Petang di Batas Desa dan Puisi Lainnya

Detak Kereta,
Mengular Sepanjang Kelokan

kereta mulai mengular panjang
dengan detak mesin yang nyaring.
— memecah sunyi, membelah belantara cinta.

gerbong panjang mengular dari masa ke masa.
membunyikannya degup jantung yang berdetak
melewati rerimbunan pohon waktu.
orang-orang pun sibuk, pula yang tertunduk
— berbicara diri ke dalam hati.
sedang aku menatap jauh di antara kaca dan kau.

sesampainya di pemberhentian pertama.
semula darah yang mengalir bak laju kereta, berhenti di dadaku.
ia membangun kehidupan di antara rusuk, jantung, dan hati.
kemudian menjadi negara dalam kepala, juga lusinan pertanyaan.
pada akhirnya pelan-pelan membentuk wajahmu.

kereta kembali mengular panjang
dengan detak mesin yang nyaring. memecah sunyi,
membelah belantara cinta. dan berdegup-degup sepenjang kelokan.

2025

***

Pusaran

senandung lirih menghalangi
keheninganmu pada rimbun
hembusan dedaunan tua
yang bertahan atas rapuh
ranting pepohonan renung

aku harap suara burung
yang sesekali hinggap
menyanyikan ketenanganmu

dengarkanlah
dengarkanlah
senandung
damai pagi milik manusia

kawanku yang lain dari ini
mungkin ombak laut yang menghantam
mungkin sungai yang deras
mungkin bebatuan yang keras
mungkin adalah
kita.

bagai diri gulma yang menjalar liar dalam dirimu,
pada tatap matamu kutemukan ketenangan lain,
ajaklah aku menuju duniamu kawan.

relakanlah
relakanlah
jangan lari lagi dari
senandungmu


2026

***

Pada Suatu Nanti

pada suatu nanti.
saat kau hilang kemudi
di kelok sepi
meradanglah
: angkasa raya

‘kuajak kau bersembunyi
pada kering punggung bukit
dari sunyi musim kemarau
yang berpusar pada perut zaman edan
bagai kaum histeria yang tertelan
oleh dinding kepalanya yang hitam
atau dada yang nyeri sekali.

2026

***

Petang di Batas Desa

ketika kau pergi, langit makin kering.
angin tak datang, yang biasa
lewati pucuk pohon randu
di simpang jalan, menuju rumahku.

petang hampir berlalu
kududuk, tak menentu
memainkan batu-batu
di simpang jalan bawah pohon randu

empat, lima batu aku simpan di saku
tepat sembilan angka kesukaanmu
ku gengam batu dalam saku
menembus petang, di batas desa.
: batu-batu selalu
bawakan dingin
pagimu, yang lain
dari petangku.

2025

***

Hari: Dua

hari ini terapiku berhasil menjawab tangis yang sedari tadi tertahan. kurapal lirih doamu yang terbata-bata yang setulus embun dedaunan di pagi hari. panjangkan nafasmu ucapmu padaku, hembuskan pelan dan hiruplah damai pepohonan yang mekar menjulang menantang langit biru. sedang kenali lagi nafas kita, usap lembut tanah yang kita pijak, tanah yang akan menjadi rumah, tanah yang akan kita wariskan dan tanah yang kita gali sendiri di kemudian hari.

hari itu ibu terlalu lama menanti anak-anaknya yang jauh dari peluk kasih. tatap ibu pada pintu tak berubah sejak pertama kali anak-anaknya keluar rumah. masih sama. selalu seperti itu. tatapnya. sayunya. rindunya. kapan kita akan memeluk hatinya yang menanti? apa yang akan kita bawa selain sebungkus keluh? siapa lagi yang takut untuk pulang, adakah selain kita?

oh, bulan beriak
malamku sepi, Ma.

2025

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top