
Dompet tebal di tangan kanan
Kucing tidur di sudut ruang
Apa yang Tuhan takdirkan
Tak akan jatuh ke tangan orang
Selamat siang para penghuni jagad maya yang semoga senantiasa dalam lindungan-Nya. Berlindung dari segenap tipu daya yang menggoda. Kukira buah tomat, ternyata rujak. Kukira bermanfaat ternyata tidak. Maaf barusan ini, hanya tentang rujak. Bukan MBG (Makan Bergizi Gratis). Kalau MBG sudah barang tentu bermanfaat untuk menebalkan dompet pejabat berikut kompatriot, mitra, cum koleganya.
Kembali lagi kita pada Mozaik Kanon: bentuk apresiasi sederhana kepada penulis fiksi di bilfest.id yang tayang di hari Sabtu dan Minggu, serupa tepuk tangan dan tanda terima kasih telah turut memanjangkan napas literasi – di Banyumas pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya – melalui website bilfest.id. Dalam Film Gladiator (2000) – sesaat sebelum melangsungkan pertempuran – di atas kudanya, Maximus Decimus Meridius berkata: “What we do in life echoes in eternity.”
Sabtu lalu, 2 Mei 2026, kita sama sama membaca cerpen “Pulanglah Kartam Si Anak Hilang” karya Setyo W. Nugroho, penulis kelahiran Klaten-Jawa Tengah. Tak hanya itu, kemudian di hari yang sama, pada siang harinya kita membaca “Sejak Kematiannya dan Puisi Lainnya” karya Rifqi Septian Dewantara, penulis asal Balikpapan-Kalimantan Timur. Lantas pada hari minggunya, 3 Mei 2026, kita membaca “Sketsa dan Puisi Lainnya” karya Bonniela, penulis kelahiran Palembang-Sumatera Selatan.
Ketiga karya tersebut sama-sama menyajikan hamparan dinamika kehidupan yang memang beragam, bermacam-macam, dan serba serbi. Seberaneka ragam apa-apa yang keluar dari mulut seseorang yang sedang diam, tiba-tiba ada kecoa hinggap di tubuhnya. Wkwkwk. Akan tetapi justru keberagaman tersebut yang membuat kita lebih tenang, santai (ora grusa-grusu), sehingga mampu berpikir jernih dalam menanggapi drama kehidupan, lebih-lebih di negara tercinta.
Ketidakidealan dalam kehidupan
Membaca cerpen Mas Setyo yang berjudul “Pulanglah Kartam Si Anak Hilang”, kita disuguhkan seorang yang sedang berpuasa tapi di lain sisi dia dalam prosesi mencopet. Namun di balik aksi-aksi nakalnya, Kartam tetap ingat akan pesan-pesan dari ibunya yang begitu sayang kepadanya. Nasihat-nasihat ibunya terpahat rapi di dinding-dinding hatinya Kartam. Sehingga dia masih sering ingat dan mengiyakan apa pesan dan petuah bijak darinya. “Ibuku selalu bilang kalau puasa itu membersihkan segala macam kotoran di badan dan jiwa kita.”
Kenangan masa kecil kartam tentang ibunya, terlebih saat momen puasa membuat Kartam tak tergoda oleh rayuan Tarjo untuk membatalkan puasanya. Dalam benak Tarjo, “Lagian ngapain seorang pencopet berpuasa.” Idealnya memang mungkin demikian, pencopet (orang jahat) ya udah jahat aja, tak perlu berlaku baik, apalagi puasa-puasa segala, toh nanti makan juga memakai uang hasil copetan. Ataupun sebaliknya, orang yang baik ya udah idealnya baik terus. Masa iya biasanya ke masjid tapi di belakang suka ngomongin orang.
Ketidakidealan dalam hidup semacam itu ataupun dalam hal lainnya, tapi justru membuat kita sadar akan absurdnya suatu kehidupan. Barangkali memang baiknya demikian. Ketidakidealan adalah ideal. Dalam diri orang yang baik ada keburukannya. Dalam diri orang buruk ada kebaikannya. Dia yang selamanya baik, bisa saja buruk kemudian. Begitu pula dia yang selamanya buruk, bisa saja baik kemudian. Kesadaran ini membuat kita tidak mudah jumawa dan merasa diri paling benar.
Kucing yang berperan penting dalam kehidupan seseorang
Selanjutnya, kita membaca “Sejak Kematiannya dan Puisi Lainnya” buah karya Mas Rifqi Septian Dewantara. Beliau menyulap kecintaannya terhadap kucing kesayangannya ke dalam puisi. Lima puisi yang dituliskan beliau, dia dedikasikan untuk mengenang kucing kesayangannya. Dalam hal ini, kucing telah berperan penting dalam kehidupan aku lirik. Mulai dari kehadirannya yang // Kucingku datang untuk menenangkan / tanpa banyak tingkah, ia langsung mendengkur di atas dadaku / seperti kipas angin / ia tahu ke mana raga ini harus diteduhkan //.
Mungkin bagi sebagian orang mengira tak akan ada manusia yang menyayangi hewan peliharan sebagaimana menyayangi kekasihnya. Bersuka dengan kehadiran hewan peliharaannya dan bersedih atas kepergian hewan peliharaannya. Namun dalam hal ini, masihlah normal menjadikan kucing sebagai hewan peliharaan. Tapi bagi Sebagian orang barangkali sedikit janggal melihat fenomena seseorang yang sampai sebegitunya dengan kucingnya, sampai-sampai dibuatkan sekuntum puisi. Semoga sang kekasih tek cemburu dengan seekor kucing yang diperlakukan sebegitu romantisnya. // Mangkuk makanannya sengaja kubiarkan terisi ikan favoritnya, / air minumya selalu kuganti setiap hari /.
Di sini kucing tak semata hewan peliharaan, bagi aku lirik ia bagaikan suatu hal yang spesial. Aku lirik mengambil hikmah kehidupan dari seekor binatang. Orang kebanyakan melihat binatang ya biasa-biasa saja. Namun di sini aku lirik menampilkan bahwa binatang pun bisa membawa pesan kehidupan. // Barangkali hidup memang begitu / tidak semua masalah hidup perlu dilaporkan / cukup pulang, makan, minum, ngising, tidur, / dan masih bernapas //.
Segala yang hidup, terkulai waktu
Selanjutnya kita disuguhkan dengan “Sketsa dan Puisi Lainnya” yang direka cipta oleh Mba Bonniela. Puisi-puisi dalam Sketsa dan Puisi Lainnya banyak mengungkap tentang refleksi diri. Umpamanya hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dengan kediriannya, manusia yang sedang berupaya mengenali dirinya, // Agar seseorang bisa menemukanku, / aku harus memasang wajahku sendiri, / menatap dengan mataku sendiri, / senyum dari bibirku sendiri. / Bayanganku harus mengenali aku dulu, / meskipun aku belum tahu siapa aku. //.
Manusia hidup meruang dan mewaktu. Kehidupan menuntun kita untuk tumbuh dan berkembang. Dari tidak tahu menjadi tahu. Dari kecil kemudian besar. Dari remaja lantas dewasa. Dari muda kemudian tua. Aku lirik dalam puisi Dewasa sedang merasakan bahwa kehidupan tak lagi sama sebagaimana yang dahulu: // Kini tidur harus lebih cepat, / subuh-subuh rezeki minta digenggam. / Dulu hujan badai tak jadi penghalang, / sebab bukan aku yang takut demam. // . Mungkin sewaktu kecil, hujan cuma air. Tapi saat dewasa, hujan adalah masuk angin.
Salah satu yang menarik juga dalam Sketsa dan Puisi Lainnya adalah dua baris terakhir pada puisi terakhir: // Kita tahu benar bahwa segala yang hidup / akan terkulai di hadapan waktu. //. Hal ini mengingatkan kita akan kefanaan atau kematiaan ialah keniscayaan. Di sini, aku lirik menganggap musuhnya adalah waktu. Seringkali kita kalah telak oleh waktu. Setelah dewasa, barulah tersadar, “Kenapa dulu aku ngga ini, ngga itu?” Oleh karenanya, agar tidak timbul penyesalan Kembali, di sini aku lirik menyebutkan, // Mencatat setiap keinginan dan kebutuhan, / setiap tugas dan mimpi. / Mana yang harus dikejar, / mana yang harus dikubur diam-diam. //.
Tabik,
Tim Redaksi

dari Banyumas menyapa Indonesia




