali jiwa yang mulai beku.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top