Santosa dan Gita: Pegiat Seni dan Penggagas Kie Art Projects

Pada hari kemerdekaan Indonesia yang ke 80, kami bertolak ke Purbalingga untuk merayakan kemerdekaan dengan cara menikmati dan mengapresiasi lukisan-lukisan yang di pamerkan pada event Kie Art Projects yang bertajuk “The World of Happiness: Sebuah Renungan Visual tentang Makna Kebahagian Sejati.” Sebuah pameran seni rupa yang digagas oleh pegiat seni berdarah Purbalingga tulen. Sosok penting di balik megahnya pameran yang di gelar di Braling Grand Hotel Purbalingga tak lain adalah pasangan Slamet Santosa dan Gita Yohanna Thomdean. Mereka berdua lebih akrab dipanggil Santosa dan Gita.

Mas Santosa dan Mba Gita merupakan pegiat seni yang asli dari Purbalingga. Lebih tepatnya tinggal di Desa Sidareja Kecamatan Kaligondang. Santosa yang telah berkecimpung > 20 tahun di dunia seni rupa di Jakarta dan Gita Yohanna Thomdean, seorang Apoteker yang menggeluti dunia Marketing Branding > 15 tahun, serta memiliki kecintaannya sebagai penikmat seni karena terlahir dari Keluarga Seniman. Keduanya sudah melalang buana ke beberapa kota besar.

Jadi mengenai kapasitas, kredebilitas, networking, manajemen event dan perihal rasa dan intuisinya dalam dunia seni rupa sudah lebih dari sekadar cukup. Maka tak heran jika pameran-pameran yang digelar oleh mereka berdua selalu dapat dinikmati karena mereka hadir dengan konsep – konsep pameran yang unik dan menarik. Seperti pameran terdahulu tentang “The Tree Of Life” yang diselipkan dengan membagikan bibit pohon yang nantinya akan ditanam oleh penduduk sekeliling galeri dengan semangat menjaga bumi dengan wujud nyata ataupun pameran kebangkitan “Mooi Indie Modern” versi Kie Art Projects yang membangkitkan gaya lukisan yang telah lama punah dan pernah menjadi tren di Asia Pasific dengan versi yang lebih fresh, pameran tak kalah meriah dengan pembukaan pagelaran “Gemah Ripah Loh Jinawi” selama 60 menit yang dibawakan oleh para pemuda seni di bawah naungan Kie Art Project. Lukisan yang di pamerkan pun menarik minat kolektor untuk membelinya. Pengunjung di Pameran “The World of Happiness dari beragam kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua sekalipun.

Kedua sosok ini, sudah cukup dikatakan berhasil dalam mem-branding desanya, dalam hal ini Desa Sidareja Kecamatan Kaligondang menjadi desa wisata berbasis seni rupa. Beliau berdua mendirikan Kie Art Cartoon School. Sebuah wadah untuk mengakomodir masyarakat setempat dalam tumbuh kembangnya seni rupa, khususnya kartun. Meski dalam praktiknya tidak hanya seni kartun, melainkan segenap kesenian yang menjadi minat-minat masyarakat. Seperti halnya, seni karawitan, tari, lukis, wayang, kriya, tradisi desa dan kesenian lainnya. Santosa dan Gita, berbekal pengetahuan dan pengalamannya memfasilitasi masyarakat setempat untuk berkarya dan berkesenian.

Untuk itu rasa-rasanya sangat menarik mengulas kedua sosok ini. Kedua sosok kawakan yang sudah terbang tinggi di bidangnya, tanpa melupakan dari mana ia berasal. Mungkin hal ini bisa digambarkan semacam kacang yang tidak lupa kulitya.

Mengapa seni rupa menarik untuk dipelajari?

Dalam mensosialisasikan Kie Art Cartoon School ke sekolah-sekolah dan masyarakat, saya (Gita) sampaikan, “Kami tidak hendak membuat anak-anak menjadi seniman, bapak-ibu. Jikapun ada yang berkeinginan menjadi seniman, tentu Kie Art Cartoon School menjadi wadah yang suportif untuk proses berkembang anak tersebut.” Kami mengedukasi orang tua bahwa terdapat jurnal penelitian yang mengemukakannya dengan menggambar, akan membantu otak kanan anak anak mereka aktif sehingga akan menyeimbangkan dengan otak kiri. Sehingga ketika mereka ada dibangku sekolah akan dapat menerima pelajaran dengan lebih baik, lebih fokus, membantu perkembangan diri juga dan daya imajinasi yang akhirnya akan menunjang di masa depan.

Di sisi lain, secara tidak langsung kami sedang mengkampanyekan bahwa anak berhak memilih cita-citanya sendiri dengan suka rela, dengan pilihannya masing-masing tanpa harus ada beban dari orang tua. Seperti yang biasanya terjadi, dari orang tua sendiri ada keharusan untuk jadi berbagai profesi yang diinginkan, besok kamu jadi dokter ya, besok masuk kuliah jurusan ini saja ya, besok besar jadi polisi ya, dan lain-lain yang senada dengan itu.

Kie Art Cartoon School kini mewadahi hampir >200 anak dan pemuda dalam berkesenian dan khusus untuk warga desa Sidareja mereka dapat beraktivitas tanpa dipungut biaya.

“Kami tidak hendak membuat anak-anak menjadi seniman, bapak-ibu. Jikapun ada yang berkeinginan menjadi seniman, tentu Kie Art Cartoon School menjadi wadah yang suportif untuk proses berkembang anak tersebut.”

Sebenarnya apa saja sih yang tumbuh bersama Kie Art Projects?

(Gita) Pada dasarnya Kie Art Projects sendiri merupakan bagian Central dari berbagai projects yang dikembangkan, salah satunya menginisiasi Cartoon Village Sidareja , menginisiasi Event Kesenian Jawa Purba, menginisiasi Pagelaran Seni “ The Light” di Hotel Padma Bali, menginisasiasi Pagelaran Seni “ Gemah Ripah Loh Jinawi”, Menciptakan Wayang Kartun Legenda Desa, Menciptakan Jingle Desa dalam music karawitan maupun music modern, dan juga pembentukkan Kie Seni Pemuda, sebuah komunitas seni yang telah diresmikan secara hukum. Kie Seni Pemuda yang ada di dalamnya Kie Kartun (bidang seni rupa (Ageng & Alit)), Kie Karawitan (Ageng 1&2, Sepuh, Alit), Kie Tari (Ageng & Alit), Kie Wayang, dan Kie Tradisi.

Ada banyak kegiatan yang dihadirkan. Namun yang sebagai induk dari tumbuh suburnya bidang-bidang kesenian lainnya adalah Kie Art Projects. Semua kesenian yang ada, ditunaikan di Cartoon Village Sidareja yang mana Kie Art Cartoon School dijadikan sebagai pusat kegiatannya.

(Santosa) Untungnya juga, kami tinggal dikelilingi oleh tetangga-tetangga yang sangat antusias dalam berkegiatan kesenian. Sampai-sampai di halaman Kie Art Cartoon School pun kini dijadikan tempat senam ibu-ibu dengan lagu senam yang berbasis gending karawitan.

Lantas mengapa Anda menamainya dengan Kie Art Projects?

(Gita) Dalam hal ini, kami menamainya dengan Kie Art Projects bukan tanpa sebab. Sebenarnya Kie Art Projects sendiri didirikan pada tahun 2020, sewaktu pandemi Covid -19. Dengan rencana awalnya adalah untuk lingkungan galeri “Small Box” di Jakarta Selatan. Akan tetapi, Kie Art Projects menemukan jalannya menuju Desa Sidareja di Kota Purbalingga, Jawa Tengah. Penggunaan diksi “Kie” tidak terlepas dari Bahasa Ngapak Purbalingga yang dalam Bahasa Indonesia berarti “ini.” Dan “Art” menggunakan Bahasa Inggris yang berarti “Seni” sebagai gambaran dunia global, yang mana dalam kombinasi kata ini terdapat harapan bahwa nantinya semua karya-karya kami dapat juga dinikmati hingga kancah Internasional.

Penulisan “Projects” dengan hurus “s” di belakangnya, menekankan bahwa Kie Art Projects aktif melahirkan proyek-proyek untuk melestarikan Seni dan Budaya Indonesia. Banyak hal kesenian yang bisa dilakukan dan dijadikan sebagai ruang bebas berekspresi.

Apa motivasi Anda dalam menggelar sebuah pameran seni rupa?

Motivasi saya (Santosa) dalam menggelar sebuah pameran, dalam hal ini pameran seni rupa Adalah “Bagaimana menjadikan karya-karya para seniman dapat dinikmati oleh khalayak publik dengan menghadirkan sebuah pameran yang memadai, dari segi konsep dan estetika sehingga dapat terlihat kualitas dari pameran tersebut?” Karena pada endingnya adalah sebuah karya seni bisa untuk dinikmati tidak hanya oleh diri seorang seniman, melainkan masyarakat awam pun dapat turut serta menikmatinya. Para seniman pun akan sangat senang jika karyanya dipamerkan dengan proper sehingga dapat diapresiasi, terlebih karya dalam pameran bisa bernilai kebermanfaatan bagi publik.

Sedangkan motivasi lainnya adalah, ingin memberikan semangat kepada seniman di luar Kie Art Projects dan pegiat seni yang ada di daerah sekitar untuk tetap dapat berkarya dan berkesenian serta menampilkannya ke ruang publik dengan proper, sehingga dapat dinikmati oleh masyarakat awam. Maka sangat disayangkan apabila kegiatan mereka dan output-nya tidak memiliki wadah yang cukup memadai untuk publik bisa turut menikmati.

Bagaimana cara Anda menentukan karya yang layak tayang di pameran Anda?

Dalam menentukan karya-karya seniman yang tampil di sebuah pameran saya (Santosa) atau Kie Art Projects, saya sendiri lebih mengedepankan roso (perasaan) untuk mengenali mana karya yang mampu membawa penikmatnya ke perasaan bahagia, karena memang semua karya di Kie Art Projects memiliki benang merah, yakni rasa kebahagiaan. Setiap lukisan ataupun karya seni para seniman, secara tidak langsung bisa dirasakan. Mana karya-karya yang bernyawa dan penuh makna, yang dalam membuatnya mengandung rasa dibandingkan dengan karya yang hanya sebatas karya tanpa hadirnya rasa, bagi saya mudah untuk dibedakan. Saya dapat merasakan hal itu. Karya yang bernyawalah yang akan saya pilih.

 Mungkin hal itu tadi menjadi salah satu cara saya dalam menentukan sebuah karya seni atau lukisan. Namun jika ada lukisan atau karya seni yang terkonsep, setidaknya ada konsepnya, ada ide dan gagasan yang dibawa, maka itu juga layak tayang di pameran. Barangkali ini jadi parameter minimum saya dalam menentukan karya dalam pameran.

Apakah ada pesan untuk anak muda yang juga memiliki cita–cita untuk membangun sebuah komunitas atau sebuah desa seni atau menggelar sebuah pagelaran untuk melestarikan seni dan budaya?

(Gita) Pesan kami hanya sederhana, percayalah pada mimpi kalian sekecil apun itu, niatkan dan selalu berserah sama Tuhan ketika semua hal telah kita lakuan dan selalu konsisten berusaha dalam mewujudkan mimpi itu, perlahan tapi pasti akan mewujud. Karena kami telah membuktikannya, bahwa semua yang dilakukan di Kie Art Projects adalah berasal dari mimpi kecil yang terpendam tahunan tetapi akhirnya dapat terwujud dengan mengikuti waktunya Tuhan. Karena waktu Tuhan lah yang terindah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top