
Laut itu luas, tanpa sengaja aku berpikir tentang kematian dan ditinggalkan oleh orang tersayang.
Di antara Jawa dan Sumatra ada selat Sunda, posisi dimana aku mendapati pesan dari seorang kawan tentang kematian adik seorang sahabat. Betapa raga ini ingin datang, berdoa dan menghibur sahabatku yang pasti sedang bersedih.
Dalam hidup, ada kehilangan-kehilangan yang tidak bisa kita mengerti, begitu mendadak dan tanpa pemberitahuan. Seorang sahabatku, yang juga seorang kakak dari dua adiknya, menghadapi duka kehilangan dua adiknya yang satu pergi beberapa tahun silam, yang satu lagi menyusul tahun ini. Duka itu tidak memberi waktu bagi hati untuk pulih, ia datang seperti ombak kedua yang memukul sebelum sempat bernapas dari pukulan pertama.
Ketika adiknya yang pertama wafat, aku melihatnya menyelami duka dengan kedewasaan yang ganjil. Seolah ia sedang menuliskan puisi di dalam gelap, dengan tinta air mata dan kertas malam yang sunyi. Ia memanggul kesedihan itu sendirian.
Bagi adik yang tersisa, ia harus menjadi jangkar. Ia tidak boleh runtuh. Tidak boleh menangis terlalu lama. Tidak boleh hancur.
Tapi ketika adik keduanya menyusul, aku saat ini hanya bisa membayangkan bagaimana merapikan batin saat kehilangan datang bergantian. Apa yang bisa kita katakan kepada seseorang yang kehilangan dua belahan jiwanya, dan hanya berselisih beberapa tahun?
Aku mengenalnya sebagai pribadi yang tabah. Tapi kali ini, aku merasa tabah itu sendiri ikut berduka.
Kematian kata Rumi, bukanlah kehilangan. Ia hanya perpindahan ke ruangan yang lain, tempat jiwa-jiwa yang dicintai menunggu. Tapi bagi yang ditinggal, ruang itu terlalu sunyi. Tidak ada tempat yang cukup besar menampung rindu seorang kakak kepada adik-adiknya.
Tapi aku tahu, ia sedang merajut kekuatan baru bukan dari luar, tapi dari dalam. Dari luka yang tidak dia sembuhkan, tapi dia rawat dengan sabar. Dari doa-doa yang tidak dia ucapkan keras-keras, tapi hidup dalam denyut jiwanya.
Ia tidak membenci takdir. Ia tidak memberontak pada Tuhan. Ia menerima, meski hatinya masih sesak. Dan di situ letak kekuatannya pada kesediaan untuk hancur, tetapi memilih utuh.
“Yang tak selesai bukan kehilangan, tapi cinta yang tetap tinggal.”
— Untuk para kakak yang tabah dan para adik yang telah menjadi doa.
Penulis dan penggerak literasi dari Banyumas. Ia aktif menginisiasi forum baca dan diskusi sastra. Karya-karyanya mencerminkan kepedulian sosial dan lingkungan. Melalui puisi dan esai, ia menjadikan literasi sebagai ruang perjumpaan, pembebasan, dan pemberdayaan masyarakat secara inklusif.




