
Malam terasa sunyi. Lebih-lebih dalam pikiran apalagi dalam perbuatan. Semuanya terasa sunyi-senyap. Tak ada yang menghasrati untuk bergerak. Semangat menulis saya, akhir-akhir ini semacam pudar bersama waktu dan drama angan-angan serta sosial. Sudah beberapa hari belakangan (mungkin juga semingguan lebih), dengan kesadaran yang sempurna, saya absen dari menulis. Saya sadar betul, bahwa fenomena demikian tidaklah cukup baik untuk perkembangan kesehatan akal sehat, kemajuan berkarya, dan keberlangsungan produktivitas dan kreativitas, khususnya dalam lingkup menulis.
Saya termenung dan termangu. Bingung harus bagaimana mengupayakan kebangkitkan spirit menulis yang sudah lama terkikis oleh kegelisahan akan masa depan. Tentang babak selanjutnya yang ingin segera ditempuh. Mengenai masa depan yang pada dasarnya bersifat misterius memanglah selalu menawarkan benefit gelisah, galau, dan merana (gegana). Tapi itu manusiawi. Barangkali setiap insan sudah pernah mengalaminya. Sekalipun begitu, kita perlu membidik target meskipun dalam perjalanannya timbul revisian, itu juga wajar. Namun setidaknya adanya sasaran yang dituju membuat kita bisa menentukan arah dan menyiapkan perangkat dan langkah strategis untuk mencapainya.
Mungkin itu, salah satu hal yang membuat semangat menulis saya mandeg (baca: berhenti) dan tak kunjung berjalan atau mungkin berlari kembali (Walau sakjane yo rung pernah bener-bener melayu eh). Meski begitu, saya harus segera mencari penawar agar sesegera mungkin, semangat dan laku menulis kembali berlangsung. Untuk itu, saya bertolak menziaarahi media sosial untuk mencari-cari perlombaan menulis, baik puisi, cerpen, esai, atau event menulis lainnya yang sekiranya bisa saya ikuti dengan segenap kemampuan dan keterbatasan yang saya miliki. Setelah sekian lama mencari-cari lomba kepenulisan, namun pada akhirnya banyak yang berujung hanya sebatas tangkapan layar yang tersimpan (sunyi) di keheningan galeri.
Telah kuhimpun beragam lomba-lomba kepenulisan, namun masih saja termenung cum membisu di galeri dan belum ada satu pun yang dieksekusi. Mungkin tulisan ini, yang baru saja kutulis selepas libur menulis yang cukup berkepanjangan. Ternyata banyaknya lomba-lomba kepenulisan yang saya temukan sewaktu berselancar di media sosial, belum mampu menyulut api semangat menulis dan berkarya bagi saya. Walhasil, saya masih saja berkutat pada kegelisahan dan kegalauan atas lunturnya semangat menulis.
Setiap Karya Akan Menemukan Pembacanya
Suatu ketika, pada malam yang hening dan dingin. Pada Sabtu, 19 Juli 2025, kurang lebih pukul 20.24 WIB. Tetiba saya mendapatkan sebuah pesan cukup panjang di Instagram. Pesan dari seseorang yang saya sendiri tidak tahu-menahu dan mungkin belum pernah sama sekali bertemu. Isi pesannya demikian (tanpa saya ubah kata maupun kalimatnya):
Assalamualaikum. Mohon maaf pak guru. Saya alumni ponpes Al ikhsan beji. Suatu ketika saya nemu koran di kantor MA Al ikhsan, terus saya tertarik sama salah satu puisi. Keren banggett. Akhirnya saya sobek dan saya simpan. Peringatan hari santri tahun 2024 kemarin, pondok mengadakan lomba cipta puisi, saya yang mewakili kelas 3 MA waktu itu. Waktu itu bener bener buntu mau bikin puisi bertema pondok, susah banget untuk menentukan kata awalnya. Nah,, saya buka potongan koran itu. Pas saya baca puisi yg berjudul “bakso ketupat” saya langsung diparingi ide dateng Gusti Allah. Akhirnya puisi untuk lomba langsung selesai sekali duduk saat itu juga dan Alhamdulillah bisa meraih juara 3. Awalnya saya ngga tau ini karya siapa, ehh ternyata malah orangnya dekat sekali. Makanya saya mau minta maaf karena ngga izin terlebih dahulu dalam menjadikan karya pak guru sebagai referensi karya saya dan terimakasih karena karya bapak bisa membawa saya meraih juara 3. Wassalamu’alaikum.
Respon saya pertama kali atas pesan tersebut tak lain adalah kaget. Bagaimana tidak? Saya tak pernah sekalipun mempunyai niatan menulis untuk menginspirasi orang lain. Mungkin sampai saat ini, saya menulis hanyalah untuk melampiaskan isi pikiran dan batin yang kadang atau justru seringkali berkecamuk campur aduk tak karuan, sewelas rolas karo es campur lima ribuan. Tapi kok, secara tiba-tiba ada yang terinspirasi dari tulisan saya yang dimuat di koran. Ini adalah fenomena yang sangat-sangat ganjil bagi saya. Maka wajar saja jika saya tersentak kaget. Kaget bercampur senang, meski masih banyak “ngga nyangkanya.”
Lebih kagetnya, puisi tersebut termaktub di koran. Koran yang mula-mula saya persepsikan sebagai surat kabar yang mungkin sudah teramat tertinggal dan sangat tradisional nan jauh dari peradaban modern dan bahkan mungkin luput dari generasi Z, ternyata tak berujung hanya untuk bungkus tempe atau untuk bungkus kado (ketika tak ada kertas kado). Fenomena ini mengubah persepsi saya akan media warta berupa koran. Ajaibnya, koran bisa lain nasibnya ketika berada pada orang yang tepat, waktu yang tepat, dan tempat yang tepat.
Dari pesan ini, saya juga jadi belajar seraya meyakini ujar-ujar yang sudah fenomenal dan mungkin sudah terlampau familiar. Sebuah ujar-ujar atau adagium yang kurang lebih demikian, “Setiap karya akan menemukan pembacanya masing-masing.” Jadi, janganlah takut untuk terus berkarya dan menulis. Buanglah ketakutan-ketakutan tentang bagaimana nasib tulisan kita nantinya. Sayuri Yosiana dalam artikelnya yang berjudul “Sastra Independen” yang dimuat di Kompas.com pada 24 Agustus 2010 juga berkata, “Setiap karya akan menemui takdirnya masing-masing.” Maka dari itu, biarkan mereka (karya tulis) tersebar dan menemukan pembacanya. Tugas kita sebagai penulis, tak lain adalah menulis dan memublikasikannya. Sisanya, serahkan kepada semesta.
Tak hanya itu, dari pesan yang lumayan panjang ini. Saya menjadi terinspirasi untuk kembali menulis. Dengan kata lain pesan ini menjadi semacam trigger (pemicu) dari kebangkitan spirit menulis saya pribadi. Saya merasa cukup senang dan bahagia. Karena merasa terlahir kembali untuk menulis dan syukur-syukur bisa bermanfaat bagi orang lain. Sebagaimana ajaran nenek moyang kita, “Sebaik-baiknya manusia adalah ia yang bermanfaat bagi sesamanya.” Mari menulis dan berkarya bersama.
Fajrul Alam. Penyair muda dan aktif di dunia literasi Purwokerto, ia juga telah menerbitkan sejumlah karya puisi yang tersebar di berbagai media cetak dan digital. Buku antologi puisi pribadinya berjudul “Resep Bahagia” (JP: 2025). Bisa disapa via IG: fajrulalam_




