Catatan Administrasi Hujan dan Puisi Lainnya

Penjaga Perpustakaan itu Menulis Puisi

kita hidup di dalam notifikasi, hewan-hewan kehilangan rumahnya, asap menempel pada tembok yang gugup dan waktu itu hijau telah menjadi biru
seorang penjaga perpustakaan itu menulis puisi, tubuh datang memastikan, pagar menutupi dunia ini, matahari hanya sejengkal kaki yang memanjang
lampu putihmu menyetrika bayangan dan membawa kepergianku menuju dalam jalan plastik tipis yang mudah sobek

Sidoarjo, 2026

***

Peta Basah

aku berjalan membawa peta basah dan tubuhku membayar nota dirinya sendiri, langkahku semakin ragu, di sini, trotoar mengunyah langkah
ada baliho yang menimbang anak, plastik kresek, dan sejumlah kata pulang berhenti ketika lampu merah
doa-doa itu, terbang sesekali, melwwati jaringan notifikasi ketika anak kecil iseng menyalakan kompor di kepala masing-masing penumpang

Sidoarjo, 2026

***

Kota Mengunyah Sore

kau hangatkan mesin laminating dan sore tergulung, menyediakan identitas baru di laci fotokopi, kenangan terbang tersangkut hujan juga angin kepedihanku
kududuk di bangku halte, adzan berbicara panjang tapi kakiku melenggang tanpa melihat sepatu, angin berpindah pada lorong botol menangisi debu kaca mobil di kota ini
“orang seperti klakson berbicara dengan nada putus-putus”
dan kali ini, sekali lagi (atau berulang-ulang kali) kanakku berdiri menunggu melepaskan diri

Sidoarjo, 2026

***

Malam Menuju Dongeng itu

sore melengang membawa hujan menuju kepalaku, rumput berbunga, malam menuju dongeng itu
sebuah sepatu menggantung warna biru dan hitam memudar melangitkan waktu
cahaya lampu menjadi diriku menjelang subuh, pepohonan adalah sejarah tubuh ranummu yang menguar rerindu pada batu-batu dan taman dari arah matahari datang telah membaca tuhan

“barangkali (atau bukan barangkali) telah kusibakkan riwayat amsal itu menjadi abu nyanyian sendu”

Kertosono, 2026

***

Catatan Administrasi Hujan

di meja hujan mencatat administrasi, tubuhku terstempel bau knalpot dan tiket bioskop, bayanganmu menari, di ruang tunggu
“kekasihku, punggungku adalah kursi duduk berbahan matahari yang melemahkan tangisan para dewa atau pembunuh raksasa”
sesungguhnya di masa lalu sesuatu hilang tersedot ketapel kerinduanmu yang basah, menyepleseti kerang-kerang dan tak bisa berlari
seseorang memanggil yang bukan namaku sambil membawa amplop yang kering dari basah halaman pinggir kesepianku

Kertosono, 2026

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top