
“Jangan macam-macam sama penulis, Billes.”
“Kenapa?”
“Apapun yang kamu lakukan, ada kemungkinan kamu akan abadi dalam karyanya.”
“Oh, ya?”
“Iya. Kalau kamu baik, penulis akan membuatmu jadi pahlawan atau setidaknya protagonis di ceritanya. Sebaliknya juga begitu.”
“Eh, kamu, kan, suka nulis juga?”
“Nah, itu maksudnya. Kamu jangan macam-macam sama aku.”
Saya tertawa. “Buat apa macam-macam? Satu macam aja repot.”
***
Dia Clarida, perempuan ajaib yang kebetulan nyangkut lewat dunia maya. Saya memilih kata ‘nyangkut’ karena memang pertemuan dengan Clarida tidak pernah saya rencanakan. Sama sekali.
Awalnya kami ngobrol di random chat room. Kemudian tukar-tukaran sosial media sampai kontak pribadi. Obrolan mengalir seperti hujan yang turun ke bumi tanpa aba-aba.
Clarida lebih banyak bercerita. Tentang orang-orang yang menyebalkan di kantornya, keluarganya, hingga hal remeh seperti secangkir kopi susu sachet yang diseduhnya setiap pagi. Selalu Clarida tawarkan pada saya.
Setiap hari. Sejak bulan Maret tahun ini, sampai tahun ini hampir selesai. Clarida selalu ada.
Entah kenapa, saya selalu punya tenaga untuk menanggapi Clarida. Serandom apapun obrolan yang dia mulai, selalu bisa saya jawab dengan kalimat-kalimat asal bunyi. Dia tidak pernah marah, tidak pernah ngambek walaupun balasan saya telat berjam-jam.
Pelan-pelan, Clarida memberi arti, dan membuat saya merasa punya arti. Saya merasa jadi laki-laki yang ditunggu-tunggu kehadirannya, kabarnya, ceritanya, keluh-kesahnya. Perasaan yang pernah mati setahun-dua tahun terakhir, kini mulai hidup lagi.
Perasaan ini belum berani saya beri nama. Sebab saya tahu, perasaan ini datang bersama buntut-buntutnya: takut, kecewa, bingung, marah, sedih. Tidak hanya sedih, mungkin setengah gila. Clarida, andaikan kamu tahu. Hidup saya sudah sulit. Perasaan ini membuatnya semakin rumit. Saya harus bagaimana, Clarida?
***
Menjelang ujung tahun, Clarida datang ke Kota Caridea, tempat saya tinggal. Perasaan ini bergemuruh, bertarung dengan jadwal kerja, logika, ego, dan idealisme yang ada di kepala saya. Hampir saja perasaan ini kalah. Namun Clarida dengan segala usahanya untuk datang ke Caridea akhirnya membuat saya menyerah. Dia adalah tamu jauh. Dan tamu jauh harus dijamu dengan baik.
Oke. Saya siap-siap menjemputnya di Stasiun Caridea dengan sepeda motor. Sebelumnya memang kami tidak bertukar foto, tapi saya tahu bagaimana wujud Clarida. Dari mana lagi kalau bukan dia sendiri yang mengirimkan foto-foto randomnya sehari-hari. Clarida juga sudah mengenal saya dari foto-foto lama.
“Bill, kamu gak pernah update foto lagi?” Clarida bertanya pada suatu kesempatan ngobrol di chat.
“Biar kamu penasaran.” Jawab saya, singkat.
Hari ini, saya bayar rasa penasaranmu. Saya menunggu di pintu keluar stasiun dengan pakaian serba hitam. Pilihan bodoh karena Caridea belakangan ini panasnya minta ampun. Namun ini pakaian terbaik untuk ketemu Clarida. Ya, udah, lah, ya.
Dia datang. Perempuan dengan tinggi tidak melampaui telinga saya. Clarida memakai terusan warna pink dengan outer coklat motif bunga-bunga. Rambut hitam lurus sebahu diikat ekor kuda. Rona merah alami muncul di pipinya yang bulat, berpadu dengan alis hitam pekat dan hidung bulat buah jambu. Ada tas ransel biru tua di punggungnya. Dia menatap saya lurus-lurus, sambil pelan-pelan tersenyum.
“Hai, Billes! Akhirnya ketemu juga.”
Saya menjabat tangan kurusnya. “Hai, Clarida. Selamat datang di Kota Caridea. Mau ke mana dulu?”
“Ke mana saja. Aku ikut.”
“Oke.”
Pertama kali setelah bertahun-tahun, saya membonceng perempuan lagi. Kami tidak ke mana-mana. Hanya makan dan berkeliling Caridea dengan motor saya yang sangat berisik. Apalagi jalanan Caridea sangat padat. Motor dan mobil berhamburan seakan mencari sesuatu di tempat yang sama, memaksa kami lebih banyak diam. Setelah kurang lebih tiga puluh menit berkendara, kami berhenti di salah satu taman yang ternyata juga ramai. Saya mengajaknya duduk di salah satu sudutnya dan meninggalkannya sebentar untuk membeli kopi.
“Sudah gelas ke berapa hari ini?” tanya saya sambil menyodorkan segelas es kopi susu pada Clarida.
“Baru dua. Kamu sudah empat, ya?”
“Hampir benar, ini gelas kelima.” Saya duduk di sampingnya sambil menyeruput kopi hitam panas. “Tahu kenapa saya sengaja nggak aduk?”
“Biar dia berproses sendiri.”
Saya terkekeh. “Itu tau!”
Obrolan mengalir, tidak banyak berbeda dengan obrolan kami di chat. Kali ini, dan tidak pernah saya kira, saya yang lebih banyak bercerita. Bahkan menceritakan betapa kelam dan pahit hidup saya di masa lalu. Namun semua cerita mengalir alami, seperti bertemu dengan teman lama. Mungkin dopamin sudah membanjiri otak saya, meruntuhkan barikade dalam kepala. Logika, ego, idealisme, dan batas-batas yang saya bangun mendadak runtuh di hadapan perempuan ini. Sungguh. Sungguh di luar rencana dan prediksi saya.
Clarida sebenarnya biasa saja. Tipikal wajahnya mudah ditemukan di mana-mana. Namun dari senyum dan cara dia mendengarkan, saya tahu bahwa dia punya hati yang sangat lembut dan murni. Dia memang tidak secantik dia yang sebelumnya pernah hadir. Namun menit-menit bersamanya membuat saya kembali merasakan…pulang. Perasaan yang takut saya akui selama ini.
***
“Billes,” ucap Clarida sebelum memasuki pintu stasiun.
“Ya?”
“Jangan benci apapun yang pernah terjadi pada hidupmu, ya. Semuanya sudah diatur dengan sangat sempurna.”
“Saya tidak pernah membenci hidup saya, kok. Meskipun pahit.”
Clarida tersenyum. “Baguslah!”
Kami berjabat tangan. Lalu dia itu melambaikan tangan pada saya. Pelan-pelan sosok tubuhnya dilamun orang-orang yang keluar-masuk stasiun.
***
Kami hanya bersama selama tujuh jam di Caridea. Entah kenapa bayang-bayang perempuan itu tinggal lebih lama di kepala saya. Senyum dan setiap kata yang dia ucapkan kembali muncul sekelebat demi sekelebat. Bahkan ada hangat dalam dada saat bayang itu kembali lewat. Namun pada saat yang sama, otak saya seakan berhenti berfungsi. Pekerjaan terbengkalai. Konsentrasi buyar. Sampai bos menegur.
Tidak bisa. Tidak bisa begini terus.
“Hai, Billes.” Clarida mengirimkan pesan.
Jari saya sungguh ingin membalas. Otak berkata “tidak”.
Maafkan saya, Clarida.
***
Seminggu penuh, Clarida terus mengirim pesan dan tidak ada yang saya balas. Banjir dopamin kali ini berhasil diatasi. Kali ini logika juaranya.
Saya kalah, Clarida. Saya ingat kamu pernah bilang bahwa kamu suka menulis. Kamu juga bilang bahwa inspirasi menulismu berasal dari orang-orang yang ada di sekitarmu. Ada teman yang kamu tuliskan sebagai pahlawan, ada juga yang kamu jadikan monster.
Barangkali giliran saya sebentar lagi, Clarida. Barangkali saya akan tampil jadi antagonis di ceritamu. Cepat atau lambat. Barangkali saya akan abadi dalam ceritamu, meski nanti saya sudah mati. Maafkan saya, Clarida.
Perasaan itu kini punya nama. Dan saya memilih untuk tidak menyebutkannya. Bahkan untuk diri saya sendiri. Maka akhirnya saya tahu. Pertemuan mungkin selesai di dunia nyata, tapi tetap hidup di ingatan kita.
Luthfiana Izzaturrohmah. Bisa disapa melalui Instagram @luthfiana.izz




