Menyoal Kembali Sastra dan Pendidikan

Saat diajukan tanya tentang seberapa pentingkah sastra untuk dan dalam pendidikan, dan alasan apa yang menyertainya, amatlah lekas sekalian akan berkata, bahwa sastra itu begitu penting untuk dan dalam pendidikan, sebab membangun moral dan etika siswa—serta menjadi teladan dalam berperilaku. Akan tetapi, kemudian, persoalannya, apa jawaban dan anggapan demikian benar?

Amat tergesa kiranya bila mengatakan bahwa jawaban dan anggapan demikian adalah salah dan keliru. Meski demikian, ketika mencermati dengan teliti dan hati-hati, akan didapati, jawaban dan anggapan demikian memiliki ruang yang mesti dipertanyai lagi; memiliki ruang yang mengatakan, masih ada yang luput untuk diamati. Amatlah jarang, jawaban yang keluar dari tanya di muka itu berkenaan dengan soal logika atau estetika. Soalan demikian sebenarnya tak genap bisa diherankan: sebab selama ini pendidikan sering dipahami sebagai pedagogik-etik. Dari sana, dapatlah diajukan sebuah pertanyaan: Pernahkah sekalian melihat sastra, baik sebagai kerja maupun benda, hadir sebagai suatu yang berkenaan dengan pikiran dan perasaan, dengan logika dan estetika?

Pendidikan, yang selama ini dikerjakan, terlampau sering luput menyadari, bahwa nalar fiksi membuat penulis atau pembaca tertarik mencipta dunia alternatif dan menilik serentetan yang mungkin. Karenanya, mereka yang menulis dan membaca fiksi, umumnya, tak gegabah dan tergesa dalam mengambil keputusan. Atau, setidaknya, karena menulis dan membaca fiksi, seorang dapat terpantik guna menelusuri dan berinovasi. Bukankah penciptaan pesawat, dan serangkaian teknologi, berangkat dari upaya membayangkan, manusia bisa terbang? Bahkan, di dunia alternatif, baik di prosa-fiksi maupun drama, manusia bisa menguji kemanusiaan itu sendiri—terlebih dalam situasi-situasi batas: kematian, bencana, wabah, bahkan dunia distopia. Contoh lain, ketika mau mengamati dengan teliti, mereka yang terbiasa berpikir bersama dan melalui puisi akanlah terampil guna menyadari; sebab terbiasa melihat-dengar apa yang tampak tak terhubung itu ternyata berhubungan. Karenanya, mereka yang karib dengan puisi akanlah memiliki indra yang awas; sebab terbiasa, dibesarkan dan diasuh, oleh metafora dan metonimi. 

Adapun, sebagai contoh lain lagi, mereka yang terbiasa oleh esai-esai yang bagus, baik sebagai penulis maupun pembaca, akan menjadi seorang yang berani beropini, berani bersuara; tetapi tidak asal bunyi, sebab terbiasa mencari dan menguji, dan juga mempersiapkan serangkaian pertanggungjawaban diri. Mereka menghargai subjektivitas; tetapi juga terampil menilik dan menimbang objektivitas. Hasrat untuk memahami dan menelusuri pun terfasilitasi! Dan sebagai contoh lagi, dalam hal drama, misalnya, meski berpijak pada sastra dan teater, akan membawa penulis pun pembacanya, bahkan aktor serta tim produksi, berani berdialog dan bermonolog; berani menghadapi konflik dan berupaya mencari penyelesaian, serta menerima serangkaian konsekuensi dari tiap pilihan. Bahkan, ketika naskah atau teks tersebut dipentaskan atau dibawa ke panggung, akan memicu untuk membayangkan ruang, tubuh, benda, dan bahasa—sehingga siswa akan bisa mencari dan menempatkan diri pada masyarakat: membuka ruang empati yang lebih besar lagi.

Karenanya, amat disayangkan bila sastra hanya ditilik dari sisi etika; dan melupakan kenyataan bahwa sastra dicipta-dibaca dengan logika dan estetika. Dan, dengan kesadaran bahwa sastra berpijak pada logika dan estetika, juga etika, sastra dapat untuk dipahami lebih luas lagi; atau setidaknya, tak hanya terbelenggu pada beberapa sektor saja. Pengertian menulis dan membaca pun akhirnya dapat terbuka; bukan hanya tekstual, tetapi juga bisa visual, auditif, dan kinetik.

Amat menarik, dan menyenangkan kiranya, membayangkan dan merealisasikan siswa-siswa memiliki kesadaran berpikir dan merasa secara lebih sastrawi. Betapa, ketika membaca teks sejarah atau bahkan buku Ilmu Alam, mereka akanlah membayangkan bagaimana jika tokoh sejarah A tak jadi menjatuhkan hukuman mati pada tokoh sejarah B. Bukankah kesadaran yang demikian membuka peluang untuk menilik sejarah, sehingga kesalahan sejarah tidak terulang? Atau, betapa menarik dan menyenangkannya ketika mendapati siswa berupaya mencipta bahan bakar alternatif sebab membaca karya fiksi-ilmiah tentang kendaraan berbahan bakar cahaya atau air! Dan, andaikan etika tetap menjadi pijakan, maka soalan tersebut pun bukanlah hanya berpijak pada tata krama dan moral; tapi lebih daripadanya.

Betapa siswa, atau siapa saja, mesti berhadapan dengan konflik-konflik yang dilematis, yang paradoksal dan ironis, yang jawabnya berlimpah resiko dan pertanggungjawaban—dan bukan hanya tentang perkara baik-buruk saja. Bukankah kehidupan yang nyata ini lebih bergelimang soal yang dilematis dan ironis? Betapa, sebagai salah satu contoh, sastra telah memberi pilihan dilematis macam: Buah Simalakama…

Esai pendek ini, yang barangkali terbaca sebagai sejenis catatan liris kecil-kecilan, tak hendak menolak pandangan bahwa relasi antara sastra dan pendidikan adalah relasi yang kental dengan soal etik dan moral. Akan tetapi, esai pendek ini hendak menyatakan, anggapan dan pandangan demikian dapatlah diperluas-diperdalam. Betapa, soal etik memanglah penting, dan terlampau penting; tetapi, ketika menepikan soal logika dan estetika, agaknya tak tepat pula. Karenanya, ketika menilik kembali pengertian pendidikan yang ditawarkan Ki Hajar Dewantara, sebagai contoh, akan didapati, pendidikan adalah proses pemanusiaan; adalah proses memasukan nilai-nilai kemanusiaan.

Di samping itu, dalam pengertiannya yang memijak pada asal kata, dapatlah dijumpai, sastra adalah alat untuk mendidik; yang kemudian mesti dipahami lebih lanjut pula, bahwa sastra bukan hanya alat, tapi kesadaran pendidikan itu sendiri. Karenanya, memasukan logika dan estetika, juga soal kemanusiaan lain, dalam pembelajaran sastra, mestinya dianggap sebagai hal yang niscaya. Bukankah manusia memiliki dimensi yang tidaklah tunggal—bahkan terlampau jamak? Semoga, upaya memasukan sastra dalam pendidikan di negara ini, apa pun bentuknya, nanti dan kini, senantiasa berpijak pada soalan yang semestinya. Kemudian, setelah kemantapan bahwasanya sastra itu penting bagi manusia, persoalannya adalah: Bagaimanakah caranya mengajarkan sastra kepada para siswa?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top