
Aku berangkat pagi itu tanpa rencana besar. Tidak sedang mencari ilham, tidak juga ingin pura-pura menjadi flâneur yang sok peka terhadap penderitaan rakyat. Aku hanya hendak menemui rekan kerjaku di Stadion Chandradimuka. Tapi toh, kota kecil seperti ini kadang punya kebiasaan biadab. Yaitu memperlihatkan luka ketika kita tidak siap menerimanya.
Aku duduk selonjoran di teras depan pintu utama stadion. Pagi masih setengah sadar, membawa hawa malas untuk hidup. Di sebelah kami, beberapa ibu dan anak duduk berkerumun, berpakaian lusuh tapi wajahnya tidak terlihat kalah. Mereka tertawa-tawa kecil. Entah apa yang mereka tertawakan. Mungkin nasib? Hingga sebuah truk datang, mereka melambaikan tangan, naik ke baknya, lalu pergi seperti penumpang yang tahu arah lebih baik daripada siapapun.
Dari sana aku melanjutkan perjalanan. Motoran melewati alun-alun. Para pedagang berbaris rapi. Gerobak-gerobak mereka kayak deretan perusahaan kecil. Ada Bos Es Dawet, Manajer Cilok, Direktur Batagor, sampai staf lapangan penjual kopi stand Nescafe. Mereka jualan tanpa seminar kewirausahaan, tanpa pelatihan UMKM yang biasanya hanya ajang foto bersama pejabat, tanpa teori ekonomi yang muluk-muluk. Tetapi justru merekalah yang lihai untuk terus berjalan dalam hidup. Bukan karena harapan, melainkan karena hidup tidak memberi mereka kesempatan untuk berhenti.
Kemudian aku melewati terminal. Klakson-klakson menyeru membentuk orkestra kebingungan. Bus berkejaran bagai doa-doa yang saling sikut menuju langit. Di pintu bus, seorang lelaki berteriak, “Jogja—Solo! Jogja—Solo!” suaranya mantap, tapi matanya ragu. Seolah hidupnya sendiri tidak tahu hendak ke mana.
Tukang becak menunggu dalam diam, ada juga yang tertidur, entah karena lelah atau menyerah sebentar. Ibu warung kopi mengelap meja yang mungkin tidak akan kotor hari ini. Terminal sepertinya bisa menjadi museum dari manusia-manusia yang menjalani hidup tanpa janji, karena janji sudah lama tidak sopan kepada mereka. Lalu aku memutari kota, dan kota menyapaku dengan ironi paling rapi hari itu. Yaitu spanduk besar yang berkibar di depan sebuah bank.
Kini Semua Bisa Punya Rumah
Aku tertawa. Tawa getir yang cuma terdengar di dalam helm. Kalimat di spanduk itu bukan bohong. Ia hanya tidak menyebut siapa “semua” itu. Ia mengaku denotasi. Fakta lugas. Universal. Padahal ia hanya konotasi tebal, upaya untuk menggiring kita percaya pada mimpi yang sudah lama ditinggalkan kenyataan.
Inilah yang dulu pernah dibisikkan Seno Gumira Ajidarma. Bahwa denotasi, dalam konteks sosial budaya, itu tidak pernah polos. Ia selalu merupakan hasil perang konotasi. Suatu makna diperebutkan, dimenangkan, lalu diumumkan sebagai “yang benar”. Spanduk itu adalah bukti bahwa kekuasaan selalu ingin definisinya tampak alamiah. Realitas alternatif dicetak pada kain besar dan dipajang sebagai kebenaran.
Karena beberapa ratus meter setelah spanduk itu, di kantor badan penyedia pinjaman uang, aku melihat orang tua menandatangani berkas pinjaman uang. Bukan untuk membeli rumah. Tapi sekadar membayar sewa kontrakan yang tak pernah jadi miliknya. Tangannya bergetar. Matanya kosong. Seakan ia berpikir bahwa ini bukanlah penyelesaian, tapi hanya penundaan kehancuran.
Sementara itu, spanduk bank di kejauhan mulai berat oleh hujan yang merintik. Kata “rumah” menggantung lesu, seolah malu atas dustanya sendiri. Aku menepi untuk memakai mantel. Di pinggir jalan, penjual gerobakan tanpa atap duduk pasrah di bawah rintik hujan, menatap dagangannya yang saat itu tidak akan dibeli siapa pun karena hujan. Hujan selalu lebih jujur daripada negara. Ia muncul apa adanya. Aku melaju lagi dan terhenti di lampu merah. Di sampingku, seorang penjual cilok mendorong gerobaknya yang berkarat dengan mantel robek. Mata lelahnya menatap spanduk lain:
Penerimaan Murid Baru SMA Kemala Taruna Bhayangkara
Mungkin ia membayangkan anaknya memakai seragam sekolah itu. Mungkin ia tahu itu hanya mimpi yang tidak sopan untuk ia pikirkan. Atau mungkin ia hanya menunggu lampu hijau karena hidupnya tidak memberi waktu bahkan untuk berharap.
Di seberang jalan, seorang ibu menggendong anaknya menembus hujan demi sebungkus pampers. Tidak ada payung. Tidak ada suami di sisinya. Mungkin sedang bekerja di tempat jauh demi gaji yang semoga tidak terlalu kecil dibandingkan pengorbanannya. Ibu itu tak memandang spanduk apapun. Ia hanya menatap anaknya. Seolah dunia telah terpeluk dalam wujud wajah mungil yang membangkitkan kasih dan keberanian.
Lampu merah berganti hijau, aku pulang. Di kaca spion, terlihat wajahku basah oleh air yang tidak sepenuhnya dari langit. Dan aku memikirkan sesuatu yang mengganggu. Mungkinkah spanduk, baliho, jargon pembangunan dan sejenisnya adalah galeri utopia? Gambar-gambar masa depan yang tidak akan pernah datang dan simbol kemajuan yang mengalahkan kenyataan kemanusiaan?
Kota-kota kecil dibanjiri jargon “kemajuan”, padahal warganya sedang mengencangkan ikat pinggang. Narasi pertumbuhan tidak pernah menyentuh tanah tempat rakyatnya berdiri. Hanya penuh janji visual, tapi kosong secara material.
Mungkin kita akhirnya hidup dalam budaya yang percaya bahwa asal ada banner berarti ada solusi. Pemerintah, lembaga, perusahaan, semuanya sibuk membangun kepercayaan semu lewat jargon, spanduk, dan sejenisnya. Masyarakat dihipnotis, bukan oleh kebenaran, tetapi oleh konotasi yang dipaksa menjadi denotasi. Rumah untuk semua, pendidikan unggul, masa depan cerah, pertumbuhan ekonomi, kota modern.
Padahal isinya? Ibu-ibu naik truk. Pedagang gerobak yang basah kuyup. Tukang becak yang tidur sebelum dapat penumpang. Orang tua yang menandatangani utang demi tempat berteduh. Penjual cilok yang bermimpi sambil menatap spanduk sekolah elit yang tidak ramah bagi kantongnya. Mereka ini bukan rakyat yang diam karena bodoh. Mereka diam karena sibuk bertahan hidup. Mereka tidak punya kemewahan untuk sibuk memprotes narasi besar ketika hari ini saja harus ditutup dengan uang yang entah dari mana.
Aku kira aku sedang meneliti manusia yang tersesat. Ternyata aku justru menemukan sesuatu yang lebih getir. Yang tersesat bukan rakyatnya. Yang tersesat adalah makna. Konotasi yang dipaksa menjadi denotasi. Janji yang dipaksa dipercaya menjadi kenyataan dan model kemajuan yang dipaksa menjadi kebenaran. Dan mungkin kita semua memang penumpang. Ada yang menuju kota, ada yang menuju janji, ada yang menuju ilusi. Ilusi 19 juta lapangan pekerjaan misalnya. Dan ada yang diam karena sudah tidak percaya arah mana pun.
Dyan Uki Widyatmaja adalah penulis kelahiran Kebumen tahun 2005. Ia aktif di komunitas Kebumen Book Party dan Kincir Ilmu. Bisa di halo-halo lewat Instagram: @dyan.uki.





Pingback: 5 Film Horor Lokal Favorit Gen Z - nribun.com