
Lagu merupakan media ekspresi yang mampu menyampaikan berbagai emosi, pengalaman, dan pandangan hidup melalui simbol-simbol bahasa. Di dalamnya, lirik berperan sebagai unsur utama yang menjembatani kondisi batin pencipta dengan pendengar. Seperti halnya puisi, lirik lagu memiliki kedekatan dengan karya sastra karena menggunakan bahasa estetis, metafora, dan pilihan diksi yang sarat makna. Melalui lirik, lagu tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana penyampaian pesan, refleksi sosial, dan bahkan pembentuk sikap serta perilaku pendengarnya. Salah satu pesan yang kerap dihadirkan dalam lirik lagu adalah afirmasi positif, yakni pernyataan yang bertujuan memperkuat keyakinan diri, menumbuhkan pikiran positif, dan mendorong perubahan sikap ke arah yang lebih baik.
Aviwkila merupakan salah satu musisi Indonesia yang secara konsisten menghadirkan lirik bermuatan afirmasi positif. Sejak tahun 2024, Aviwkila berkomitmen untuk merilis lagu-lagu dengan pesan positif yang diyakini memiliki kekuatan layaknya doa. Salah satu karya yang merepresentasikan arah artistik tersebut adalah lagu “Mantra Uang”, yang dirancang sebagai lagu afirmasi dengan pengulangan kalimat positif dan nuansa musikal yang menenangkan. Lagu ini menarik perhatian publik karena memuat konstruksi makna afirmatif yang kuat. Melalui pendekatan semiotika Ferdinand de Saussure, lirik “Mantra Uang” dapat dipahami sebagai rangkaian tanda linguistik yang membentuk makna afirmasi positif melalui relasi antara penanda dan petanda. Ditemukan beberapa penanda dan petanda yang berkaitan dengan afirmasi positif pada lirik lagu “Mantra Uang”. Berikut adalah bentuk afirmasi positif yang ditemukan dalam lirik lagu “Mantra Uang” karya Aviwkila berdasarkan pendekatan semiotika Saussure.
Uang selalu datang ke rekeningku
Puluhan ratusan juta selalu
Kaya raya sehat bahagia diriku
Hati penuh rasa syukur
Lirik-lirik dalam bait pertama lagu tersebut membangun representasi tentang kemudahan dan keberlimpahan rezeki berupa materi melalui penanda-penanda seperti “uang selalu datang” dan “puluhan ratusan juta”. Bait pertama lagu ini berfungsi sebagai dasar afirmasi, yakni pondasi makna yang memperkenalkan konsep bahwa keberlimpahan materi dapat dicapai melalui keyakinan positif. Meski terdapat representasi keberuntungan dan kemudahan lain, bait pertama menekankan pada afirmasi keberuntungan materi.
Uang mengalir deras dalam hidupku
Terus menerus selalu menghujaniku
Hidup beruntung dan penuh kelimpahan
Kaya raya sehat bahagia
Sejalan dengan lirik-lirik pada bait pertama, lirik-lirik pada bait kedua lagu “Mantra Uang” menampilkan penanda-penanda yang berorientasi pada gambaran keberlimpahan, kemudahan, dan keberuntungan, seperti “uang mengalir deras dalam hidupku” dan “terus menerus selalu menghujaniku”. Namun, pada bait kedua, keberlimpahan, kemudahan, dan keberuntungan itu lebih difokuskan pada kenyamanan hidup. Kenyamanan hidup yang digambarkan dalam bait kedua antara lain rezeki yang semakin berlimpah, kesehatan, kebahagiaan, dan kestabilan. Dengan demikian, bait kedua lagu ini merupakan perluasan cakupan afirmasi dari keberuntungan ekonomi menjadi keseimbangan hidup yang lebih menyeluruh.
Hidupku kini mudah hidupku kini indah
Semua yang kubutuhkan selalu ada
Tubuhku semakin sehat jiwaku semakin kuat
Terima kasih Tuhan aku bahagia
Kemudian, pada bait ketiga lagu “Mantra Uang” ditemukan penanda-penanda yang mewakili gambaran rasa syukur atas keberlimpahan, kemudahan, dan keberuntungan yang telah diterima. Lirik “tubuhku semakin sehat jiwaku semakin kuat” dan “terima kasih Tuhan aku bahagia” menunjukkan bahwa afirmasi tidak hanya menghasilkan kelimpahan materi dan kenyamanan hidup, tetapi juga meningkatkan kualitas diri secara fisik, mental, dan spiritual. Lirik-lirik pada bait ini menggambarkan adanya hubungan manusia yang menerima keberkahan dengan Tuhan sebagai pemberi berkah.
Berdasarkan analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa lagu “Mantra Uang” karya Aviwkila secara konsisten membangun representasi afirmasi positif melalui hubungan sistematis antara penanda berupa kata, frasa, kalimat, dan metafora, dengan petanda berupa konsep-konsep mengenai kelimpahan, kemudahan hidup, kesehatan, kebahagiaan, serta rasa syukur. Lirik-lirik pada setiap bait lagu berperan membentuk pengaruh sugestif bagi pendengar melalui repetisi kalimat-kalimat bermuatan motivatif untuk kemudian ditanamkan dalam keyakinan mengenai tercapainya sebuah kehidupan ideal.
Bait pertama merupakan dasar afirmasi positif mengenai keberlimpahan materi dan kemudahan memperoleh rezeki. Bait kedua merupakan keberlanjutan dari afirmasi sebelumnya, yakni berupa perluasan dari konsep rezeki pada bait pertama berupa kenyamanan hidup. Bait ketiga merepresentasikan nilai spiritual berupa rasa syukur kepada pemberi berkah.
Secara keseluruhan, melalui pendekatan semiotika Saussure, lagu “Mantra Uang” dapat dipahami sebagai susunan makna yang mengintegrasikan unsur-unsur linguistik dengan konsep afirmasi positif. Hubungan antara penanda dan petanda dalam lirik membentuk sistem makna yang tidak hanya menggambarkan kelimpahan secara material, tetapi juga menciptakan gambaran kehidupan yang ideal dan penuh rasa syukur. Dengan demikian, lagu ini berfungsi sebagai media afirmasi yang tidak hanya menguatkan keyakinan pendengar mengenai kemudahan rezeki, tetapi juga menghadirkan gambaran keseimbangan antara aspek ekonomi, emosional, dan spiritual dalam kehidupan.
Berdasarkan hasil analisis menggunakan teori semiotika Ferdinand de Saussure di atas dapat disimpulkan bahwa afirmasi positif terkandung dalam penanda-penanda yang ditemukan pada lirik lagu “Mantra Uang” karya Aviwkila. Afirmasi positif tersebut berbentuk kalimat positif yang memuat beberapa hal, antara lain kemudahan hidup, kesehatan, kebahagiaan, serta rasa syukur. Hubungan antara penanda berupa diksi dan metafora dalam lirik dengan petanda berupa konsep keberlimpahan dan kesejahteraan membentuk representasi yang konsisten mengenai kehidupan ideal yang ingin dicapai melalui afirmasi. Dengan demikian, lagu ini tidak hanya menampilkan ekspresi artistik, tetapi juga berfungsi sebagai media sugestif yang mendorong internalisasi pikiran positif pada pendengarnya.
Hasna Nur Azizah, lahir di Banyumas pada bulan April. Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta ini tinggal di Randengan, Wangon, Banyumas. Bisa disapa melalui Ig @hsnrzz_.




