
Sabtu 4 Oktober 2025, saya berkesempatan untuk mengunjungi Peken Banyumasan edisi ke-16. Berlokasi di Kota Lama Banyumas – lebih tepatnya di Taman Sari Kota Lama, Kecamatan Banyumas – event ini menjadi magnet masyarakat Banyumas dan sekitarnya. Mereka yang menghasrati menyelami budaya, kesenian, kuliner, mainan tradisional, membatik, dan pertunjukan lainnya yang khas dari bumi Banyumasan berdatangan secara berbondong-bondong. Mulai dari pelajar, mahasiswa, akademisi, sampai muh asyarakat umum pun turut meramaikan.
Sebenarnya acara Peken Banyumasan kali ini dihelat dalam dua hari. Mulai 4 – 5 Oktober 2025. Setiap harinya dimulai kurang lebih pada jam tiga sore dan dipungkasi mentok-mentok pada jam setengah sembilan malam-an. Karena tidak bisa menghadiri semuanya dan sepuasnya, tapi setidaknya bisa ikutan walau sehari saja, cukup membuat saya bisa menyelami kebudayaan Banyumas. Bayangkan jika bisa hadir dalam dua hari sepenuhnya, dari awal hingga akhir. Tak hanya menyelam, melainkan hanyut sekalian.
Peken Banyumasan Mrapat 16
Acara Peken Banyumasan merupakan kerja kolektif dari berbagai pihak. Dalam instagramnya, @pekenbanyumasan dapat dilihat siapa-siapa yang turut berkontribusi sebagai kolaborator dalam acara ini. Sekalipun kerja kolektif dan berjalan karena bahu membahu antar para kolaborator, namun acara ini diinisiasi oleh Universitas Telkom Purwokerto dan digerakkan oleh mahasiswanya sebagai panitia dalam pelaksanaan Peken Banyumasan.
Boleh dibilang, mahasiswa atau anak muda dalam Peken Banyumasan adalah mesin penggeraknya. Sebagaimana sebuah kendaraan, tanpa mesin penggerak yang bercokol dalam kerangka tubuhnya, ia tak akan mampu berjalan barang sejengkal. Lamborgini sekalipun, tak berarti jika hanya seonggok kerangka tanpa mesin penggerak.

“Peken (Peken Banyumasan) adalah ruang pertemuan antara para seniman, budayawan, dan masyarakat umum. Pertemuan di sini adalah bagaimana cara kita menghargai produk-produk kreativitas orang-orang Banyumas.”, ungkap Rianto – selaku Ketua Komite Ekonomi Kreatif (EKRAF) Banyumas – saat talkshow pertama Bring Your Own Banyumas (B.Y.O.B) yang merupakan bagian dari acara Peken Banyumasan ke-16.
Dalam saat yang sama, Galih Putra Pamungkas – sebagai salah satu aktor di balik event ini – juga mengutarakan tentang mula-mula Peken Banyumasan bedetak, “Pertama Peken Banyumasan digelar adalah pada Februari 2022, setelah pandemi covid-19. Harapan saya, Peken Banyumasan bisa hadir secara rutin setiap dua minggu sekali.”
Hal yang spesial pada Peken Banyumasan Mrapat 16 ini adalah adanya Parade Batik Nusantara. Ini dikarenakan digelarnya Peken Banyumasan ke-16 hanya selisih beberapa hari dengan Hari Batik Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Oktober. Pengunjung yang berdatangan pun, diberikan akses untuk experience membatik secara langsung di tempat. Karena pada dasarnya, Peken Banyumasan adalah ruang guna melestarikan kebudayaan Banyumas dan menuangkan karya, maka Peken Banyumasan hadir dengan beragam kegiatan, mulai dari experience, performance, Banyumasan coffee connection, Banyumasan maker showcase, dan local market dll.
Semacam Bernostalgia ke Masa Kecil
Sore itu suasananya hangat dan awan mendung tak sekalipun menyelimuti Taman Sari Kota Lama Banyumas. Sore semacam ini yang selalu dinantikan oleh anak-anak usia sekolah dasar untuk bisa bermain di lapangan dengan segenap permainan yang ada. Bermain apapun yang bisa membuat hati mereka merekah-senang sebagaimana bunga yang mekar-mewangi. Bermain hingga senja raib dan azan magrib berperan sebagai peluit.

Pada Peken Banyumasan ke-16 saya melihat adanya Dolanan Koena (permainan tradisional). Beberapa alat dan wahana permainan tradisionalnya, antara lain: engklek, congklak, bekelan, gasing, lompat tali (dari rangkaian karet gelang), yoyo kayu, othok-othok, dan egrang dll. Mungkin sebagian orang ada yang asing melihat permainan-permainan tersebut. Tapi bagi saya – yang pernah turut memainkan beberapa permainan tradisional tersebut – secara tiba-tiba diajak untuk membuka kembali lembaran-lembaran kenangan masa silam.
Melihat egrang, membawa saya nostalgia akan waktu kecil yang tak bisa-bisanya bermain permainan ini. Permainan yang secara kasat mata terlihat mudah namun setelah mencobanya ternyata tak semudah itu Ferguso. Permainan yang cukup sulit (setidaknya bagi saya) karena berjalan di atas sepasang batang bambu. Egrang sangat membutuhkan keterampilan penyeimbangan tubuh yang cukup intensif sepanjang melangsungkan permainan ini.
Kuambil egrang sepasang. Karena sejak kecil saya belum bisa memainkan permainan ini, maka saya bertekad bulat (lebih bulat dari sekadar tahu) pada sore ini di Peken Banyumasan ke-16 untuk bisa memainkannya. Ada sebanyak lima sampai enam kali percobaan yang berakhir nihil: tak mampu berjalan menggunakan egrang barang selangkah. Hanya naik dan turun bambu saja.
Walhasil, dari sekian banyaknya percobaan yang dilalui, saya berhasil menuai langkah demi langkah dengan egrang sebagai medium berjalan. Setelah cukup puas bermain egrang, kurengkuh sebatas selembar uang dua ribuan untuk membayar harga sewa sepasang egrang tersebut. Sekalipun demikian, saya juga harus membayar permainan ini dengan kulit kaki di bagian jari telunjuk (kanan dan kiri) yang mengelupas karena pergesekan dengan bambu yang keras dan secara terus-menerus cum signifikan serta dalam tempo yang tidak sesingkat-singkatnya.
Tapi yang pasti, kesan dari first time ke Peken Banyumasan adalah rasa senang. Jikalau dikaruniai kesempatan untuk ke sini lagi, maka tanpa basa-basi dan dengan senang hati, otw Taman Sari Kota Lama Banyumas. Menikmati kesenian, kebudayaan, pertunjukan, dan keanekaragaman kuliner dari berbagai UMKM yang berdenyut di seantero Banyumas.
Fajrul Alam. Penyair muda dan aktif di dunia literasi Purwokerto, ia juga telah menerbitkan sejumlah karya puisi yang tersebar di berbagai media cetak dan digital. Buku antologi puisi pribadinya berjudul “Resep Bahagia” (JP: 2025). Bisa disapa via IG: fajrulalam_





andai acara kayak gitu ada juga di desa saya pak