Dakwah Gus Mus via Jumat Calling: Genre dan Konsistensinya

Dalam sebuah panggilan telepon (pada 9/8/2025) yang mengagetkan dan selebihnya mengejutkan, karena tetiba dikabarin ada sebuah acara bertajuk “Membaca Gus Mus dari Pinggiran.” Awalnya saya kira, acara tersebut menghadirkan sosok yang karismatik itu. Karena sewaktu dikirimin pamfletnya, ada foto beliau saat muda yang nyentrik dengan kopiah putih di kepala dan sebatang rokok di tangannya. Hanya itu foto yang terpampang di pamflet. Yo ta kiro ngundang Gus Mus to… Ternyata setelah di-jluntrungke (baca: dijelaskan) lebih kentel, bukan menghadirkan Gus Mus melainkan Djito el Fateh, M.Sos yang menulis buku “Jumat Calling: Gus Mus Menyapa Umat.”

Meskipun demikian, saya tetap berangkat dari Purwokerto menuju Ajibarang. Salah satu hal yang memberangkatkan saya adalah karena ternyata sebuah “postingan” dalam hal ini Gus Mus bisa menjadi titik tolak untuk penelitian dan dibukukan. Jadi, Djito itu merekam fenomena Gus Mus dengan segenap pendekatan dan keunikannya dalam dinamika “Jumat Calling” yang tak lain adalah alternatif beliau dalam berdakwah.

Sebagai anak muda yang hampir media sosial sebagaimana teman dekat atau bestie sendiri (kurang lebih terutama sejak 2019), maka wajar saya pernah mendengar istilah “Jumat Calling.” Sepemahaman saya, Jumat Calling atau Friday Calling adalah bagian dari manuver Gus Mus dalam berdakwah. Di mana yang tadinya di mimbar-mimbar, beralih ke sebilah gawai yang siapapun bisa mengaksesnya, kapanpun dan di manapun.

Sebagai gambaran gamblangnya akan saya coba sisipkan “panggilan Jumat” dari Gus Mus yang ada di Instagram pribadinya, @s.kakung. Ini merupakan postingannya pada Jumat, 25 April 2025, “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Semoga amal ibadah kita diterima dan dosa-dosa kita diampuni olehNya.⚘️ JUM’AT CALLING: Salah satu ciri kedewasaan ialah kemampuan menyikapi perbedaan.”

Genre Dakwah Gus Mus

Dalam acara Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) MWC NU Kecamatan Ajibarang yang digelar di Padepokan Lingsir Wengi, Ajibarang Kulon, Djito menyoroti dua genre dakwah Gus Mus dalam mengajak orang lain untuk selalu mengingat Sang Maha Pencipta. Bagi Djito, secara universal, dakwah Gus Mus didominasi dengan tema humanisme dan islam rahmatan lil alamin. Dalam mengkampanyekan dua tema ini, Gus Mus tak hanya menunaikan dakwahnya dengan cara manggung dan berkhutbah di atas podium. Beliau dalam berdakwah banyak menggunakan trobosan baru dan bahkan manuvernya ngga karu-karuan. Di mana Jumat Calling adalah salah satu metode dakwahnya yang ngga disangka-sangka: sesosok kiai sepuh berkawan Twitter dan Instagram yang notabenenya mungkin lebih banyak dipenuhi netizen yang unfaedah dengan segenap ketengilannya untuk dijadikan medan dakwah.

Sejauh pengamatan Djito, mulai dari penelitian skripsi hingga tesisnya, genre dakwah Gus Mus banyak mengupas tentang bagaimana cara memanusiakan manusia atau yang familiar disebut dengan humanisme. Sebagaimana panggilan Jumat atau “Jumat Calling” yang disebutkan di atas, tentang menyikapi perbedaan. Sudah barang tentu, kita sebagai manusia jangan bersikap gamang dengan sebuah perbedaan. Justru dengan adanya perbedaan sesuatu menjadi lebih menarik. Bayangkan jika dalam sebuah diskusi, semua anggota memiliki pandangan yang seragam atau sama semua, maka yang ada tak lain adalah diskusi yang ngantuki dan kurang menarik. Adanya perbedaan pendapat, sudut pandang, dan prespektif justru akan memperkaya cara pandang kita terhadapa suatu topik pembahasan. Lah iyo kan enak. Aku ngopi, koe ngeteh. Tiba-tiba pingin ngeteh, yo tinggal nginum tehmu. Hehe.

Genre dakwah yang juga tak jarang ditemukan dalam “Jumat Calling” Gus Mus sepanjang penelitian Djito el Fateh adalah kampanye islam rahmatan lil alamin. Islam yang penuh kasih sayang terhadap semua makhluk. Islam yang seumpama muara kasih sayang yang lantas mengalirkan cinta kasih kepada segenap manusia maupun selainnya. Bagi masyarakat NU Ajibarang sendiri, membaca islam rahmatan lil alamin via sosok, adalah melalui perantara almarhum Gus Dur. Banyak dari mereka yang beranggapan representasi sosok Gus Dur untuk saat ini adalah Gus Mus. Setidaknya setelah wafatnya Gus Dur, masih ada yang bisa dijadikan sebagai role model untuk bertingkah laku dan mengambil sikap dalam beragama, berbangsa, dan bernegara, khususnya bagi kalangan NU.

Konsistensi Dakwah Gus Mus

Menanggapi fenomena “Jumat Calling” Gus Mus, Djito selaku peneliti militan menilai bahwa Gus Mus sejak 2008 sampai sekarang tak ada perubahan dalam pandangan dan sikapnya, wabilkhusus dalam beragama. Sepemahaman saya maksud dari ketiadaan perubahan Gus Mus dalam mengambil sikap dan bertingkah laku adalah bahwa Gus Mus sudah khatam atau setidaknya kapasitas keilmuannya sudah lebih dari sekadar cukup. Bahkan mungkin, sampe tumpeh-tumpeh. Sehingga dalam pergulatan zaman yang kian gonjang-ganjing sekalipun, Gus Mus tetap slow, kalem, dan soft. Tentu hal ini disebabkan keilmuan beliau (sebagaimana dibahasakan oleh Djito) sudah sampai sudur (hati) bukan lagi yang masih terjerat oleh sutur (tulisan).

Djito juga bercerita tentang sentilan sayang Gus Mus yang mencerminkan konsistensi beliau akan keilmuannya dan sikap beliau dalam beragama dan bernegara. Sebagaimana pernah muncul istilah islam wasatiyah (moderat) yang digaung-gaungkan oleh Lukman Hakim Saifuddin sewaktu menjabat sebagai menteri agama. Gus Mus sedikit menanggapi kemunculan istilah tersebut. Beliau mengungkapkan bahwa sejujurnya atau pada dasarnya islam itu sendiri sudah wasatiyah (moderat). Jadi tak perlu untuk memoderat-moderatkan. Karena memang sudah moderat. Bagi saya pribadi, Gus Mus ialah salah seorang yang salih vertikal (hubungan manusia dengan tuhan) dan salih horizontal (hubungan manusia dengan sesamanya).

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top