Festival, Santri, dan UMKM

Sebagaimana namanya, festival yang memiliki arti pesta dapat dilakukan oleh siapapun. Penyelenggara festival tidaklah harus seorang expert. Akan tetapi siapapun yang mau belajar menyelenggarakan festival. Dari segi lokasi juga tidak ada batasan. Ruang apapun bisa jadi arena festival. Asalkan tidak melanggar aturan yang berlaku.

Festival yang mengaktifkan ruang publik adalah menciptakan sebuah pertemuan yang membahagiakan. Sebuah ruang inklusi yang menyampaikan kesetaraan antar sesama manusia, menghargai ide, merawat kebaikan, saling memberikan rasa aman dan memutar gerigi perekonomian. Sebuah festival tentu memiliki nilai-nilai yang ingin disampaikan. Ada pesan yang ingin disampaikan melalui sebuah arena yang membahagiakan.

Di Banyumas, ada sebuah festival rutin yang tahun 2025 ini sudah terselenggara kali ke 5. Mereka menamainya dengan Arena Festiza, yang merupakan akronim dari Festival Santri Zam-zam. Penyelenggaranya adalah para santri Pondok Pesantren Modern Zam-zam. Mereka menghidupkan sebuah malam dengan penuh kebahagiaan. Meskipun mereka harus “membayar” itu semua dengan memeras ide, tenaga, waktu, dan biaya yang tidak sedikit. Festiza kali ini terselenggara pada tanggal 4 Oktober 2025. Dimulai dari pagi hingga malam hari. Pagi sampai sore hari full diperuntukkan untuk bazar UMKM dan buku. Sedang malam harinya digunakan untuk pertunjukkan-pertunjukkan yang aktornya tak lain adalah para santri-santri Ponpes Zam-zam, Cilongok, Banyumas.

Belajar management festival

Sebuah festival akan terselenggara jika dipersiapkan dengan baik. Perkara persiapan matang atau tidak, itu merupakan turunan dari sebuah management yang dilakukan. Tidak mudah mengorganisir tim besar dan merealisasikan ide besar dengan segala macam rentetan properti pendukungnya. Tolak ukur persiapan matang atau tidak, indikatornya tidak tunggal. Karena sebuah festival terselenggara ditopang oleh berbagai divisi di dalamnya.

Sebuah festival bisa dijadikan wahana untuk belajar kepemimpinan. Mengatur manusia tidak semudah memindahkan panggung. Tidak seringan menggeser kursi plastik. Di sebuah festival, kita bisa belajar mengatur dan diatur. Kita belajar menghargai dan dihargai. Dan menyelenggarakan sebuah festival, harus siap juga menilai dan dinilai.

Management yang baik di balik festival, tidak hanya akan menyuguhkan hasil yang baik. Namun ada bekal yang baik bagi penyelenggara di dalamnya. Karena sebuah festival bagaikan miniatur sebuah kehidupan. Ada tujuan yang ingin dicapai, ada gagasan yang harus dimulai dan ada pekerjaan yang harus selesai.

“Kita bisa melihat dua “pahlawan” bangsa yaitu santri dan UMKM berkumpul merayakan kebahagiaan.”

Santri festival

Santri adalah generasi pembelajar. Melakukan aktivasi dalam bentuk festival adalah melakukan manifestasi terhadap apa yang mereka alami di dalam pesantren. Orang luar tidak bisa melihat proses pendidikan di dalam sebuah lembaga pendidikan. Namun orang luar mampu melihat hasilnya. Oleh karena itu, ketika santri melakukan aktivitasnya, haruslah mencerminkan proses pendidikan baik dari dalam, dan dampaknya ketika di luar.

Dalam sebuah festival yang diselenggarakan oleh santri, orang luar tidak hanya melihat kreatifitas. Melainkan melihat hasil dari pendidikan management waktu dan juga perilaku di ruang publik. Jadi tak hayal, jika sebuah festival merupakan sebuah sarana dakwah bil hal (atau dakwah dengan perbuatan). Santri bisa menunjukkan kepada publik bahwasannya dari dalam pesantren juga bisa merancang sebuah festival namun tidak melanggar norma agama bahkan bisa mengaktifkan norma agama dalam sebuah festival.

Festival santri dan UMKM

Berdirinya sebuah pesantren tentu berdampak langsung kepada masyarakat sekitar. Salah satu bagian dari masyarakat adalah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Di Arena Festiza, selain menampilkan pertunjukan seni oleh para santri di atas panggung, area di penuhi oleh UMKM.

Kita bisa melihat dua “pahlawan” bangsa yaitu santri dan UMKM berkumpul merayakan kebahagiaan. Seperti kita ketahui, UMKM “adalah” pahlawan perekonomian mikro bangsa kita ini. Mereka tetap berjuang dengan segala ketidakpastian kebijakan dan kenaikan bahan baku. Mereka tetap bekerja tanpa harus selalu berharap kepada negara.

Sedangkan menurut sejarahnya, santri merupakan “pahlawan” yang turut serta dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Bukankah sebuah pemandangan indah, dua “pahlawan” bangsa kita merayakan kebahagiaan dalam sebuah festival secara bersama. Kita harus percaya, festival bukan hanya hura-hura. Dalam sebuah festival roda perekonomian mikro berjalan, pesantrean berdampak langsung kepada sekitar, santri bisa belajar berperan dan sebuah nilai tersampaikan melalui kebahagiaan melalui sebuah festival. Dan Arena Festiza, sudah membuktikannya. Selamat.

2 komentar untuk “Festival, Santri, dan UMKM”

  1. Pingback: Tayangan Kultur Santri Di Trans7 Menuai Protes Dan Tuntutan Permintaan Maaf - Temenan BIL Fest

  2. Pingback: Uji Coba Car Free Day Desa Sokaraja Tengah: Langkah Menuju Desa yang Sehat, Ceria, dan Berdaya - Temenan BIL Fest

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top