Rintik Hujan di atas Buku Harian

Munajat Cinta di depan Ka’bah

Ya Allah…
Engkau tiupkan aku ke dunia,
Engkau penuhi dadaku dengan cinta
cinta kepada-Mu,
cinta kepada segala yang Engkau cipta.

Tetapi lihatlah, ya Allah,
di antara semua cinta yang Kau hembuskan,
ada satu yang begitu memenuhi jiwaku
cinta yang Kau takdirkan sejak azali,
cinta yang Kau ukir di Lauhul Mahfuz,
cinta yang Kau sebut sebagai jodoh.

Maka jangan biarkan angin dunia
mengombang-ambingkan hatiku,
jangan palingkan pandanganku kepada selainnya.
Sebab ia adalah bayangan yang Kau ciptakan untukku,
seperti bulan yang tak terpisahkan dari malam,
seperti embun yang selalu mencari daunnya.

Ya Allah…
Satukan kami dalam cahaya-Mu,
biarkan cinta ini menari dalam takdir yang Kau tulis,
biarkan ia terus bernyanyi dalam dzikir,
hingga hari ketika Engkau memanggil kami pulang,
dan di hadapan-Mu, kami tetap sepasang.

Juni 2022 –
Ramadan 1446 H

***

Mihrab Cinta

Aku duduk di pelataran sunyi,
di depan Mihrab Cinta,
menunggu jawaban dari rahasia
yang tak terungkap,
menunggu Engkau, ya Allah,
yang selalu memanggil tanpa suara,
yang merangkul tanpa sentuhan.

Cinta ini
bukanlah kata yang diucapkan dengan bibir,
bukanlah janji yang digantungkan di langit,
tetapi cinta yang melintasi keheningan,
mencari jejak-jejak-Nya
di setiap detak jantungku.

Kau yang memberi cahaya di dalam gelap,
Kau yang menciptakan bayangan,
Kau yang mengalirkan sungai tanpa ujung,
dan aku hanyalah setetes air
yang mencarimu dalam aliran yang tak tampak.

Biarkan aku menjadi jiwa yang mencintaimu,
melihat dunia dengan mata
yang menyatu dalam-Nya,
melihat setiap wajah sebagai
pancaran dari Wajah-Mu,
dan menyentuh setiap tangan sebagai
sentuhan dari Kasih-Mu.

Jodoh ini
bukanlah pertemuan dua insan
yang hanya bernafsu pada bentuk,
tetapi pertemuan dua jiwa
yang saling mencari Tuhan
dalam setiap nafas, dalam setiap doa.

Jika cinta ini adalah pelita,
biarkan ia bersinar dengan api
yang tak pernah padam,
dengan api yang menyulutkan hatiku
untuk terus berjalan menuju-Mu,
mencari-Mu dalam setiap langkah,
seperti kekasih yang tak pernah berhenti mencari
tulang rusuknya yang hilang.

Dan jika cinta ini adalah suatu perjalanan,
maka biarkan kami terus berjalan
meski jalan itu tak tampak,
meski tubuh kami lelah,
karena dalam lelah itu, kami akan menemukan
apa yang tak terlihat oleh mata biasa.

Ya Allah,
di hadapan-Mu, kami hanya butiran debu,
tetapi dalam kasih-Mu, kami menemukan langit.

2022, 2025

***

Fatihah untuk Kekasih

Di antara rintik yang jatuh dari langit
ada namamu kusebut tanpa suara
hanya gemetar di dada
dan desir nafas yang nyaris hilang
menjadi dzikir paling sunyi.

Aku datang, Kekasih
dengan bunga yang tak berani mekar
dan air mata yang kutanam di telapak doa.
Kau tidur dalam cahaya
sementara aku masih menyusuri jejakmu
dari mimpi ke sepi.

Apakah kau mendengar Fatihahku?
yang kubaca bukan hanya dari lidah
tapi dari setiap denyut dan
luka yang belum sembuh.
Aku tak tahu jalan ke surga
tapi kutahu, kau adalah petanya
kau adalah airmata yang menuntunku
dalam malam yang penuh kabut rahasia.

Hari ini, tak ada yang kubawa
selain cinta yang belum usai
dan selembar harap yang kuselipkan
di antara lipatan sajadahmu yang kosong.
Bacalah, wahai yang telah pergi
Fatihah ini adalah tangisku
yang ingin kau peluk
di langit yang tak lagi punya jarak.

2022, 2025

***

Doa dalam Diam

Aku mencintaimu
dalam diam yang tak bertepi,
seperti laut mencintai langit
tak bersentuh tapi saling menampung cahaya.

Aku merindukanmu
dalam sunyi yang tak bernama,
seperti akar mencintai hujan
dalam gelap, ia hidup dan diam-diam tumbuh.

Aku menyebut namamu
di dalam setiap hela nafas,
tak dengan suara
tapi dengan denyut di dada.

Sejak kupahami bahwa cinta
adalah bahasa yang hanya dimengerti langit,
aku tak lagi mengirimkan kata,
hanya sujud,
hanya air mata,
hanya kau dalam setiap Fatihahku.

2022, 2025

***

Balada Lelaki yang Terlambat Pulang

Ia keluar rumah sebelum fajar,
membawa cium istrinya di sudut dahi,
sepotong doa dari bibir anak-anaknya,
dan denting rindu yang belum selesai.

Langit masih mengenali langkahnya,
tapi lampu-lampu telah lelah menunggu.
Ia berjalan malam-malam
melewati gang-gang yang menghafal namanya
dengan wajah yang dilipat sunyi.

Setiap hari ia pulang tepat waktu,
menyelinap ke dalam aroma dapur,
mengecup kening istrinya yang letih,
mengajari anak-anak mengaji
dan menyisipkan kisah
di antara lembar tafsir surah Yusuf.

Namun malam ini,
langkahnya tertahan angin,
pulangnya tercekik kabar,
dan hujan mengetuk jendela
dengan suara yang tak bisa dijawab:
“Ia tak akan pulang malam ini.”

Seorang lelaki tua mengetuk pintu
membawa kabar dari rumah sakit:
“Tubuhnya hangus oleh waktu,
tapi hatinya masih menggenggam
foto keluarganya yang pudar.”

Istrinya duduk di sajadah
menggenggam tasbih yang gemetar.
Anak-anak terlelap
dalam doa yang belum selesai dibaca.

Ia kini pulang bukan dengan langkah
tapi dengan nama yang dilantunkan
di setiap doa maghrib,
dengan kenangan yang menggigil
di bantal-bantal yang sunyi.

Ia mengetuk pintu hatinya sendiri
mencari perempuan yang dulu
menyelipkan doa dalam bajunya,
tapi yang ia temukan hanyalah
selembar sajadah
yang tak pernah lagi dilipat.

2022, 2025

***

Surat Seorang Istri kepada Suaminya di Surga

Kekasihku,
sudah berapa kali aku menulis surat ini
tanpa tahu alamat posmu di surga?
Apakah malaikat sempat membacakannya,
atau angin malam menyimpannya dalam bisu?

Kita pernah janji di malam syawal,
bahwa maut hanyalah jeda,
dan cinta tak akan berlubang
meski tubuhmu tertimbun tanah basah.

Aku masih menyimpan baju terakhir
yang kau kenakan
masih ada aroma keringatmu,
masih ada getar dari nafas yang kau tinggalkan
pada kerahnya yang setengah terbuka.

Anak-anakmu telah tumbuh,
mereka menyebut namamu dalam doa
lebih sering dari menyebut mainan mereka.
Dan aku, aku belajar tertawa
tanpa harus bahagia
seperti bunga yang tumbuh
di sisi nisan yang setia.

Kekasihku,
di dapur masih ada panci
yang terakhir kau sentuh,
di kamar masih ada sepasang sandalmu
yang tak sanggup kupindahkan
mereka seperti menunggumu pulang,
seperti hatiku yang masih bertanya
kenapa surga terlalu tergesa memanggilmu.

Jika surat ini sampai padamu,
biarlah engkau tahu:
aku tidak akan menikah lagi,
bukan karena dunia kekurangan lelaki,
tetapi karena cintaku hanya tertanam
di ladang jiwamu
dan nafasku tidak bisa dibagi
untuk lelaki lain.

Lebih baik kubesarkan anak-anak kita
dengan seluruh hidupku:
dengan kerja dan ibadah,
dengan air mata dan dzikir
yang menjahit kembali namamu
dalam dada mereka.

Aku ingin mereka tetap mengenal ayahnya
utuh, meski dari surga.
Dan aku,
akan tetap setia
hingga Allah menyatukan kita kembali
tanpa batas waktu,
tanpa kematian lagi.

2022, 2025

***

Balada Pintu yang Tak Pernah Tertutup

Pintu itu sudah tua,
tapi engselnya tak pernah lelah berderit,
menunggu kaki-kaki yang pernah
menginjak lantai doa
dan meninggalkan debu kenangan.

Ia terbuka sejak anak sulung pergi
membawa separuh rahim ibunya,
sejak bapak menatap kalender
tanpa bisa mencoret tanggal kepulangan.

Pintu itu tahu,
angin sering datang membawa kabar burung,
dan setiap bayang di jalan
selalu membuat ibu bergegas,
menyeka wajah,
menyiapkan teh yang selalu dingin
di atas nampan.

Malam-malam panjang menjadi temannya,
menyaksikan ibu duduk berselimut sajadah,
berbisik dalam bahasa yang hanya
dipahami langit dan air matanya.

Tetangga bertanya,
“Kenapa pintumu tak pernah ditutup?”
Ibu menjawab dengan suara
yang lembut dan samar:
“Karena yang kutunggu
tak tahu harus mengetuk atau merintih.”

Dan suatu pagi, pintu itu mendengar
tangisan kecil mengetuk
dengan nama yang tak asing,
tapi tubuh yang bukan siapa-siapa
seorang cucu dari anak yang tak pulang,
mengembalikan puing kasih
dalam mata yang lelah menunggu.

Pintu itu masih terbuka,
menerima siapa saja
yang membawa serpihan pulang.

2022, 2025

***

Balada Selembar Sajadah Kosong

Sajadah itu terbentang di sudut mushola,
berwarna hijau tua,
sudah pudar seperti kenangan yang tak sempat
dituliskan.

Ia milik lelaki tua
yang selalu datang sebelum adzan
dan pergi setelah doa terakhir
mengendap di dinding malam.

Di atasnya, lelaki itu menumpahkan luka
tentang anaknya yang hilang kabar,
tentang cucu yang tak mengenal takbir,
tentang istri yang wafat tanpa sempat
mengucap selamat tinggal.

Orang-orang tak tahu namanya.
Mereka memanggilnya: Pak Musolla.
Sebab hanya di sini ia dikenal,
dan di sini pula ia menyerahkan
seluruh getirnya.

Suatu hari,
ia tak datang.
Sajadah itu tetap tergelar
seperti biasa.
Tak seorang pun berani melipatnya.
Angin malam pun berhenti bertanya.

Hari berganti.
Mushola menjadi lebih sunyi.
Tapi sajadah itu tetap di tempatnya,
seperti menunggu tubuh yang tak kembali.

Dan suatu malam,
anak kecil datang bersama ibunya.
“Ia selalu duduk di sini,” katanya lirih,
sambil menyentuh sajadah kosong itu.
“Ia adalah kakekku
yang pernah berkata bahwa sajadah
bisa menjadi jembatan pulang
bagi yang terluka.”

Sejak itu,
setiap malam ada tubuh baru
yang bersimpuh di atasnya.
Dan sajadah itu tak pernah kosong lagi
sebab kasih, meski terlambat,
tetap menemukan jalan pulangnya.

2022, 2025

***

Balada Penjaga Pintu Langit

Di malam buta, di tikungan waktu
ia duduk di serambi masjid tua
bersarung lusuh, berselendang debu
menyambut siapa pun yang datang dengan luka

tak ada yang tahu siapa namanya
anak-anak memanggilnya: Pak Penjaga
meski tak digaji, tak diperintah siapa
ia menyapu halaman dan mencatat nama

bukan dengan pena, bukan dalam buku
tapi dalam sujud yang tak pernah usai
“ini si Fulan yang semalam menangis
dan si Fulanah yang khusyuk
hingga adzan Subuh selesai”

kadang ia tidur bersandar tiang
tapi matanya selalu berjaga diam
katanya: “aku hanya menunggu
langit membuka pintunya malam-malam.”

sampai suatu malam, ia tak tampak
yang tertinggal hanya sajadah koyak
dan bau harum entah dari mana
menjelma dzikir di udara

kata orang, malam itu
langit membuka pintu lebih lebar dari biasanya
dan ada satu nama yang dipanggil
tanpa perlu mengetuknya

2022, 2025

***

Serenada dalam Bayang-bayang

Di bawah cahaya yang mulai redup
seorang wanita menyusun
potongan-potongan kenangan
di pinggir jalan yang jarang dilalui
dan di jendela yang tak lagi ditutup rapat

matanya melihat jauh ke belakang
melintasi jalan yang pernah dilalui
setiap langkah seperti irama lagu
yang terputus oleh henti waktu

seperti rindu yang tak pernah tuntas
ia duduk menunggu dalam diam
di balik kaca jendela yang berembun
menanti kedatangan yang tak pasti

sering ia merasa, setiap detik yang berlalu
adalah lagu yang terlupakan
serenada dalam bayang-bayang
yang tidak kunjung menemukan
penghujungnya

jika malam menutup matahari
ia masih duduk di sana
menyusun kembali melodi yang hilang
seperti kata-kata yang tertinggal di udara

2022, 2025

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top