
Supaya lebih utuh seluruh, bacalah terlebih dulu:
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 1)
Balada Nafas yang Menulis Rahasia
Setiap hela nafas adalah huruf
yang dituliskan tubuhku diam-diam
pada lembar rahasia
antara denyut jantung
dan sepi subuh.
Tak semua bisa kubaca,
namun aku tahu:
ada makna yang ingin disampaikan Tuhan
melalui sesak
dan lega
yang silih berganti.
Pernah suatu malam
aku mendengar nafasku
berubah menjadi dzikir pelan,
seperti seorang anak
yang belajar mengeja nama-Nya
dalam gelap
dengan gemetar
dan harap
yang tak putus.
Terkadang ia tercekat
bukan karena dosa yang besar,
melainkan karena rindu
yang belum sempat dipulangkan.
Istriku melihatku terlelap
dengan alat bantu di wajah,
dan aku tahu:
di balik sunyinya tangisnya,
ada doa yang mengalir lebih deras
dari aliran darahku sendiri.
“Jangan paksa tubuh itu,” katanya
suatu pagi,
“biarlah ia menulis seturut irama
yang Kau izinkan.”
Lalu ia menyiapkan
air hangat dan senyum,
seolah dunia
masih bisa dimulai ulang
dengan secangkir kesetiaan.
Kini, setiap tarikan nafas
bukan sekadar bertahan,
tapi membaca ulang hidup
dari dalam,
dari dalam sekali.
Dan setiap embusan,
kutitipkan harap,
agar rahasia ini
tersampaikan
pada langit,
pada cahaya,
pada-Nya yang Maha Mendengar
segala yang tak sempat terucap,
hingga nafasku menjadi zikir,
dan hidupku menjadi doa.
2025
***
Surat untuk Kolesterol
dan Dosa-dosa Lama
Kolesterol,
engkau menari diam-diam dalam tubuhku,
seperti bisikan yang tak terlihat,
seperti luka yang tak terucap,
namun tetap hadir
meski kuharap kau pergi.
Dosa-dosa lama,
kenapa kalian bersembunyi
di antara nadi-nadi letih ini?
Menyusup di setiap langkah,
meski aku telah berdoa
agar terbebas dari bayangmu.
Setiap nafas adalah harap,
detak jantungku penyesalan,
tapi kalian tetap mengisi ruang
seperti aroma yang tak bisa disingkirkan.
Kolesterol,
apa yang kau inginkan dariku?
Tangis untuk setiap makanan
yang salah kutelan?
Untuk momen yang hilang
tanpa makna?
Apakah semua harus kubayar
dengan tubuh yang perlahan patah,
karena dosa-dosa kecil
yang tak kecil bagi waktu?
Dosa-dosa lama,
aku mencintaimu dalam diam,
seperti mencintai luka
yang tak bisa kupisah dari tubuh.
Engkau kenangan yang menetap,
mengalir di darah,
seperti zikir yang tak bisa kuhapus.
Adakah pengampunan
untuk jiwa yang lelah?
Tempat bagi penyesalan
yang tak bisa kubatalkan?
Aku menulis surat ini,
untukmu,
untuk diriku,
agar aku mengerti,
agar aku bisa memaafkan,
dan berdamai
dengan masa lalu
yang tetap menatap dari cermin.
Tapi meski tubuh ini lelah
dan jiwa merintih,
aku tahu:
kau tak bisa mengalahkan cinta
yang masih kuberi pada hidup.
Karena aku masih ingin hidup,
meski dalam rasa yang pahit,
meski dalam detik-detik
yang memikul beban dunia.
2025
***
Rindu yang Membeku di Nadi
Rindu ini membeku
di sela nadi yang terhenti,
seperti embun di ujung malam
yang menunggu fajar datang.
Ia tidak lagi berbisik,
hanya terdiam dalam lengang
di setiap lekuk tubuh yang letih.
Dulu ia mengalir lembut,
sekarang ia membeku,
terkunci di balik dinding sunyi.
Terkadang, ia mengingatkan aku
pada hembusan angin yang terhalang,
pada dingin yang mengikatkan tubuh
pada waktu yang tak pernah kembali.
Dan aku menunggu
suhu yang ingin mencairkannya,
tatap yang hilang
dan tak bisa kutemui lagi.
Rindu ini,
seperti es yang tak bisa mencair,
hanya menunggu
pada bisu yang semakin panjang,
berharap kehangatan
akan datang untuk mencairkannya.
2025
***
Diam yang Berbunyi
Diam ini,
bukan sekadar hampa,
ia adalah air mata yang tak mengalir,
terkunci dalam rongga dada,
menunggu saat untuk meledak.
Di sini,
aku mendengar suara hatimu
bergetar dalam angin malam,
seperti desir yang tidak diucapkan,
seperti rahasia yang hanya kita ketahui,
tapi tak pernah ada yang berani berbicara.
Kau pergi,
dan aku tetap di sini,
berbicara dalam diam,
menunggu bisu yang menghabiskan kata-kata,
menunggu rindu yang terbenam dalam kegelapan.
Lidahku terkunci,
tapi mataku menceritakan segalanya:
bahwa aku masih mendengar suaramu,
masih merasakan tubuhmu dalam udara,
dan setiap detak jantungku adalah namamu
yang bergetar dalam tubuh ini.
Aku tahu,
di balik setiap hening ini,
ada satu jeritan yang tak terdengar,
seperti janji yang terlepas dari bibir,
seperti cinta yang hancur
karena tak pernah cukup dijaga.
Diam ini adalah bukti dari segala yang hilang,
seperti tubuh yang menunggu jiwa,
seperti langit yang menunggu bintang
untuk menyinari malam yang kelam.
2025
***
Balada Sekarat Sunyi
Aku terkulai dalam keheningan,
seperti bunga yang jatuh tanpa suara,
di malam yang menelan bulan,
seperti nafas yang hilang dalam ruang hampa.
Bumi merintih, luka-luka tak terucap,
angin menggigit dalam bisu yang memeluk,
membawa pergi segala yang ada
dari hati yang telah terlalu lama menunggu.
Dalam gelap yang mencekam,
jejakmu hanya bayangan
di antara kabut dan pasir waktu.
Cahaya yang terpasung,
terperangkap dalam tubuh yang letih,
seperti darah yang enggan mengalir
di urat nadi yang terhenti.
Dan dalam kesunyian ini,
satu suara terdengar,
bukan milik siapa pun
selain diam itu sendiri.
Diam yang berbicara tanpa kata,
hanya isyarat yang menyusup
ke setiap celah hatiku.
Aku menunggu,
seperti tanah yang haus
menanti hujan yang tak datang,
menanti hidup yang terlepas
dari nafas yang semakin memudar.
Bintang bersembunyi
di balik tirai malam yang berat,
tak ingin melihatku terkulai
dalam jarak yang semakin jauh
antara aku dan dunia yang memudar.
Aku bertanya pada malam,
Apakah ini akhir dari segala harapan?
Atau hanya penantian
yang semakin menguburku dalam kesakitan?
Dalam pelipisan sunyi,
aku hanyalah sekarat
yang menunggu
keheningan yang lebih dalam.
2025
***
Abdul Wachid B.S. penyair yang lahir 7 Oktober 1966 di Lamongan Jawa Timur. Ia mendapatkan penghargaan tertinggi Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) pada 7 Oktober 2021 untuk buku esainya, Sastra Pencerahan (Penerbit Basabasi, 2020). Selain sastrawan, ia menjadi Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.




