Poster Nobar Timnas Out Of Touch

Sebuah postingan nonton bareng (nobar) pertandingan Indonesia vs Filipina pada 18 Juli 2025 di Alun-Alun Purwokerto tidak sengaja terlihat di Instagram. Postingan tersebut menampilkan para pemain timnas, informasi acara, serta sosok Bupati Banyumas, Drs. H. Sadewo Tri Lastiono, MM, lengkap dengan gaya khas mengajak semangat nasionalisme.

Namun, tak berselang lama saat gulir kebawah, akun Instagram @pwt.undercover mengunggah postingan yang mengkritisi desain poster pak Sadewo sepertinya (ini hanya perkiraan saya ya). Begini isinya “Masa poster nobar timnas di tahun 2025 masih aja yang dihiasi foto para pejabat daerah. Inget, ini tahun 2025, lho!” tulis akun tersebut. Meski cara bacanya masih perlu diperdebatkan dengan nada heran atau seperti orang marah,tetapi pada intinya hal tersebut adalah fenomena lama yang belum juga pudar di era digital saat ini yaitu budaya pencitraan di ruang publik.

Tapi, apakah orang terkenal masih butuh pencitraan di ruang publik? Jawabannya butuh, apalagi dalam kasus ini sosok kepala daerah, masyarakat harus tahu secara gamblang bahwa kepala daerahnya mendukung dan mensupport kegiatan tersebut, jangan sampai muncul isu pembatasan, bahkan kegiatanya dibubarkan atau tidak dilanjutkan lagi. Nah, hal tersebut juga dinamakan kontrol narasi dari pemerintah, bahwasanya apa yang diketahui masyarakat hanyalah apa yang dipilih dan ditampilkan.

Mungkin, pada poster nobar terlalu berlebihan, jadi kesan tulus mendukung malah kabur menjadi pencitraan yang tidak pas panggungnya, meminjam istilah gen z out of touch. Padahal saat ini, terutama gen z lebih suka yang otentik, jika mau mendukung cara terbaiknya adalah, cukuplah hadir dan memberi ruang tanpa perlu mencuri spotlight, karena orang datang untuk kegiatannya bukan karena tokoh tersebut.

Namun, selalu penting untuk memberi ruang pada sisi lain. Penyelenggaraan nobar oleh pemerintah daerah bisa menjadi cara membangun kebersamaan warga masyarakat. Di sisi yang lain lagi, kritik dan dukungan tak perlu dipertentangkan karena merupakan bagian penting dari demokrasi visual kita hari ini. Poster bukan sekadar gambar dan teks, tapi cermin dari budaya, relasi kuasa, dan aspirasi publik.

Kalau menurutmu bagaimana? Silahkan tinggalkan di kolom komentar.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top