
Kajian sastra modern kerap menempatkan karya sastra sebagai entitas yang tidak berdiri sendiri. Karya sastra selalu lahir dalam jejaring sejarah, budaya, dan teks-teks lain yang telah lebih dulu ada. Sebuah teks sastra memiliki hubungan kesejarahan dengan karya-karya baik yang muncul sezaman, sebelum, maupun sesudahnya. Hubungan tersebut dapat berupa persamaan, pengembangan, atau justru pertentangan. Oleh karena itu, untuk memahami karya secara utuh, pembaca perlu menelusuri relasi-relasi yang tersembunyi di balik teks, terutama melalui unsur intrinsik seperti tema, alur, tokoh, dan latar (setting).
Dalam konteks inilah, konsep intertekstualitas menjadi penting. Interteks dipahami sebagai jaringan hubungan antara satu teks dengan teks lain. Karya sastra pada dasarnya merupakan hasil dialog dengan karya-karya sebelumnya. Intertekstualitas menunjukkan bahwa teks baru tidak sepenuhnya orisinal, melainkan merupakan hasil transformasi, reinterpretasi, atau pembongkaran terhadap teks lama. Relasi antarteks ini tidak hanya menyentuh gagasan atau ide pokok, tetapi juga mencakup struktur penceritaan, penokohan, serta cara cerita itu dibangun.
Novel Drupadi karya Seno Gumira Ajidarma (SGA) menjadi salah satu contoh transformasi teks yang memikat saat menghadirkan sosok Drupadi, tokoh sentral dalam epos Mahabharata. SGA memilih nama Drupadi yang selaras dengan panggilan dalam versi Jawa. Di dalam novel ini, SGA secara khusus memfokuskan lensa narasinya pada satu tokoh tunggal, yakni Drupadi. Ia digambarkannya sebagai perempuan yang menjalani poliandri dengan lima suami (Pandawa), sekaligus sosok yang gigih memperjuangkan hak-haknya sebagai perempuan. Meskipun tokoh Drupadi dalam epos Mahabharata tampak tidak jauh berbeda dengan yang dihadirkan kembali oleh SGA, muncul sebuah pertanyaan mendasar: apa yang sebenarnya membuatnya berbeda? Untuk menjawab rasa penasaran tersebut, kita perlu menelaah hubungan di antara kedua teks ini melalui kacamata intertekstual yang mampu membedah proses transformasi karya secara mendalam.
Menurut Rohman, metode intertekstual merupakan teknik kajian sastra yang berpijak pada asumsi bahwa tidak ada karya yang benar-benar lahir tanpa pengaruh karya lain. Hubungan antarkarya dapat bersifat pengaruh langsung (influence), yaitu ketika satu karya menjadi sumber bagi karya berikutnya, atau bersifat kebetulan (immanence), ketika dua karya membicarakan tema yang sama tanpa hubungan langsung. Dalam kasus novel Drupadi, hubungan yang terjalin jelas merupakan hubungan pengaruh, sebab SGA secara sadar mengolah kembali kisah yang telah mapan dalam tradisi epos Mahabharata.
Pandangan ini sejalan dengan gagasan Riffaterre yang menyatakan bahwa sebuah teks pada dasarnya telah “dipenuhi oleh teks-teks lain. Dengan demikian, konsep orisinalitas dalam sastra menjadi relatif. Teeuw juga menegaskan bahwa karya sastra tidak pernah lahir dalam ruang budaya yang kosong. Ia selalu terikat pada konteks sosial, budaya, dan sastra yang melingkupinya. Oleh sebab itu, kajian intertekstual menuntut metode perbandingan yang cermat, dengan menjajarkan unsur-unsur struktur teks secara menyeluruh agar hubungan antarteks dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Dalam novel Drupadi, SGA melakukan transformasi signifikan terhadap struktur batin cerita Mahabharata. Meskipun ide dasar, nama tokoh, dan garis besar alur tetap merujuk pada epos aslinya, SGA menghadirkan berbagai perubahan yang memberi makna baru. Salah satu perbedaan paling menonjol terlihat pada penggambaran kelahiran Drupadi. Dalam Mahabharata, Drupadi lahir melalui ritual Putrakama Yadnya yang dilakukan Raja Drupada dan muncul dari api suci sebagai anugerah para dewa. Sebaliknya, SGA memilih gambaran yang lebih simbolik dan puitik dengan menyatakan bahwa Drupadi tidak pernah dilahirkan, melainkan, “Ia diciptakan dari sekuntum bunga teratai yang sedang merekah,” (hlm. 2). Perubahan ini menandai upaya SGA untuk melepaskan Drupadi dari sistem ritual patriarkal yang mengontrol asal-usulnya.
Meski demikian, terdapat pula unsur yang dipertahankan secara konsisten, salah satunya adalah penggambaran kecantikan Drupadi. Baik dalam epos Mahabharata maupun dalam novel Drupadi, tokoh ini digambarkan sebagai perempuan yang luar biasa cantik. SGA memperkuat citra tersebut melalui deskripsi yang berulang dan detail, semisal: “Begitu cantiknya Drupadi memang, matanya berbinar-binar dan bersinar membuat mata siapa pun yang memandang tiada bisa lepas lagi darinya,” (hlm. 17). Namun, yang membedakan adalah fokus narasinya. Jika dalam Mahabharata kecantikan Drupadi sering menjadi pemicu konflik antarlelaki, dalam novel SGA kecantikan itu justru menjadi pintu masuk untuk menyoroti posisi perempuan dalam budaya patriarki.
Perbedaan yang paling drastis terlihat pada peristiwa penghinaan terhadap Drupadi setelah Pandawa kalah berjudi melawan Kurawa. Dalam Mahabharata, Drupadi memang dipermalukan oleh Dursasana, tetapi ia masih mendapatkan perlindungan ilahi dari Kresna yang membuat kainnya tidak habis ditarik. Sebaliknya, dalam novel Drupadi, SGA menghilangkan kehadiran pertolongan ilahi tersebut. Drupadi diseret, ditelanjangi, dan diperkosa secara brutal, sementara Pandawa hanya diam menyaksikan. Bahkan, seorang perempuan dari pihak Kurawa turut serta mempermalukannya. Penghilangan peran Kresna ini mempertegas kritik SGA terhadap ketidakadilan struktural yang dialami perempuan dan menolak anggapan bahwa keselamatan perempuan selalu bergantung pada kekuatan laki-laki atau Ilahi.
Transformasi lain tampak pada perubahan latar dan aspek genealogis. Jika dalam Mahabharata perjalanan terakhir Pandawa berakhir di Pegunungan Himalaya, SGA memindahkan latar tersebut ke Gunung Semeru di Indonesia. Selain itu, SGA menghadirkan Pancawala sebagai anak Drupadi dari kelima suaminya tanpa memperjelas ayah biologisnya, berbeda dengan versi Jawa yang menyesuaikannya dengan perkembangan budaya Islam.
Puncak transformasi intertekstual terlihat pada bab “Wacana Drupadi”, di mana tokoh ini tampil sebagai perempuan yang secara sadar memperjuangkan hak dan martabatnya. Drupadi menjelma dari sekadar objek penderitaan menjadi subjek yang bersuara lantang menentang ketidakadilan. Ia mempertanyakan keputusan Yudhistira yang mempertaruhkan dirinya dalam perjudian dan menolak anggapan bahwa kehormatan perempuan dapat dijadikan alat tawar-menawar. Dalam konteks ini, SGA menampilkan Drupadi sebagai simbol perlawanan terhadap budaya patriarki yang menindas.Dari situ, maka kita dapat menyimpulkan bahwa epos Mahabharata karya Begawan Byasa tetap menjadi rujukan utama novel Drupadi karya SGA. Namun, SGA tidak sebatas menyalin kisah lama: ia melakukan reinterpretasi kritis dengan memusatkan perhatian pada pengalaman dan suara perempuan. Drupadi dalam novel ini tampil sebagai sosok yang cerdas, berani, dan sadar akan hak-haknya. Kehadiran novel Drupadi karya SGA, di titik ini, akhirnya bisa kita lihat sebagai pembuka ruang refleksi baru tentang posisi perempuan dalam sastra dan budaya.
Referensi:
– Pradopo, Rachmat Djoko. (2007). Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
– Ajidarma, Seno Gumira. (2017). Drupadi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
– Rohman, Saifur. (2012). Pengantar Metodologi Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
– Endraswara, Suwardi. (2002). Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi. Jakarta: CAPS.
Hatindriya Hangganararas, ibu rumah tangga yang bekerja serabutan. Baru pede meperlihatkan tulisan dari cuap-cuap santainya yang isinya kadang mbuh apa. Bisa silahturahmi dengan mengunjungi akun X @redpetals_.




