
Sekitar 30-an anak duduk menyimak dengan serius pemaparan materi dari Tim BIL Fest dalam acara workshop kepenulisan kreatif. Kegiatan ini diselenggarakan Sabtu, 15 November 2025 di ruang baca perpustakaan Pondok Pesantren Modern Zam-Zam, Cilongok, Banyumas. Riuh suara kendaraan yang lalu-lalang dan alunan musik drumband mengiringi peserta pawai jalan sehat yang terdengar sampai tempat workshop berlangsung, tak menyurutkan konsentrasi anak-anak itu.
Berbekal buku tulis dan bolpoin, mereka serius mencatat hal-hal penting yang diuraikan dua orang pemateri yaitu, Mba Rahmi Wijaya (Founder dan Direktur Omera Pustaka) dan Mas Fikri Kuncen (Pimpinan Redaksi bilfest.id). Kedua narasumber yang sangat menguasai materi dan berpengalaman ini juga mampu menghidupkan suasana sehingga workshop berjalan meriah. Peserta pun terlihat antusias. Baik ketika sesi penyampaian materi maupun sesi tanya jawab.
Dalam workshop ini, peserta diberikan waktu sekitar 15 menit untuk praktik menulis kreatif. Beberapa anak yang berkesempatan mempresentasikan hasil tulisannya, tentu sangat beruntung karena tulisan singkat dan sederhana tersebut kemudian dibahas saat itu juga sehingga peserta mendapat masukan langsung dari narasumber.
Usai workshop, mereka mendapat tugas untuk membuat karya dalam bentuk tulisan utuh. Meskipun telah disibukkan dengan tugas-tugas dari sekolah maupun dari pondok pesantren, mereka tetap bersemangat menyelesaikan tulisan. Mereka hanya meminta kelonggaran waktu penyerahan tulisan. Beberapa anak menyatakan kesanggupannya dalam tempo dua hari, sebagian lainnya meminta tambahan waktu menjadi tiga hari.
Akhirnya dalam waktu tiga hari terkumpul sembilan tulisan dari sembilan anak. Sebagian peserta yang belum mengumpulkan – yang jumlahnya lebih banyak – mengajukan beragam alasan. Mereka menjadikan dalih itu untuk membenarkan tindakan tidak menyelesaikan tugas sesuai target waktu yang telah disepakati bersama.
Menurut Tantowi Yahya (juara ganda campuran bulu tangkis All England 2012-2014 & peraih medali emas Olimpiade Rio 2016) dalam buku 9 Prinsip Kesuksesan Sang Juara (Putra Lengkong: 2012), orang bermental juara adalah orang-orang yang selalu melakukan lebih dibandingkan orang lain. Entah itu lebih cepat, lebih sering, lebih kuat, lebih tekun, lebih disiplin, lebih rajin, lebih banyak, lebih baik, lebih bersemangat, lebih rutin, dan sebagainya.
Meskipun tidak terlihat sebagai sebuah perlombaan atau kejuaraan, sembilan anak yang dapat mengumpulkan tulisan tepat waktu tersebut dapat dikategorikan telah berhasil melakukan (menyelesaikan) tugas dengan baik dibandingkan teman-temannya. Mereka lebih tekun dan lebih disiplin sehingga dapat meraih target yang ditentukan. Selain itu, bagaimanapun mereka tentu saja terbukti lebih cepat, sehingga dapat mendahului teman-temannya sesama peserta workshop kepenulisan. Ibarat lomba lari, mereka telah sampai finish terlebih dahulu.
Sedangkan menurut Lilyana Natsir (juara ganda campuran bulu tangkis All England & peraih medali emas Olimpiade Rio bersama Tantowi Yahya) dalam buku yang sama menyebutkan bahwa, orang bermental juara adalah orang yang memiliki fokus pada tujuan tertentu (pertandingan/perlombaan/kegiatan). Seorang juara akan berfokus pada hal-hal yang membantu pencapaian tujuan, dan bukan pada hal-hal detail yang dapat menghambat pencapaian tujuan. Orang ini juga akan berusaha memberikan yang terbaik, serta tidak menganggap remeh meski di atas kertas berpeluang besar untuk berhasil. Orang bermental juara memiliki mindset untuk menjadi yang terbaik. Orang-orang ini tidak mengeluh dan tidak menyerah di tengah jalan. Mereka berusaha mencari solusi dan tidak membuat seribu satu alasan ketika tidak mencapai tujuan (tidak dapat menyelesaikan tugas) sesuai target..
Sembilan anak peserta workshop kepenulisan kreatif yang dapat menyetorkan tulisan utuh tepat waktu ini terbukti dapat mengalahkan apapun yang dapat menjadi penghambat penyelesaian tugas. Mereka tidak meremehkan tugas yang diberikan. Mereka fokus pada tugas serta tidak mencari-cari alasan untuk mengabaikannya. Mereka menjadikan tugas yang diperoleh sebagai tantangan yang menggairahkan dan memotivasi untuk segera diselesaikan. Mereka memilih untuk menaklukkan tantangan itu dan memenangkan pertempuran melawan kemalasan dalam dirinya.
Meski tidak diumumkan di podium dan tidak naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan, sejatinya mereka telah memenangkan perlombaan walau tidak mendapat kalungan medali. Mereka menjadi juara (walau) tanpa (menerima) piala.
Terima kasih BIL Fest. Semoga dari beragam kegiatan BIL Fest akan tercipta generasi penulis muda yang percaya diri, produktif dan kreatif. Semoga BIL Fest tak lelah memperkuat dan menggiatkan kegiatan literasi terutama untuk anak-anak muda generasi penerus bangsa.
Yuni Prihati, pemilik nama pena Prieharti ini memiliki aktivitas harian bercengkerama dengan buku-buku di perpustakaan Pondok Pesantren Modern Zam-Zam Cilongok, Banyumas. Hobi membacanya telah membangkitkan keberanian untuk menuangkan karya dalam bentuk tulisan berbentuk fiksi maupun nonfiksi. Instagram penulis @prie.harti




