
Kaki Bukit Kepudang.
Beberapa anak berseragam putih merah berlarian, mereka bukan sedang dikejar anjing ataupun penculik, mereka sedang berlomba dengan air hujan yang siap mengguyur bumi. Baru setengah perjalanan, tanpa permisi hujan pun datang, tubuh mereka basah kuyup. Para anak perempuan memutuskan berteduh di rumah warga. Para anak laki-laki melanjutkan perjalanan dengan berlari. Wajah mereka tampak sumringah, menari-nari, serta diiringi tawa riang yang menggema di sepanjang jalan, meskipun hujan terus mengguyur mereka. Setiap hari untuk sampai ke sekolah, mereka harus melewati perbukitan, sawah, hingga hutan. Hujan dan tanah longsor sudah seperti kawan akrab bagi mereka.
Jalanan menjadi becek, sepatu mereka berubah warna menjadi coklat terkena lumpur, seragam dan tas basah kuyup, muka comeng sana-sini, perpaduan antara keringat dan sisa air hujan yang menempel di wajah. Sampai di ruang kelas, mereka menghela napas. Genteng bocor, seisi ruangan tergenang air, alhasil hari ini tidak ada kegiatan pembelajaran, guru-guru dan para siswa melakukan kerja bakti membersihkan ruang kelas. Begitulah aktivitas mereka ketika musim hujan datang.
***
Pusat kota
Gerimis kembali datang. Sebuah mobil sedan hitam terparkir di depan sekolah elit. Gedung megah dengan tiga lantai. Dari dalam mobil, keluar seorang anak laki-laki dengan setelan rapih, baju putih mengkilap, memakai jam tangan, sepatu branded, dan sebuah payung besar di tangan kanan. Dari tampilannya jelas ia bukan anak orang biasa. Ia berjalan tegak memasuki sekolah tersebut. Mobil yang ditumpanginya kembali melaju. Beberapa detik kemudian, datang mobil yang tak kalah mewah, Pajero Sport. Lagi-lagi, seorang anak berkulit kuning langsat keluar, berjalan menuju gerbang sekolah.
Ia berjalan menuju lorong yang bersih, dinding-dinding mengkilap, tak ada genteng bocor. Masuk ke ruang kelas, berbaur dengan teman-temannya yang sama-sama rapinya, sama-sama kayanya, dan tentu sama-sama pintarnya. Mereka mengobrol tentang film keluaran terbaru, tentang gadget keluaran terbaru, tentang mobil yang mereka tumpangi. Lima belas menit kemudian, bel berbunyi. Sang guru datang. Pelajaran dimulai.
***
Kembali ke Kaki Bukit Kepudang. Waktu sudah menunjukan pukul dua belas siang. Hujan sudah reda beberapa waktu yang lalu. Ruang kelas sudah bersih, anak-anak bersiap pulang.
“Bu, besok ada pelajaran tidak? Sudah tiga hari nggak ada pelajaran, kami ingin sekali belajar matematika lagi.” Seorang siswa berceloteh. Tatapannya menerawang ke halaman yang masih becek.
“Doakan saja semoga besok tidak hujan dulu.” Ucap guru tersebut penuh harap sembari mengelus kepala siswanya.
“Kenapa sih bu genteng sekolah kita tidak kunjung diperbaiki?” Seorang siswa lain bertanya.
“Doakan saja semoga pemerintah cepat memperbaiki sekolah kita.” Sebuah harapan yang bertahun-tahun hanyalah sebuah harapan.
“Apa sekolah lain juga gentengnya juga bocor seperti sekolah kita?”
“Mungkin,” Sang guru mencoba tersenyum, “Ayo kemas-kemas, pimpin doa, kemudian pulang.”
Satu jam berlalu, semua siswa sudah pulang, menyisakan sang guru yang masih duduk termenung di dalam kelas. Dua puluh tahun yang lalu ia bersekolah di sini. Saat ia masih menjadi murid, sekolah ini baru berdiri sekitar lima tahun, bangunannya kokoh, keramiknya mengkilap, gentengnya tidak ada yang bocor, tapi itu dulu, sekarang keadaannya sungguh memprihatinkan. Karena buruknya sarana dan prasarana, beberapa tahun terakhir jumlah murid makin menurun. Beberapa guru memutuskan untuk keluar, mencari sekolah yang lebih layak. Kini hanya tinggal empat guru dan satu kepala sekolah yang setia merawat sekolah yang hampir “ambruk” ini. Jangan tanyakan gaji, kalau bukan karena rasa kemanusiaan yang setinggi gunung, mereka sudah angkat kaki sejak hari pertama mengajar.
Sang guru masih melamun, ada banyak sekali yang sedang berputar di kepalanya, salah satunya adalah tentang surat pemberitahuan dari pemerintah kalau beberapa bulan lagi, sekolah ini akan digusur untuk dijadikan koperasi milik pemerintah. Ia tidak memikirkan dirinya, ia sedang sibuk memikirkan nasib murid-muridnya. Ia tidak rela murid-muridnya harus putus sekolah. Ia tidak rela mimpi murid-muridnya dibunuh. Tapi ia juga belum tahu apa yang harus dilakukan. Satu hal yang ia tahu, murid-muridnya sangat bersemangat untuk belajar. Itulah yang membuatnya bertahan sampai sekarang,
***
Pusat kota, pukul 12 siang.
Dua orang siswa berjalan keluar dari ruang kelas.
“Pulang sekolah kamu mau ke mana?”
“Aku mau les renang, lanjut les piano, kalau kamu?” tanyanya kembali
“Sebenarnya aku ada les gitar, tapi ayahku bilang, mau mengajakku nonton film di bioskop, jadi lesnya libur dulu.”
“Wah, asyik juga. Btw, kamu masih bimbel di Galaxy Operation?”
“Masih, kamu masih bimbel di Newtook?”
“Masih. Oh iya sudah tau belum, ada restoran baru di dekat Alun-alun?”
“Belum, emang apa nama restorannya?”
“Gacoan Indo, rame banget. Kapan-kapan kita kesana yuk?”
“Ayok!”
Mereka berpisah di depan gerbang sekolah, masuk ke mobil masing-masing.
***
Kaki Bukit Kepudang,
Pagi hari, hujan kembali datang. Kali ini lebih deras dari kemarin, beberapa pohon roboh, tanah longsor, ruang kelas kembali tergenang air. Seorang anak laki-laki dengan tatapan sedih berdiri mematung di depan pintu rumahnya.
“Kamu nggak usah sekolah dahulu, hujannya deras. Bu guru pasti memaklumi.” Ucap sang ibunda kepada anak laki-lakinya.
“Tapi aku mau sekolah, bu. Sudah empat hari loh aku tidak bertemu teman-teman.” Jawab anak itu dengan wajah sedih.
“Paling sekolahmu juga bocor, seperti biasanya. Bersih-bersih, habis itu pulang.” Anak laki-laki yang sudah berpakaian cukup rapi itu menahan kecewa.
“Sini bantu ibu saja, bersih-bersih ruang tamu, genteng kita bocor lagi.”
Dengan perasaan kecewa, ia mengganti pakaiannya kembali dan membantu ibunya untuk membersihkan ruang tamunya yang bocor. Sesekali ia termenung, sampai kapan akan terus seperti ini?
***
Pusat kota
Sama seperti kemarin, Hujan bukanlah kendala bagi mereka untuk beraktivitas. Anak-anak turun dari Mobil, memakai payung, masuk kelas, belajar dengan nyaman seperti biasanya. Bagaimana dengan gurunya? Tentu para guru di sini duduk nyaman di ruangan ber AC + wifi berkecepatan tinggi. Mobil mereka tak kalah mewah dari murid-muridnya.
Saat sore datang, siswa-siswi di sini sibuk mengikuti les private, mulai dari musik, padel, renang dan semacamnya. Malamnya mengikuti bimbel terbaik di kota. Pulang dari bimbel, singgah di sebuah restoran mewah, memilih menu paling mahal tanpa takut tidak bisa membayar. Sungguh hidup yang sempurna. Masa depan? Tentu sudah terjamin. Bisnis keluarga yang menggurita telah menanti.
Seandainya pemerintah lebih membuka mata, memperhatikan pendidikan di negara ini, bukan hanya yang di kota saja, tapi lebih jauh ke pelosok desa, mungkin tidak ada kesenjangan seperti ini. Anak-anak di Kaki Bukit Kepundang mungkin tidak akan merasakan genteng yang bocor di kelasnya, bangku yang lapuk karena habis dimakan waktu, dan lantai yang sudah tidak ada keramiknya. Mungkin mereka akan merasakan sekolah yang layak dan nyaman untuk dipakai belajar, serta tidak akan merasa was-was lagi saat hujan datang. Mereka tidak meminta kemewahan, mereka hanya ingin mendapatkan fasilitas belajar yang layak, tidak lebih.
Bayu Prakoso seorang lelaki beruntung yang lahir dan tumbuh di kota kecil sejuta keindahan, Kebumen. Sejak kecil menyukai sepak bola, musik dan tentu dunia literasi. Bayu dapat dihubungi melalui Instagram @BayuPrakoso74





Ceritanya related, dan begitu dekat dengan kenyataan, walaupun fiksi nya tetap terasa. Kembangkan!~ 🙂