
Suara yang di Balik
Malam itu, Gardu Ronda RT 4 riuh oleh asap rokok dan denting sendok pada gelas kopi. Namun, bagi Suryono, suasana terasa lebih panas dari biasanya. Di hadapannya duduk Kardiman, seorang tim sukses salah satu calon lurah petahana yang belakangan ini gayanya sudah mirip ajudan menteri.
Intimidasi di Bawah Lampu Lima Watt
“Jadi gimana, Sur? Data warga yang fiks ke Pak Lurah sudah masuk ke meja saya, tinggal namamu dan keluargamu yang belum saya centang,” ujar Kardiman sambil menghembuskan asap rokoknya ke Suryono.
Suryono berdehem, tangannya sibuk memutar-mutar gelas kopi yang tinggal ampas. “Ya… kan pencoblosan masih minggu depan, Man. Saya masih menimbang-nimbang.”
Kardiman tertawa, suara tawanya kering dan meremehkan. Ia mecondongkan badan ke depan, menatap Suryono tajam.
“Menimbang apa lagi? Kurang apa Pak Lurah sama keluargamu? Ingat lho, tahun kemarin siapa yang masukin namamu ke daftar penerima BLT waktu namamu dicoret dari balai desa? Saya yang bisikin Pak Lurah!!”
“Saya tahu, Man. Saya terima kasih,” jawab Suryono lirih.
“Terima kasih saja tidak cukup di politik, Sur!” potong Kardiman cepat. “Anakmu yang bungsu, si Dani, kemarin dapat bantuan seragam sama beasiswa PIP itu juga lewat jalur aspirasi tim kita. Jangan sampai amnesia mendadak gara-gara kamu kepincut janji manis calon sebelah yang cuma bisa jualan tampang.”
Kebebasan yang Semu
Suryono merasa dadanya sesak. Di gardu itu, ada dua warga lainnya yang pura-pura asyik main domino, tapi telinga mereka jelas menyimak.
“Ini kan hak pribadi, Man. Sesuai aturan, pilihan itu bebas dan rahasia,” ujar Suryono mencoba membela harga dirinya.
Kardiman memukul meja kayu gardu dengan telapak tangannya, Braak!!!
“Halah!! Bebas-bebas cuma omon-omon!! Di depan kotak suara mungkin kamu bebas, tapi hidupmu kan di sini, di desa ini. Jangan jadi orang yang nggak tahu balas budi. Ibaratnya, kamu sudah makan di piring Pak Lurah, jangan sampai kamu ludahi piring itu!”
“Saya nggak meludahi siapa-siapa, Man. Saya cuma mau milih yang menurut saya punya visi baru buat desa kita,” sanggah Suryono dengan suara yang sedikit bergetar.
Pojok Tanpa Pilihan
Kardiman bangkit dari duduknya, merapikan jaket dengan logo tim sukses yang mentereng di dadanya. Ia menatap Suryono dengan tatapan dingin.
“Visi baru? Emangnya visi bisa kasih kamu sembako tiap bulan? Bisa bayarin SPP anakmu kalau beasiswanya dicabut? Pikir pakai logika, Sur. Kalau besok namamu dicoret dari daftar bantuan apa pun, jangan lari ke saya sambil nangis-nangis.”
Kardiman meludah ke tanah, lalu beranjak pergi tanpa pamit.
Suryono terdiam di sudut gardu. Suara gesekan kartu kembali terdengar, namun suasana terasa sangat asing baginya. Di bawah bayangan lampu jalan yang temaram, ia menyadari satu hal: di desa ini, demokrasi hanyalah barang mewah yang cicilannya dibayar dengan rasa takut dan utang budi.
“Gimana, Sur? Masih mau pilih pakai hati?” tanya salah satu pemain domino tanpa menoleh.
Suryono tidak menjawab. Ia hanya melihat tangannya yang gemetar, menyadari bahwa pilihannya sudah “dibeli” jauh sebelum ia sampai di bilik suara.
W.Sefri berasal dari Desa Pancasan, Kecamatan Ajibarang, Banyumas.




