
Kopi Ketenangan
Di ufuk barat, sang surya telah pamit pergi
Menggantungkan senyum terakhir di cakrawala sunyi
Gelap merangkak perlahan, membungkus bumi
Kerlip bintang menari menemani rembulan berseri
Malam pun tiba, dengan sunyi yang dalam
Alam yang rumit kini dalam keheningan
Di sudut malam di bawah naungan temaram
Seorang remaja duduk merenung dalam kesunyian
Di tangannya secangkir kopi hitam mengepulkan uap
Aromanya semerbak memenuhi ruangan sepi
Bagaikan harum bunga di taman yang senyap
Membawa damai membawa ketenangan hati
Setiap tegukan adalah pelukan hangat
Mengusir resah, menjauhkan segala penat
Kopi itu layaknya tamu agung yang terhormat
Yang datang membawa kebahagiaan yang melekat
Purbalingga, 03 Desember 2025
***
Di Mana Arus Membawamu
Tuhan tak membentangkan peta di atas meja,
Hanya memberi kaki untuk melangkah, dan hati untuk merasa.
Dia tak mendikte ke mana jalan harus kautuju,
Namun Dia bebaskan jemarimu memilih pintu yang kaumau.
Maka mengalirlah seperti air, tenang namun pasti,
Ikuti ritme nafasmu, lewati karang yang menyepi.
Jangan takut akan henti, jangan cemas akan garis akhir,
Sebab setiap langkah adalah takdir yang sedang terukir.
Ketahuilah, keberhasilan bukan gedung yang menjulang tinggi,
Melainkan caramu belajar dari kesalahan yang kau dapati.
Sebab hidup bukan sekadar urusan dunia yang fana,
Tapi tentang persiapan untuk keabadian yang nyata.
Bukan sejauh mana kakimu sudah berpijak mendaki,
Atau sebanyak apa harta yang kausimpan dalam peti.
Namun, seberapa teduh tanganmu memberi perlindungan,
Dan seberapa luas manfaatmu menebar kebaikan.
Purbalingga, 10 Desember 2025
***
Supra Menuju Kampus
Pagi belum sepenuhnya bangun
aku dan Supra sudah di jalan
jaket tipis, tas di punggung
kopi tertinggal, mimpi ikut jalan.
Satu kick, mesin menyapa
setia seperti biasa
lampu merah jadi tempat
menghafal ulang materi dan doa.
Supra tua tak banyak gaya
tapi selalu sampai tujuan
melewati macet dan lubang
demi absen dan masa depan.
Di parkiran kampus ia menunggu
panas, hujan, tanpa suara
sementara aku belajar hidup
agar suatu hari bisa pulang lebih bangga.
Purbalingga,11 Desember 2025
***
Anak Muda di Sudut Jalan
Di sudut jalan yang sepi itu
Di mana bayang-bayang malam mulai bersekutu
Tampak ada satu anak muda yang berdiri kaku
Menatap jauh ke arah yang tak tertentu
Yang memakai pakaian rapi dan terlihat kontras
Dengan latar belakang tembok yang keras
Dilihat dari raut wajahnya segar penuh bekas
Kehidupan yang belum sepenuhnya tuntas
Ia sedang memikirkan sesuatu, pikiranya melayang
Mencari jawaban di tengah kebimbangan yang datang
Entah tentang masa depannya yang masih terbentang
Penuh misteri,harapan,dan mungkin juga bimbang
Atau masa lalunya yang telah berlalu
Menyisakan kenangan, tawa, dan mungkin pilu
Di persimpangan waktu ia termangu
Mencari arah mencari makna dalam diam yang membisu
Purbalingga, 05 Desember 2025
***
Makin Alfaruqi lahir di Purbalingga tahun 2008. Ketertarikannya terhadap menulis tumbuh dari kebiasaannya mengamati hal-hal sederhana di sekitarnya dan menuangkannya ke dalam kata-kata.




