
Salam hangat dari kami masyarakat Dusun Legok, Desa Tlaga, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas. Tempat yang paling pojok di Kabupaten Banyumas yang mana berbatasan langsung dengan Kecamatan Karangpucung, Cilacap dan hanya dipisahkan oleh hutan. Terkadang banyak juga yang masih belum tahu di mana itu Gumelar dan ketika ada yang menanyakan Gumelar itu di sebelah mana, saya biasanya menjawab setengah jam dari Ajibarang, dari taman kota lurus terus lewat pasar hewan. Karena banyak yang belum tau tentang kampung saya, Maka dari itu saya ingin sedikit bercerita di sini dalam rangka mengenalkan kampung saya. Mungkin cerita saya akan sedikit susah dibaca, karena sejatinya saya tidak bisa menulis namun hanya ingin bercerita.
Hari ini 21 Maret 2026 tepat salat idul fitri dilaksanakan oleh warga Dusun Legok. Pagi hari dengan cuaca yang sedikit mendung dan syahdu mengiringi langkah para jamaah menuju tempat sholat id dilaksanakan. Seluruh masyarakat tumpah ruah penuh sesak di lapangan voli mulai dari anak-anak, dewasa, hingga orang tua. Kami semua berkumpul dengan penuh sukacita menyambut hari kemenangan. Kemenangan setelah melaksanakan kewajiban di bulan ramadhan selama satu bulan penuh dengan harapan mendapat pahala dari Yang Maha Kuasa.
Masyarakat datang mengenakan pakaian terbaiknya yang pastinya baru saja dibeli spesial untuk idul fitri sebagaimana umumnya masyarakat Indonesia ketika datangnya idul fitri. Salat idul fitri dimulai dengan jamaah yang berbaris rapi sampai meluber ke teras rumah warga yang berada di samping lapangan voli tersebut. Setelah selesai sholat, Kepala Dusun kami sempat menyampaikan pidato dari Kepala Desa Tlaga yang biasanya melaksanakan sholat idul fitri itu bergiliran setiap tahunnya dari dusun satu ke dusun lainnya.
Singkat cerita, rangkaian salat idul fitri pun akhirnya selesai dengan lancar beserta jamaah yang sholat dengan sangat khusyuk. Tak lupa pula masyarakat di sini masih sangat mempertahankan tradisi halal bihalal atau berjabatan tangan antar seluruh masyarakat setelah selesainya sholat id. Halal bi halal dimulai dari para sesepuh serta orang tua yang duduk rapi terlebih dahulu dan yang muda secara berurutan berjabat tangan disertai dengan ucapan “minal aidzin wal faidzin”. Saking banyaknya masyarakat yang berkumpul, prosesi tersebut pun berurutan hingga memanjang ke jalan raya yang berlangsung cukup lama sampai saya sendiri bercucuran keringat. Antrean panjang tersebut tak lantas membuat animo masyarakat menjadi turun, justru yang terjadi malah sebaliknya.
Kebersamaan masyarakat di kampung kami tak selesai begitu saja setelah halal bi halal tadi. Setelah selesai jabat tangan, kami semua bergegas untuk menuju ke mushola RT masing masing untuk melaksanakan syukuran atau di kampung kami disebut dengan “kepungan”. Kami berkumpul di mushola yang berukuran kecil namun bisa membuat rasa persaudaraan antar masyarakat menjadi besar. Di mushola tersebut kami makan bersama dengan lauk yang masing-masing keluarga membawanya dari rumah. Walaupun lauk pauk yang dibawa relatif sama dengan ayam kampung sebagai menu utama, akan tetapi hal tersebutlah yang membuat kebersamaan semakin kental dengan saling bertukar lauk pauk. Ayam kampung biasanya disembelih ketika malam takbiran dan dimasak oleh ibu-ibu, sementara bapak-bapak pergi ke mushola untuk melaksanakan takbiran di malam sebelum sholat id hingga menjelang pagi.
Sebelum acara inti dimulai, sesepuh kami terlebih dahulu menyalakan kemenyan ataupun sejenis wewangian yang dibakar di atas bekas bara api memasak lauk pauk kepungan. Hal tersebut masih ada di tempat kami karena masyarakat kami masih sangat menjaga tradisi serta budaya yang diajarkan oleh nenek moyang jauh sebelum saya sendiri lahir. Dari situ bisa dinilai bahwasanya masyarakat sini sangatlah menghargai apa yang sudah diajarkan oleh para sesepuh di zaman dahulu kala.
Selain hal tersebut, beberapa orang tua di kampung kami juga masih melestarikan yang namanya sesajen atau disini disebut sajen dalam acara tertentu hingga ketika adanya panen padi. Sangat benar jika warga kampung sebelah mengomentari kami bahwasanya kampung kami masing sangat erat akan tradisi dan sangat melestarikan tradisi budaya leluhur kami. Walaupun terkait bab sesajen dari sisi agama sendiri sebenarnya tidak diperkenankan, akan tetapi dilihat dari sisi lain memiliki nilai sangat tinggi dalam menghargai makhluk yang berdampingan dengan manusia di dunia ini.
Kembali ke acara kepungan tadi yang mana acara dibuka dengan doa yang penuh makna dan harapan oleh tokoh agama yang ada di tempat kami. Selesai doa langsung masyarakat menyantap makanan dengan penuh rasa kehangatan di dalamnya. Diantara kita saling berbagi lauk pauk hingga saling bertukar cerita dengan orang perantauan yang baru pulang ketika lebaran tiba. Dari momen yang ada ketika kepungan tersebut membuktikan bahwasanya kepungan setelah idul fitri menjadi momen yang sangat spesial bagi masyarakat dalam merekatkan hubungan antar masyarakat kampung kami, mulai dari masyarakat asli hingga pendatang luar yang menikahi orang asli sini.
Sebenarnya kepungan di Dusun Legok, Desa Tlaga ini bukan hanya dilakukan ketika momen idul fitri saja. Namun, kepungan senantiasa dilaksanakan oleh masyarakat sini ketika ada hari-hari besar Islam ataupun hari besar nasional. Esensi daripada kepungan pada dasarnya bukan hanya sekedar merekatkan hubungan antar masyarakat, akan tetapi kepungan menurut masyarakat sini menjadi cara dalam mensyukuri berbagai nikmat tak terhingga dari Tuhan Yang Maha Esa.
Masyarakat di sini percaya bahwasanya manusia hanyalah makhluk kecil yang tidak bisa apa-apa tanpa adanya Tuhan, maka dari itu kepungan ada sebagai rasa ungkapan terima kasih kepada Tuhan. Pada akhirnya kepungan sendiri merupakan penerapan antara hablum minannas meliputi merekatkan hubungan antar masyarakat dan hablum minallah meliputi hubungan manusia dengan Allah dengan cara mengungkapkan rasa syukur atas nikmat Allah SWT.
Tegar Dwi Firmansyah, berasal dari Legok, Desa Tlaga, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas. Ia merupakan mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto yang juga aktif di Himpunan Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam dan kader dari PMII Rayon Dakwah. Bisa disapa melalui Instagram @firmansyahhtgr_




