Owly, Kucing Pembawa Pesan

Mendengar cerita tentang seekor kucing yang dekat dengan manusia, kemudian kucing itu membawa pesan atau pertanda bahwa dia akan menemaninya di saat akhir hayat di dunia ini. Bagiku itu sangat tidak menyenangkan. Mungkin bagi orang lain ini adalah cerita menarik dan orang-orang akan sangat menyukai kucing itu, tapi bagiku, sama sekali tidak. Aku sangat membencinya.

Aku akan menceritakan seekor kucing berwarna dominan hitam yang tiba-tiba datang di kehidupanku. Ini bukan cerita happy ending. Jadi jangan berharap ada kebahagiaan setelah mendengar ceritaku.

Kucing itu bernama Owly. Entah siapa yang menamainya pertama kali, tapi orang-orang bersepakat kucing betina itu bernama Owly. Bisa jadi karena matanya besar mirip burung hantu, atau warna bulunya yang seperti burung hantu. Mungkin juga karena kucing itu bisa melihat hantu.

Owly dominan berwarna hitam, ada sedikit warna oranye pada bulu di perutnya. Usianya tidak ada yang tahu, karena pada saat itu aku dan tetangga sekitar rumah tidak ada yang maniak dengan kucing. Sehingga tidak perlu repot-repot menghitung usianya. Kami hanya sebatas menyukainya. Jadi, buat apa kami menghitung seberapa lama Owly hidup. Aku tahu hanya Owly tidak pernah mengandung. Sangat aneh jika kucing betina liar tidak memproduksi keturunannya. Biasanya kucing-kucing liar lain sangat cepat bereproduksi. Iya, Owly menurutku adalah kucing yang aneh.

Semuanya berubah, ketika Owly membuat geger warga sekitar hingga orang-orang sangat menyukainya, bahkan anak-anak muda telah membuatkan Owly akun media sosial. Membuatnya saluran siaran langsung jika ada momen-momen penting seperti Owly yang sedang menyaksikan pemakaman, atau Owly yang sedang mandi air ludahnya.

Owly menjadi primadona setelah dia menarik perhatian banyak orang. Ketika itu entah dari mana, Owly datang mengunjungi rumah paman Fed. Awalnya kami menganggap itu biasa saja. Owly duduk setiap harinya di depan rumah paman Fed, kadang tertidur bermalaman di atas lap kaki depan rumah paman Fed.

Paman Fed hidup sendiri dalam rumah kecilnya. Seperti Owly, kami tidak tahu datang dari mana, yang pasti paman Fed sangat ramah. Usia paman Fed sekitar lima puluh tahun, dia bekerja menjadi driver ojek online.

Saking ramahnya jika tetangga menggunakan jasanya, dia tidak ingin dibayar. Katanya, biar menjadi amal ibadahnya. “Ah, Paman. Paman juga butuh uang untuk makan.”

Paman Fed juga adalah warga yang paling rajin. Siapa pun yang meminta bantuannya, dia tidak pernah menjawab tidak. Tetangga sering meminta bantuan apa pun, seperti memintanya membersihkan rumput halaman rumah yang meninggi, mengecat rumah, dan hal-hal lain seperti menjadi petugas hansip ketika ada yang menggelar hajatan. 

Aku selalu terbayang senyum ramahnya jika berpapasan di depan rumahku. Dia juga sempat bercerita ketika aku memintanya mengantar pergi ke kantor. Dalam perjalanan paman bercerita bahwa dia mempunyai anak perempuan yang usianya baru sembilan tahun. Anaknya terpaksa ditinggal bersama neneknya di luar kota. Aku tidak menanyakan, mengapa? Bagiku itu bukan basa-basi agar ada pembicaraan, tapi lebih kepada tidak mau mengungkit urusan pribadi orang lain.  Aku juga tidak menanyakan di mana ibu dari anaknya.

Paman Fed terlihat rindu dengan anaknya. Untuk mengobati rindu paman Fed, dia menyempatkan untuk menelpon anaknya dengan panggilan video selepas mencari dan mengantar penumpang.

Aku pun menyuruhnya berhenti dahulu ketika waktu itu di antarnya dan secara bersamaan panggilan masuk pada ponselnya dengan nama ‘Anakku’. Aku tahu karena melihat pada ponsel android yang terbungkus plastik bening─untuk menghindari air hujan masuk merusak mesin ponsel, terpasang pada pengemudi dekat dengan kaca spion sepeda motor Paman Fed.

Aku lalu bilang, “Angkat dulu saja paman, mungkin penting.”

“Enggak apa-apa mas, biasa anak perempuan saya kalau mau berangkat sekolah pengin lihat bapaknya. Nanti saja telpon balik. Nanti mas Tobe telat masuk kerja. Terus gajinya dipotong gara-gara telat absen gimana? Atau mas Tobe di-PHK gara-gara saya antarnya telat gimana?”

“Ah paman, selalu saja mengkhawatirkan orang lain.”

Aku mengingatnya dengan jelas kejadian saat itu. Aku juga mengingat ketika Owly selalu duduk di depan rumah paman Fed tiga hari berturut-turut. Aku kira paman Fed selalu memberinya makan kucing itu, hingga Owly selalu menunggu diberi makan lagi, tetapi salah. Paman Fed tidak memberinya makan, karena selama tiga hari, kami para tetangga tidak pernah melihatnya. Awalnya kami pikir, paman Fed pulang ke rumah orang tuanya untuk menengok anaknya. Hingga kecurigaan muncul ketika melihat sepeda motor paman Fed terparkir di teras rumahnya dan lampu ruang tamu selalu menyala.

Kucing itu menunggui paman Fed yang sudah tiada. Mungkin juga saat-saat terakhir hidup paman Fed, kucing itu sudah menunggu di teras rumahnya. Kami para tetangga semua berduka, terlebih ketika melihat anak perempuanya yang datang bersama neneknya. Mereka mengucap salam perpisahan kepada kami dan berucap terima kasih sudah menjadi tetangga yang baik.

“Ah nenek. Nenek begitu baik seperti paman Fed.”

Owly menjadi perbincangan panjang setelah kejadian itu, ditambah bumbu-bumbu pemanis cerita layaknya bergosip sesama tetangga. Ada yang menyukai kucing itu, hingga memperlakukannya layaknya manusia. Memberinya makanan terbaik, parfum, tempat tidur kucing yang di simpan di pos kamling. Ada pula yang khawatir didatangi kucing itu, karena pertanda akan ada kematian, tetapi sebagian besar warga sangat menyayanginya. Owly menjadi pertanda bagi warga, hingga orang yang terpilih untuk didekati Owly mereka akan menikmati kebersamaan terakhirnya di dunia menjadikan waktu sangat berharga dengan diisi hal-hal menyenangkan, tanpa kesedihan.

Seharusnya memang seperti itu bukan? Tahu kapan akan meninggalkan dunia ini sehingga kita bisa memberikan penutup yang menyenangkan. Pergi dengan meninggalkan keceriaan, karena semuanya pasti akan berakhir, semuanya pasti akan terganti dengan yang baru. Orang-orang mati akan terganti dengan orang-orang baru lahir, begitu seterusnya.

Owly mengingatkan kami tentang kefanaan dunia ini. Dunia yang berwujud padahal sebenarnya tidak, karena manusia tidak membawa kewujudan dunia ini pada kematiannya. Pada sesuatu yang abadi.

Lantas kenapa aku membenci Owly? Karena sudah tiga hari dia duduk di teras depan rumahku. Owly mencium bau kematian dari rumah, seperti hendak menghibur kami yang akan ditinggalkan atau menemani saat-saat terakhir di dunia ini.

Ayahku dipulangkan dari rumah sakit. Menurut dokter, ayah lebih baik di rumah saja berkumpul dengan anak-anak dan cucu-cucunya.

“Lebih baik ayah mas Tobe istirahat di rumah ditemani cucu-cucu dan anak-anaknya, mungkin akan jauh lebih baik.”

Aku paham maksud perkataan dokter. Ayahku sudah sangat tua, sudah cukup banyak menghabiskan hidupnya di dunia ini. Tapi tetap saja, aku akan merasa kehilangan jika ayah pergi. Firasat yang Owly rasakan, aku rasakan juga.

Ada satu cerita yang menarik lagi selain cerita paman Fed, Owly dan ayah. Tadi siang, ketika aku menjemput ayah dari rumah sakit dadaku sesak seperti tertimpa beban berat, nafasku sesak dengan nyeri menusuk tembus di dada. Kata istriku, aku tidak sadarkan diri. Aku terbangun di ruang IGD rumah sakit. Aku melihat anak perempuanku khawatir menatap dengan raut muka sedihnya. Aku jadi teringat anaknya paman Fed, mungkin seumuran dengan anakku.

Hari ini aku sangat lelah sekali. Aku mendapat serangan jantung ringan, ada penyempitan arteri koroner yang menyebabkan darah ke jantung berkurang. Sekarang aku sudah di rumah. Sebelum masuk rumah, kudapati Owly sedang duduk di atas lap kaki depan rumah. Saat itu aku tidak mengusirnya, aku biarkan dia masuk rumah ketika membuka pintu. Aku pikir mungkin bisa menghibur ayah di saat-saat terakhirnya. Aku berharap Owly bisa tidur di kamar ayah.

Aku rebahkan tubuhku, tidak lama Owly datang sambil menatapku dengan ekor yang berdiri dan menggosokkan badannya di pintu kamar. Dia diam sejenak lalu berlari melompat ke atas kasur. Owly tidur melingkar di samping kakiku. Aku liat dia, seperti ada kedamaian di sana. Sudah lama aku tidak merasakan perasaan setenang ini ditemani seekor kucing.

Aku sangat lelah sekali. Sepertinya aku harus memejamkan mata dulu.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top