
Apa kabar pertandingan antara tim boikot Trans7 dengan tim pembela Trans7 di Hari Santri Nasional kemarin? Masih panas di media? Mulai meredup? Atau justru sudah dingin? Kalau memang sudah mereda, pertanyaannya, ke mana arah perjalanan kita kali ini? Apakah kembali mengingat 17+8 tuntutan rakyat atau sudah terseret lagi oleh isu baru yang sedang viral?
Kalau benar mayoritas dari kita mudah berpindah fokus dan melupakan luka yang belum sembuh, maka jelas — peradaban kita sedang bergerak mundur. Bagaimana tidak? Kita gagal membaca kondisi secara presisi. Gagal menjaga diri untuk fokus pada masalah yang betul-betul prioritas — pada akar, bukan ranting. Akibatnya, masyarakat kita terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil yang sibuk mempertahankan kebenaran versinya sendiri.
Padahal, nyinyiran terhadap sebagian pesantren bukan hal baru. Itu sudah ada jauh sebelum tayangan Trans7 tersebut muncul. Namun, luka yang lama dipendam akhirnya menemukan titik jenuhnya di sana — lalu meledak. Ledakan itu tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Sebagian besar dari mereka hanya mengekspresikan kekecewaan karena harga dirinya tercoreng saat menuntut ilmu. Tayangan semacam itu bisa memperbesar stigma yang sudah ada — membuat santri muda menanggung beban psikologis baru: rasa malu, minder, bahkan keraguan untuk melanjutkan belajar.
Namun, pada sisi yang lain kita juga perlu jujur menimbang. Bagaimana kredibilitas sebagian lembaga pesantren di mata masyarakat akhir-akhir ini? Bagaimana publik melihat pesantren setelah maraknya kasus bullying, kekerasan, dan pelecehan seksual di beberapa tempat? Sejauh mana alumni pesantren memberi dampak positif di lingkungannya?
Pendidikan kita perlu melatih kemampuan melihat masalah tanpa terjebak dalam hasty generalization — kesalahan logika ketika seseorang menilai seluruh kelompok hanya dari satu kasus. Kalau cara pandang ini tak dibenahi, kita akan terus mengulang masalah lama dengan kemasan baru.
Perdebatan pun tak akan pernah menghasilkan rekonsiliasi kalau tak ada kerendahan hati untuk saling bercermin karena setiap pihak merasa paling benar dan pihak lain pasti salah. Maka, pencarian kebenaran berubah menjadi adu kekuatan dan massa — bukan lagi ruang dialog akal, melainkan arena pertempuran okol.
Titik itu menjadi celah, kita menjadi masyarakat yang mudah diadu domba dan dialihkan perhatiannya. Coba jujur, setelah kericuhan soal pesantren, berapa banyak yang masih konsisten mengawal 17+8 tuntutan rakyat? Siapa yang masih gencar menyuarakan ketidakadilan negara? Masih ada, tentu. Akan tetapi, jumlahnya menurun drastis. Inilah akibat dari kegagalan membaca skala prioritas.
Kita bingung menentukan mana masalah yang harus ditangani dulu, mana yang sekadar peluru pengalihan. Peluru — dalam konteks sosial, ialah isu yang sengaja ditembakkan untuk memecah fokus publik. Kita harus peka — dari mana peluru itu datang, siapa yang menembakkan, siapa yang membayar si penembak, dan apa motif di baliknya. Karena, bisa jadi kita bukan target utama, hanya pengalihan dari sasaran yang sebenarnya.
Maka, saya berharap, setiap lapisan masyarakat mau berendah hati, menjaga harta, martabat, dan nyawa satu sama lain. Belajarlah bercermin agar bisa lebih maksimal menggembirakan orang lain. Fokuslah untuk tetap solid, jangan biarkan perpecahan jadi kebiasaan.
Cak Nun pernah berkata, “Kebenaran itu letaknya di dapur. Yang kita sajikan adalah kebaikan.” Kebenaran, jika terlalu sering diarak keluar tanpa kematangan sikap, hanya akan menimbulkan perpecahan. Sebab, benar dan salah seringkali bergantung pada narasi yang kita pakai untuk menilainya. Satu kalimat bisa tampak benar dalam satu epistemologi, tapi terlihat salah dalam kerangka filsafat ilmu yang lain.
Artinya, kita semua masih berada dalam jalan pencarian. Jadi, jangan saling menyalakan obor di mata orang lain — cukup terangilah jalan di kakimu sendiri. Sebab, bangsa yang sibuk membuktikan siapa yang benar, ia akan lupa memperjuangkan apa yang benar.
Dyan Uki Widyatmaja adalah penulis kelahiran Kebumen tahun 2005. Ia aktif di komunitas Kebumen Book Party dan Kincir Ilmu. Bisa di halo-halo lewat Instagram: @dyan.uki.




