Mengapa Ajaran Agama Tidak Berdampak pada Perilaku?

Masyarakat kita saat ini banyak yang memiliki pandangan bahwa ajaran agama yang dipercaya haruslah berdampak pada perilaku penganutnya. Artinya jika kita memeluk agama islam dan percaya pada ajarannya maka perilaku yang kita lakukan haruslah konsisten dengan apa yang diajarkan oleh nilai-nilai islam. Kenyataannya akhir-akhir ini kita banyak disuguhkan perilaku-perilaku orang beragama yang jauh sekali dengan nilai-nilai islam seperti banyaknya kasus kriminalitas, pelecehan, pemerkosaan, korupsi, miras, sex bebas dan sebagainya. Hal ini tentu saja membuat kita miris dan menjadi celah bagi orang di luar islam untuk menyudutkan ajaran islam dan pemeluknya.

Kondisi ini patut untuk menjadi fokus karena banyak juga menimpa generasi muda yang dari kecil terbiasa dengan nilai-nilai islam, tetapi kemudian perilakunya meninggalkan ajaran-ajaran islam. Jika nilai- nilai agama banyak ditinggalkan yang terjadi banyak kerusakan sosial dan mengancam kehidupan kita baik di dunia maupun di akhirat. Penulis tertarik untuk menganalisis fenomena ini dari sudut pandang keilmuan penulis.  

Jika ditelisik, banyak generasi muda yang secara nilai-nilai agama sudah ditanamkan dari kecil, sudah mengetahui mana perilaku yang baik dan mana yang buruk, mana yang dosa dan mana yang pahala, mana yang bisa mengantarkan kita ke surga dan mana yang ke neraka. Harusnya secara perilaku, teman-teman generasi muda sudah tidak mau lagi melakukan hal-hal buruk dan seharusnya banyak melakukan hal yang bernilai kebaikan. Menurut penulis ada beberapa hal yang menyebabkan generasi muda perilakunya tidak lagi sesuai dengan nilai-nilai agama islam, yaitu:

Pertama, banyak yang hanya sekedar menjalankan kewajiban agama, tanpa tahu alasan mengapa hal itu diperintahkan atau dilarang oleh Allah. Ibarat seorang anak yang mengetahui alasan mengapa orang tuanya menyuruhnya sekolah yaitu untuk kesuksesan di masa depan  dan kebahagiaan hidupnya. Jika anak tersebut tidak memahami tujuan dan maksud orang tuanya menyuruh dia sekolah maka dia akan malas untuk sekolah, tidak mengerjakan tugas, di sekolah hanya tidur-tiduran ketika jam kosong dan mudah terpengaruh oleh temannya yang buruk.

Perintah dan larangan yang diberikan oleh Allah pasti ada maksud dan tujuannya. Tanpa memahami itu, maka kita tidak akan konsisten untuk menjalankannya dan tidak akan mencapai hasil seperti yang diinginkan oleh Allah. Misalnya, perintah untuk puasa. Sebenarnya ini adalah sistem latihan yang dibuat oleh Allah agar manusia memiliki kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsu (seperti makan, minum, ghibah, seksual, malas dan sebagaianya). Tujuan yang diharapkan oleh Allah adalah di akhir ramadan manusia memiliki keterampilan untuk mengendalikan hawa nafsu. Karena manusia yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsu akan hancur hidupnya baik di dunia maupun di akhirat dan menyebabkan dampak negatif bagi sekitarnya.

Jika generasi muda tidak memahami hal ini maka yang terjadi hanya mendapatkan lapar dan haus saja atau yang dipikirkan hanya barang baru ketika lebaran. Rasa ingin tahu generasi muda sebenarnya tinggi, bahkan tak jarang banyak pertanyaan yang diajukan seputar nilai-nilai islam yang ingin diketahui. Kenyataannya banyak yang tidak puas atau tidak menemukan jawabannya karena pola dakwah selama ini yang cenderung doktriner dan tidak memperbolehkan banyak bertanya. Padahal Allah sendiri justru menyuruh hamba-Nya tidak mengikuti sesuatu yang tidak ada pendasarannya (QS. 17: 36).

Hal ini menyebabkan generasi muda semakin malas untuk mendalami nilai-nilai islam, apalagi banyak nilai-nilai di luar islam yang dirasa lebih logis untuk diterima seperti atheisme, agnostik, materialisme, liberalisme dsb. Yang terjadi adalah perilaku yang ditampilkan oleh generasi muda jauh dengan nilai-nilai islam walaupun secara praktek ritual masih menjalankan nilai-nilai islam seperti salat. Bahkan ada yang terang-terangan mengaku dirinya atheis.

Kedua, pemahaman islam yang parsial/sebagian. Nilai- nilai islam banyak dipahami hanya membahas hal-hal yang berbau ritual seperti salat, zakat, puasa, dan haji, Di luar hal itu seperti IPTEK, filsafat, ekonomi, hukum, sosial, budaya, pendidikan, dan etika dsb, bukanlah islam. Kondisi ini banyak mengakibatkan generasi muda dalam hal ibadah kembali pada nilai-nilai islam, tetapi dalam kehidupan sosial dan kemasyarakatan tidak mendasarkan pada nilai-nilai islam tapi pada nilai-nilai hedonisme, liberalisme, ataupun materialisme.

Padahal kenyataannya tidak demikian. Nilai-nilai islam tidak hanya menyangkut aspek ritual tapi semua sendi kehidupan manusia. Allah sendiri menyampaikan (QS Al Baqarah: 185) bahwa Al Quran berisi petunjuk bagi kehidupan manusia. Bila kita pahami, bahwa kehidupan manusia tidak hanya unsur pribadi, tapi juga unsur sosial. Sehingga petunjuk yang diberikan oleh Allah tidak hanya hal yang bersifat pribadi tapi juga hal yang berhubungan dengan sosial/kemasyarakatan seperti hukum, pendidikan, IPTEK, dan kesehatan dsb. Di dalam Al Quran, akhirnya kita bisa menemukan tidak hanya ayat ritual tetapi ayat- ayat tentang IPTEK, (QS. Al Hadid : 25, QS. Al Mu’minun : 13).

Ketiga, tidak menyadari adanya tipu daya setan. Setan sendiri berasal dari 2 golongan yaitu manusia dan jin dari golongan iblis yang tugasnya untuk menjerumuskan manusia pada kesesatan. Jika tidak menyadari hal ini dan kita lebih suka memperturutkan hawa nafsu maka akan mudah meninggalkan ajaran agama. Lingkungan sosial dan media sosial yang selama ini diakses generasi muda juga menambah efek negatif yang masuk pada pemikiran dan perilaku generasi muda. 

Setidaknya tiga hal di atas penyebab banyak generasi muda melakukan perilaku negatif yang tidak sesuai dengan nilai- nilai agama. Lantas bagaimana solusinya agar ajaran agama bisa konsisten dijalankan dalam kehidupan, yaitu :  

Pertama, memahami ajaran islam secara rasional dan ilmiah. Ajaran islam yang rasional dan ilmiah berarti dalam memahami ajaran agama harus didasarkan pada bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan, menggunakan landasan ilmu pengetahuan yang sudah teruji kebenarannya, tidak ada ajaran yang doktriner. Membuka ruang untuk diskusi dan bertanya. Ayat yang pertama kali turun adalah Al Alaq sebagai petunjuk bagi manusia agar mencintai ilmu pengetahuan, terbiasa untuk berpikir/memahami keadaan.

Nabi Muhammad SAW dalam dakwahnya juga senantisa dengan jalan diskusi/bil hikmah, tidak ada paksaan dan doktriner. Nabi Ibrahim bahkan untuk menyadarkan umatnya menggunakan teknik “brainstorming” serta pembuktian rasional dan empiris. Dari sini bisa kita lihat bahwa khas dari ajaran islam adalah penuh pertanggungjawaban dan dasar ilmu pengetahuan. Metode yang seperti ini akan menjadikan generasi muda bisa semangat dalam memahami ajaran agama, bisa konsisten menjalankan ajaran agama karena memahami maksud dan tujuannya dari perintah atau larangan Allah. Islam juga bisa dipahami tidak parsial tetapi juga menyeluruh untuk kehidupan manusia. 

Kedua, menyadari tipu daya setan. Setan dari golongan iblis dan manusia tidak akan berhenti menggoda manusia untuk melanggar perintah Allah sehingga dengan menyadari tipu daya ini maka akan membuat kita waspada. Biasanya tipu daya ini akan muncul pada sesuatu yang kita takuti dan sesuatu yang sangat kita senangi. Lingkungan yang positif juga akan memberikan pengaruh pada perilaku sehingga perlu memilih lingkungan yang positif yaitu lingkungan yang islami. 

Semoga tulisan ini bisa menambah referensi ilmu dan juga wawasan generasi muda agar bisa konsisten untuk menjalankan nilai-nilai islam untuk kehidupan yang baik di dunia dan akhirat. Sehingga islam bisa benar-benar tampil sebagai ajaran yang rahmatan lil alamin

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top