Lagu Pop Jawa Membawa Budaya Adiluhung ke Atas Panggung

Denny Caknan, Guyon Waton, Ndarboy Genk, NDX Aka, Happy Asmara, Afthersine, Ngatmobilung, Pendhoza dan masih banyak lagi. Itu adalah deretan nama-nama penyanyi solo dan groub musik Pop Jawa, yang bisa disebut bersinar di era pasca Didi Kempot. Mereka adalah musisi-musisi yang menembus batas-batas genre lagu. Sehingga gamelan bisa sepanggung dengan saksofon, ketipung bisa seirama dengan biola, dan aku hanya bisa melihatnya bahagia di sana, hallah. . .

Sejak tahun 2019 lirik-lirik lagu Pop Jawa semakin adiluhung, tidak hanya berisikan kata-kata yang biasa terdengar. Tetap membawa kesusastraan Jawa yang penuh dengan sanepan (peribahasa). Pilihan kata dan kalimat dalam lagu-lagu Pop Jawa tidak hanya mengikuti tuntutan pasar / industri lagu. Namun menghidupkan lagi kekayaan kata dalam Bahasa Jawa. Bahkan lebih jauh lagi penggunaan Bahasa Sansekerta.

Mungkin saja para pendengar lagu Pop Jawa akan mulai suka karena nadanya atau fanatik terhadap artis tertentu. Namun jika mengulik lebih jauh, banyak kata-kata yang dipilih tidak sekedar berima sama, namun membawa pesan. Sehingga kebudayaan Jawa yang syarat akan moral dan adiluhung, bisa tetap terawat melalui lagu dan ketipung di atas panggung.

Lirik lagu Pop Jawa membawa unsur kedaerahan secara terbuka. Menjadikan nama-nama daerah sebagai bagian lirik. Bahkan itu sudah dilakukan oleh Manthous – sang maestro campursari— ketika menulis lagu yang berasal dari nama-nama desa di Kecamatan Pengasih Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarata. Dan yang dilakukan Denny Caknan dkk adalah meneruskannya. Hal lain adalah kuatnya pesan moral dan nasehat dalam lirik-lirik lagu Pop Jawa.

Misalnya potongan lirik lagu “Sinarengan” dari Denny Caknan berikut ini:

Tatak mlakune (Kuatkan langkahmu)

Ning jobo banter tenan angine (di luar angin bertiup kencang)

Soyo dewasa ra ngenteni badai terang (Semakin usia dewasa jangan menunggu badai reda)

Nanging sinau nari ning tengah udan (Tetapi belajar berjuang di tengah hujan)

Sanepan dalam 4 lirik lagu di atas, jika ditarik dalam realitas rumah tangga, akan menjadi nasehat yang mudah diterima. Terutama oleh keluarga baru dan keluarga dengan usia pernikahan yang masih muda. Bahwasannya masalah rumah tangga akan selalu ada. Saling menguatkan. Cobaan bisa datang dari mana saja. Akan tetapi bukan berfokus pada cobaanya. Tetapi bagaimana dalam melihat cobaan itu. Bisa jadi ada keluarga kecil yang terselamatkan retakannya karena selarik kalimat di atas.

Kebudayaan Jawa bukan hanya milik segelintir orang saja. Sekarang adalah era keterbukaan. Lagu Pop Jawa Denny Caknan dkk telah menembus sekat high culture dan low culture  dalam sebuah kebudayaan lagu. Tidak peduli kaya atau kaum papa. Semuanya sama di hadapan lagu Jawa.

Sekarang adalah era di mana sebuah kebudayaan harus saling berkolaborasi, tanpa kehilangan makna dan jatidiri. Seperti pertalian di atas, ketika ketipung dan biola sudah seirama memainkan lagu asmara. Kebudayaan dalam bentuk lagu Pop Jawa harus kita dukung eksistensinya. Bukan untuk memperkaya artisnya. Hal ini merupakan sebuah “perlawanan” dan eksistensi diri dari kebudayaan lain dalam bentuk lagu yang mulai merebut hati generasi muda kita.

Putar lagunya, maknai liriknya, mari joget bersamaaa. . .

1 komentar untuk “Lagu Pop Jawa Membawa Budaya Adiluhung ke Atas Panggung”

  1. Pingback: Mudik : Persiapan Mental dan Finansial - Temenan BIL Fest

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top