Disangka Banpol

Sandi bisa saja mengindahkan dan bersikap bodo amat dengan pernyataan informan di sela-sela wawancara. Namun, tak tergambar di wajah Sandi, air mukanya tak setenang memulai wawancara dan suasana pengumpulan data berubah drastis.

Bagi Sandi, pengalaman sebagai enumerator dalam riset yang diselenggarakan oleh BRIN dan BNN adalah yang pertama. Riset tentang “Survei Gaya Hidup Indonesia” yang diadakan di tahun 2023 itu mengambil sampling daerah di seluruh Indonesia. Dan salah satunya di Kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan, yang salah satu wilayahnya dengan kasus penyalahgunaan narkotika cukup tinggi yaitu lingkungan Ongko Desa Bangkala Kecamatan Maiwa. Dan lokasi itu merupakan tanggungjawab Sandi untuk diambil datanya.

Hari itu aku memastikan jadwal pengumpulan data kawan-kawan enumerator.

“Sandi, jadi kah besok ke Desa Bangkala?”
“Iye, jadi ji. Kayaknya mau kuselesaikan satu hari ji di situ”
“Oke, jam berapa ma ki jalan ke lokasi?”
“Jam 7.00 WITA, turun ma ke Bangkala”

Esok harinya, tepat jam 6 pagi Sandi mandi, sarapan dan mempersiapkan bahan untuk wawancara. Sandi berencana ia akan mewawancara 10 rumah tangga dengan total responden yaitu 20 orang responden. Jam di lengan Sandi tepat menunjukkan pukul 7.00 WITA, ia bergegas ke motor dan menuju ke Lingkungan Ongko. Sebelum berangkat ia memastikan kembali bahwa bahan untuk wawancara benar-benar ada di dalam tasnya. 

Tepat jam 9.00 WITA, Sandi sampai di lokasi, yaitu Lingkungan Ongko. Sandi mencari tempat parkir yang aman, sembari ia membuka aplikasi dan mencari kuesioner wawancara dan memilih ruta dengan nomor urut bangunan fisik 078 sebagai rumah tangga pertama. Di rumah tangga pertama itu, ia berjumpa dengan responden berusia kisaran 40 tahun. Dari wawancara Sandi diketahui bahwa responden tersebut adalah mantan penghuni Lapas karena kasus penyalahgunaan narkoba. 

Setiap kali usai wawancara, tak lupa Sandi mengucapkan terima kasih dan menyerahkan bahan kontak. Sandi kemudian melanjutkan wawancara pada rumah tangga kedua, ketiga hingga rumah tangga kedelapan. Selama itu ia mengatakan tidak ada hambatan, proses wawancara cenderung lancar dan diterima dengan baik oleh pemilik rumah. Pada rumah tangga kesembilan, prasangka Sandi benar saja. Dia mengalami hal yang dia duga sejak awal sebelum riset ini dimulai. 

Responden kali ini berusia 17 tahun, ia masih bersekolah tingkat SMA, sebut saja namanya Andi. Sandi yakin bahwa Andi akan membantunya menyelesaikan proses wawancara ini dengan mudah. Mula-mula proses wawancara berjalan dengan lancar, namun di pertengahan tanya jawab tiba-tiba celetuk Andi. 

“Bukan jeki Banpol?”
Ahhg, bukan, bisa itu saya mau jadi Banpol”

Suasana sekejap hening sesaat. Dalam benak sandi, dia bergumam.

Sessa jeki ini kalau tidak kujelaskan bae-bae ini ana, harus kuterangkan tujuan riset pelan-pelan. Kayaknya ndag na tangkap apa kujelaskan di awal tadi ehgg

Tak menunggu lama Sandi pun menjelaskan dengan nada rendah dan lebih pelan, setiap kata seperti dia sedang eja huruf demi huruf. Agar dapat diterima jelas tentang maksud dari kunjungannya. Dia memberikan gambaran umum penelitian dan nantinya akan digunakan untuk apa data yang ia kumpulkan. Berselang kemudian Sandi mulai menurunkan kecurigaannya, sehingga proses wawancara berlanjut tetapi menyisakan rasa waspada yang pelan-pelan merayap di antara mereka. 

Proses wawancara itu tak lama, mungkin hanya sepuluh menit. Waktu sesingkat itu, tapi terasa berjalan sangat lamban. Mereka saling pandang, seperti sedang menakar sesuatu yang tak terlihat. Suasana curiga merayap pelan, menyisakan rasa waspada yang menggantung di antara jarak duduk dan tatapan. Sepuluh menit yang pendek, tapi cukup untuk membuat hati siapa pun tidak benar-benar tenang.

Ada perasaan tidak aman, timbul sekejap kedipan mata lalu menghilang tapi berhasil mengganggu dan memecah fokus Sandi. Di sudut pikirannya, jika tuduhan itu berlanjut selama pengumpulan data, ia tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi padanya. Bayangan itu berkecamuk di benaknya. 

Andai hidup tak membutuhkan rasa aman, maka Sandi tidak memedulikan tuduhan itu. Ia mungkin bisa lebih santai dan tetap fokus pada pengumpulan data. 

Sandi telah menuntaskan tugasnya di Lingkungan Ongko. Tanpa berlama di lokasi, dia pun kembali ke basecamp. Aku lihat wajah Sandi tampak lelah, garis-garis halus di bawah matanya berbicara jelas. Tapi ada sesuatu yang masih menghantui, semacam rasa tidak aman yang belum sepenuhnya pergi. Namun di balik itu, terselip kelegaan kecil karena tugas hari ini akhirnya selesai. Ia menarik napas pelan, seperti mencari tempat beristirahat di dalam dirinya sendiri. 

Aku lihat Sandi duduk bersandar, setelah menanggalkan semua barang bawaannya. Kududuk di sebelahnya. Sedikit obrolan kecil terjadi antara kami.

“Bagaimana tadi di lokasi, lancar ji?”
“Lancar ji Korlap. Tapi tadi sempat ka dituduh Banpol”
“Lah, bagaimana ceritanya? Ruta yang mana itu?”
“Ruta kesepuluh Korlap, kebetulan ana SMA yang naik namanya ku wawancara, pas ku wawancara baru masuk di awal-awal kuisioner wawancara na tuduh ma Banpol”
“Tapi aman ji toh? Bisa ji kita atasi?”
Bah aman ji Korlap, selesai ji wawancaranya”

Napas kutarik dalam-dalam mendengar kabar tuduhan itu. Namun ada kelegaan di dadaku, Sandi kembali dalam kondisi aman tak ada hal-hal yang di luar jangkauan kami menimpanya. Dan di ujung obrolan kami, Sandi menimpali 

“Baru satu minggu yang lalu, di Lingkungan Ongko terjadi penggerebekan penyalahguna narkoba, Korlap”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top