Ana Falfana: Berusaha Menjadi Berkat di Tanah yang Dipijak

Pada hari Sabtu, 20 September 2025, kami berkesempatan untuk mengikuti sebuah acara bertajuk: “Jam Istirahat: Temu Penggerak! Kolaborasi dalam Mewujudkan Komunitas Berdampak” yang merupakan kerja kolektif antara Bhinneka Ceria, BEM UNSOED, NLA 2025, dan SMSG (Semua Murid Semua Guru). Event ini digelar di Mini Conference Room IHSB FIKES UNSOED. Acara yang terdiri dari beberapa rangkaian: Diskusi Temu Penggerak, Talkshow Komunitas Bhinneka Ceria, Penyerahan Beasiswa Pendidikan, dan Bhinneka Ceria Berkarya.

Selepas acaranya selesai, kami menyempatkan duduk-duduk bersama Ana Falfana sebagai kepala sekolah (sebutan untuk ketua komunitas) Bhinneka Ceria berikut dengan kompatriotnya. Maksud dari kita mengajak Bhinneka Ceria untuk bercengkrama lebih hangat tak lain adalah keinginan untuk mengetahui sekaligus merekam kiprah kegiatan Bhinneka Ceria via tulisan dan mencari titik temu kolaborasi yang mungkin bisa diimplementasikan pada event selanjutnya. Sembari asik ngobrol literasi dan kerja-kerja kolektif pemberdayaan masyarakat, kami juga mewawancarai sosok yang saat ini menjadi ujung tombak komunitas Bhinneka Ceria, yakni Ana Falfana.

Sebagai pengantar, Ana Falfana atau yang akrab dipanggil Nana adalah putri seorang TNI. Perempuan kelahiran 2005 ini, bisa moncer dalam pendidikan dan kegiatan sosial sampai ke Amerika Serikat tak ubahnya sebab kegigihannya serta disambut dengan support dari orang tuanya. Perempuan kelahiran Palu, Sulawesi Tengah ini, memiliki prinsip: “Selalu menjadi berkat, di mana tanah dipijak.” Untuk sedikit lebih jauhnya, mari kita simak dengung kisahnya dengan saksama dan dalam tempo yang secukupnya.

Sebenarnya apa dan bagaimana latar belakang pendidikan Anda?

Kecil, saya sekolah di SDN 13 Biru, Bone. Kemudian mengenyam bangku sekolah menengah pertama di SMPN 1 Bone dan lanjut masuk ke SMAN 1 Palu, Sulawesi Tengah pada tahun 2020. Setelah selesai SMA, sempat saya langsung daftar ke perguruan tinggi impian, yakni Universitas Indonesia. Akan tetapi, mungkin memang belum jadi jalannya. Lantas pada kesempatan selanjutnya, saya mendaftar di Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) dengan program studi Hubungan Internasional dan ternyata diterima di sini. Untuk saat ini, saya masih mahasiswi semester tiga.

Organisasi apa saja yang pernah Anda tekuni dan sekarang aktif di mana?

Mengenai organisasi, dulu sewaktu SMP saya aktif di organisasi sekolah seperti OSIS dan Patroli Keamanan Sekolah. Setelah itu, saat SMA saya aktif di Paskibra. Waktu itu sempat sampai seleksi paskibra go to provinsi, akan tetapi ada hal lain yang membuat kesempatan itu terlewat begitu saja. Mula—mula aktif di dunia sosial itu umur 15 tahun, waktu itu tahun 2021, saat SMA -dengan ditemani ibu dan kakak saya sendiri- turut berkegiatan sosial untuk ikutan seleksi Duta GenRe (Generasi Berencana) yang merupakan asuhan dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Untuk ikutan seleksi tersebut, harus adanya sebuah program. Suatu kesenangan tersendiri, saya bisa lolos dalam seleksi tersebut dan aktif di Duta GenRe sampai tingkat nasional.

Waktu menjadi Duta GenRe nasional pada tahun 2022, umur saya 16 tahun. Hal ini tidak lepas dari peran keluarga, terutama ibu saya sendiri yang pernah memberikan pesan hidup kepada saya:

“Selalu menjadi berkat di tanah yang dipijak.”

Perkataan tersebut memotivasi saya untuk terus berusaha semaksimal mungkin memberikan kebermanfaatan untuk sesama dan untuk lingkungan sekitar.

Suatu kesempatan yang luar biasa bagi saya adalah bisa ikutan YSEALI AFP (Young Southeast Asian Leaders Initiative Academic Fellows Program) ke Amerika Serikat pada April-Mei 2025. Sebuah program pertukaran pemuda mengembangkan kemampuan kepemimpinan generasi muda di Asia Tenggara. Program ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk membangun jejaring internasional dan berkontribusi dalam masyarakat. Lewat program tersebut, ia bertemu pemuda dari berbagai negara yang membawa beragam ide inovatif untuk masyarakat.

Untuk saat ini, -selain menjadi mahasiswi semester tiga, Hubungan Internasional UNSOED- saya aktif di Forum GenRe Indoneia sebagai anggota Divisi Sumber Daya Manusia (periode 2024-2026) dan aktif berpartisipasi di komunitas Bhineka Ceria sebagai kepala sekolah.

Dari kegiatan YSEALI AFP, coba bisa disebutkan satu insight penting tentang skema pemberdayaan masyarakat yang dilakukan di Amerika?

Salah satu hal yang menarik untuk saya bawa pulang dari kegiatan YSEALI AFP 2025 di Amerika adalah anak muda di sana benar-benar diajak dari meja perundingan sampai pengambilan keputusan. Kurang lebih seperti itu, yang saya dapatkan dari sana. Cara mereka melakukan pemberdayaan masyarakat, yakni dengan melibatkan pemuda-pemudinya sejak awal hingga akhir.

Siapa yang menjadi idola dan role model Anda dalam berkegiatan sosial?

Salah seorang yang menjadi idola saya adalah Maudy Ayunda. Apa sebab? Karena dia sangat menarik dalam caranya berkegiatan sosial dan cara ia memberdayakan. Umpamanya dalam pendidikan, ia memberikan beasiswa untuk anak muda. Tak hanya itu, advokasinya di bidang pendidikan dan pemberdayaan perempuan, perannya dalam mewakili suara pemuda Indonesia di forum internasional, serta penggunaan platformnya untuk menginspirasi generasi muda untuk berani bermimpi membuat saya yakin, bahwa saya tidak salah dalam memilih idola.

Bagaimana pendapat Anda tentang pemberdayaan itu sendiri?

Mengenai pemberdayaan -baik pemberdayaan masyarakat atau apapun itu- secara hemat saya, adalah sebuah tindakan atau aktivitas menjadikan suatu hal yang awalnya tidak berdaya menjadi berdaya. Melahirkan suatu hal yang awalnya tidak ada menjadi ada. Mengubah sesuatu yang awalnya mati menjadi hidup. Kurang lebih, sederhananya seperti itu.

Sejauh ini, formula seperti apa yang dipakai Anda dan Bhinneka Ceria dalam melangsungkan pemberdayaan masyarakat?

Kami melakukan pemberdayaan masyarakat tidak serta-merta dan tiba-tiba datang ke desa atau masyarakat, lantas mengejawantahkan suatu program yang kami bawa. Kami mula-mula melakukan riset dan observasi terlebih dulu mengenai masalah yang ada dan yang sekiranya bisa kita bantu untuk menguraikannya. Kami juga membaca potensi-potensi apa yang ada namun belum mekar secara maksimal. Dengan kata lain, posisi kami dalam menunaikan pemberdayaan masyarakat di desa-desa ialah sebagai problem solving. Saya beranggapan bahwa pemberdayaan hadir karena adanya sejuntai atau bahkan serangkai keresahan.

Pemberdayaan yang dilakukan oleh Bhinneka Ceria lebih didominasi oleh para pemuda. Saat ini Bhinneka Ceria memberikan beasiswa kepada para pemuda-pemudi yang melakukan pengabdian. Kami tidak serta-merta memberikan beasiswa tersebut, kami tinjau terlebih dahulu program-program pemberdayaan yang ingin diimplementasikan oleh pemuda maupun komunitas. Bhinneka Ceria lebih menghasrati sebuah pemberdayaan yang sifatnya sustainable. Tidak hanya dirasakan di generasi saat ini, melainkan impact-nya juga bisa dirasakan oleh generasi selanjutnya.

Apa cita-cita atau harapan Anda untuk Indonesia?

Terkait cita-cita atau harapan untuk Indonesia, saya berharap Indonesia lebih jelas dan lebih tepat sasaran dalam setiap kebijakannya. Indonesia bukan kekurangan orang pintar, tapi kurangnya fasilitas untuk mengakses segala bentuk program atau kebijakan yang dicetuskan. Saya berharap bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kaya sebagaimana yang sering kita gaung-gaungkan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top