
Gandalia lebih dari sekadar seni, ini adalah suatu warisan budaya yang melambangkan keselarasan dan keseimbangan antara manusia dan alam. Dulu, di siang hari, alat musik ini digunakan oleh para petani untuk menemani mereka saat bekerja di ladang sekaligus berfungsi sebagai hiburan saat merawat tanaman. Di malam hari, alat ini digunakan untuk mengusir hama dan babi hutan. Akhirnya, gandalia menjadi salah satu alat musik khas dari Grumbul Kalitanjung, Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas, yang diciptakan oleh Ki Bangsa Setra, seorang warga dusun tersebut. Alat musik ini mengandung makna mendalam bagi masyarakat setempat, dengan nama gandalia yang berasal dari ungkapan “gondoleno aja kalean” yang berarti “pegangan jangan hilang”. Gandalia menjadi salah satu warisan leluhur yang hampir punah termakan usia.
Melihat sekilas, gandalia menyerupai angklung, tetapi perbedaan utamanya terletak pada ukuran diameter yang berkisar antara 5 hingga 7 cm. Gandalia adalah alat musik yang memiliki nada Slendro dengan empat bilah bambu. Dalam pertunjukannya, gandalia dimainkan bersamaan dengan lagu-lagu seperti Gulu-Gulu, Gondolio, Cucuk Benik, Lir-ilir, dan Jo Liyo. Biasanya, lagu-lagu tersebut dinyanyikan oleh seorang sinden laki-laki, dengan beberapa penari perempuan, serta satu orang yang berfungsi sebagai patung sawah yang mengenakan jerami di tubuhnya. Saat ini, hanya sedikit orang yang dapat memainkan gandalia karena tingkat kesulitan dalam bermainnya yang cukup tinggi. Oleh karena itu, upaya untuk melestarikan seni ini sangat tergantung pada peran aktif generasi muda.
Saat ini, gandalia tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, melainkan juga berperan sebagai media untuk menyelaraskan ekologi, budaya, dan literasi. Dalam hal ekologi, pertunjukan gandalia kerap menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga keseimbangan dengan lingkungan hidup. Cerita-cerita dalam gandalia sering menggambarkan hubungan antara manusia dengan hutan, sungai, dan lahan pertanian di Banyumas. Dalam konteks saat ini, di mana isu perubahan iklim dan kerusakan lingkungan menjadi masalah global, gandalia dapat berfungsi sebagai alat pendidikan mengenai ekologi. Contohnya, pertunjukan modern yang memadukan elemen multimedia dapat menyampaikan pesan tentang pelestarian hutan atau pengelolaan sumber daya air kepada generasi muda. Hal ini mencerminkan kearifan lokal di Banyumas, di mana masyarakat tradisional selalu menghargai “bumi” sebagai sumber kehidupan, sebuah konsep yang sejalan dengan prinsip-prinsip ekologi masa kini.
Di samping itu, gandalia juga memperkuat aspek budaya di tengah pengaruh globalisasi. Budaya Banyumas yang kaya akan tradisi, seperti batik Banyumasan atau makanan khas seperti tempe mendoan, sering kali terancam oleh budaya populer dari luar. Gandalia, dengan narasi dan musiknya yang asli, berperan sebagai pelindung identitas budaya. Dalam era digital saat ini, seni ini dapat diadaptasi melalui berbagai platform digital, seperti YouTube atau lokakarya virtual, untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Ini tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga mempromosikan keragaman budaya Indonesia. Harmonisasi dengan ekologi terlihat dari cara pertunjukan gandalia sering dilakukan di tempat terbuka, seperti tepi sungai atau ladang, yang memperkuat hubungan antara manusia dan alam. Budaya dan ekologi saling melengkapi, di mana cerita-cerita dalam gandalia mengajarkan bahwa keberlanjutan budaya sangat bergantung pada keberlanjutan ekosistem.
Gandalia tidak hanya menampilkan keindahan alam, tetapi juga menggambarkan kebijaksanaan masyarakat Banyumas dalam mengelola lingkungan sekitar. Tarian dan musik gandalia juga mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Dalam perspektif ekologi, gandalia bisa menjadi contoh bagaimana seni tradisional dapat berfungsi sebagai alat untuk menjaga lingkungan. Dengan mempresentasikan keindahan alam dan kebijaksanaan lokal dalam pengelolaan lingkungan, gandalia bisa meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya perlindungan lingkungan. Oleh karena itu, mempertahankan gandalia berarti tidak hanya menjaga kesenian tradisional, tetapi juga melindungi kebijaksanaan ekologi yang ada di dalamnya.
Gandalia juga dapat berfungsi sebagai sarana literasi yang menyenangkan dan efektif, dengan mengedepankan berbagai nilai kehidupan. Dengan menyampaikan nilai-nilai kehidupan, gandalia bisa memperkuat kesadaran masyarakat tentang arti penting dari moral dan etika. Lebih dari itu, gandalia bisa menjadi sarana yang inklusif, sebab dapat dinikmati oleh orang-orang dari berbagai usia dan latar belakang. Jadi, gandalia menjadi contoh bagaimana seni tradisional bisa berkontribusi sebagai alat literasi yang inklusif dan efektif. Aspek literasi adalah elemen penting yang menghubungkan gandalia dengan zaman sekarang. Dalam hal ini, literasi mencakup lebih dari sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga meliputi literasi budaya, ekologi, dan digital. Gandalia dapat digunakan sebagai materi pembelajaran di sekolah-sekolah Banyumas untuk meningkatkan kemampuan literasi sejarah dan budaya setempat. Misalnya, melalui program pendidikan yang menggabungkan pertunjukan gandalia dalam kurikulum, siswa bisa belajar tentang nilai-nilai kearifan lokal seperti gotong royong, penghormatan terhadap alam, dan kreativitas.
Di era digital, literasi ini juga berkembang dengan memanfaatkan teknologi untuk mendokumentasikan dan menganalisis gandalia, misalnya dengan aplikasi yang memungkinkan pengguna belajar lirik lagu atau gerakan tari secara interaktif. Ini membantu generasi muda memahami bagaimana kebijaksanaan lokal bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita perlu menyadari bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga bisa dilakukan melalui seni budaya. Gandalia bisa menjadi contoh bagaimana kesenian tradisional bisa diintegrasikan ke dalam pendidikan untuk meningkatkan kesadaran ekologi dan literasi masyarakat.
Keseimbangan antara tiga elemen (ekologi, budaya, dan literasi) dalam gandalia mencerminkan inti dari kebijaksanaan lokal Banyumas. Di tengah tantangan seperti urbanisasi dan perubahan iklim, gandalia menyajikan model kehidupan yang seimbang. Ekologi memberikan dasar fisik, budaya memberikan identitas, dan literasi menawarkan alat untuk memahami dan meneruskan. Dengan cara ini, gandalia bukan sekadar seni masa lalu, melainkan sebuah inspirasi untuk masa depan yang harmonis. Melalui upaya pelestarian dan inovasi, kesenian ini dapat terus memberikan kontribusi pada perkembangan yang berkelanjutan di Banyumas dan Indonesia secara keseluruhan.
Liyana Hanani Taqiyyah, lahir di Jakarta April 2003. Ia merupakan mahasiswi semester akhir Program Studi Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman. Silakan mampir ke akun Instagramnya @naqyhh.




