Sayang, Dunia Memang Kacau. Untung Saja Silampukau Merilis Stambul Rindu

“Kalau begini, ya… bisa apa kita berdua? Tapi lebih dari itu, terus terang, aku hanya punya kamu. Percayalah,” kata Sekar, perempuan yang hari itu terjebak menemaniku menjalani dunia, ketika bulan tembaga perlahan tenggelam di matanya yang masih menyimpan sisa-sisa remaja.

Ucapan itu terus terngiang. Bersamanya, datang pula perasaan nderedek yang sukar dijelaskan: lesu, gamang, sekaligus hangat. Anehnya, ingatanku segera melompat pada Stambul Rindu yang mengudara dari sebuah warung kopi di kawasan Ciputat pada Jumat dini hari itu. Menjelang akhir lagu, suara Natasya Elvira dan Eki Tresnowening melantunkan kalimat yang terasa begitu akrab:

“Terus terang yang aku punya hanya kamu.”

Bagi saya, lagu itu lebih dari sekadar kisah asmara. Ia terdengar seperti doa yang lahir dari rasa tak berdaya; sebuah upaya mempertahankan harapan ketika dunia terasa semakin sulit dipahami. Bukan kebetulan jika Orkes Silampukau merilis Stambul Rindu di tengah gejolak geopolitik Asia Barat, ketidakjelasan arah politik di dalam negeri, dan berbagai kecemasan yang membuat banyak orang kehilangan pijakan.

Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya menoleh sejenak ke perjalanan Orkes Silampukau. Selama bertahun-tahun, Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening menjadikan Surabaya sebagai ruang utama dalam semesta musikal mereka. Kota itu bukan hanya latar, melainkan tempat dosa, cinta, sejarah, dan kehidupan kelas pekerja bertemu dalam lirik-lirik yang khas.

Namun, melalui proyek Stambul Arkipelagia, keduanya memilih meninggalkan Surabaya sebagai pusat cerita. Pandangan mereka kini bergerak menuju gugusan pengalaman yang lebih luas: kepulauan, sejarah, mitologi, manusia, hingga kegelisahan yang tak lagi mengenal batas geografis.

Perubahan itu juga tampak dari penyebutan baru mereka sebagai Orkes Silampukau. Tambahan satu kata yang terdengar sederhana itu ternyata menandai perubahan yang cukup mendasar. Formasi musik menjadi lebih kaya, warna bunyi semakin beragam, sementara lanskap lirik ikut meluas. Jika album-album sebelumnya begitu lekat dengan gang-gang Surabaya dan denyut kehidupan kota, karya-karya terbaru justru mengajak pendengarnya berlayar menuju ruang yang lebih cair, reflektif, dan terbuka.

Hal itu tampak dalam lagu-lagu seperti Sejoli maupun In Memoriam…(Halimun Rahasia). Silampukau memang masih setia pada manusia-manusia kecil yang bergulat dengan kehilangan, kesendirian, ironi, dan sejarah. Yang berubah adalah sudut pandangnya. Bila dahulu Surabaya menjadi panggung tempat manusia berhadapan dengan nasibnya, kini panggung itu menjelma dunia itu sendiri. Kegelisahan yang sebelumnya bersifat lokal perlahan berkembang menjadi kegelisahan yang lebih universal. Dalam lanskap semacam itulah, saya kira, Stambul Rindu lahir.

Karena itu, tidak mengherankan bila lagu ini hadir ketika dunia dipenuhi kabar peperangan, ancaman krisis kemanusiaan, ketidakpastian ekonomi, dan kecemasan kolektif mengenai masa depan. Menariknya, Orkes Silampukau tidak merespons keadaan tersebut melalui lagu protes, slogan politik, ataupun seruan perlawanan yang lantang. Mereka memilih sesuatu yang jauh lebih sunyi: sebuah kisah fiktif yang justru terasa sangat dekat dengan kenyataan.

Di titik inilah Stambul Rindu mulai bekerja dengan caranya sendiri.

Diketahui, dalam tradisi musik, stambul selalu menyimpan paradoks. Di permukaan ia terdengar ringan, mengalir, bahkan akrab di telinga. Namun semakin lama didengarkan, semakin terasa kesedihan yang diam-diam mengendap di balik melodinya. Stambul tidak pernah berteriak; ia memilih berbisik. Mungkin karena itulah Silampukau menjadikan bentuk musikal ini sebagai medium untuk menyampaikan kegelisahannya. Ketika dunia dipenuhi kebisingan, mereka justru menawarkan kesunyian.

Pada pendengaran pertama, lagu ini mudah dipahami sebagai balada kerinduan. Ada dua orang yang saling mencintai, dipisahkan jarak dan kecemasan, lalu lahirlah pengakuan yang terdengar sederhana: “Terus terang yang aku punya hanya kamu.” Pembacaan seperti itu tentu tidak keliru. Hanya saja, ia terasa berhenti terlalu cepat. Sebab, yang ditawarkan Silampukau bukan semata kisah percintaan, melainkan cara memandang cinta ketika dunia tak lagi menyediakan kepastian.

Di sinilah—meminjam pandangan Erich Fromm dalam The Art of Loving—persoalan terbesar manusia modern bukanlah kesulitan menemukan pasangan, melainkan ketidakmampuan mengatasi keterpisahan (separateness). Manusia hidup sebagai individu yang terpisah dari sesamanya, dari alam, bahkan dari dirinya sendiri. Keterpisahan itulah yang melahirkan kecemasan. Karena itu, cinta bukan sekadar gejolak emosi yang datang begitu saja, melainkan tindakan aktif untuk melampaui keterasingan tersebut. Cinta bukan sesuatu yang menimpa manusia, tetapi sesuatu yang terus-menerus dikerjakan.

Cara pandang itu membuat lirik pembuka Stambul Rindu memperoleh kedalaman makna.

S’moga ini cerita
Ini perkara
Ini derita
Segera nampak ujungnya
Nampak jawabnya.

Sepintas, bait ini terdengar seperti doa yang sederhana. Namun, jika diperhatikan lebih saksama, pusat maknanya bukan terletak pada kata cerita, perkara, atau derita, melainkan pada kata semoga.

Kata itulah yang terus berulang sepanjang lagu. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mengucapkan “semoga” justru ketika ia menyadari keterbatasannya. Tidak ada orang yang berkata “semoga” atas sesuatu yang sepenuhnya berada dalam kendalinya. Kata itu lahir ketika masa depan telah keluar dari jangkauan kehendak manusia.

Melalui pilihan diksi tersebut, Silampukau menempatkan cinta di ruang yang berbeda dari kebanyakan lagu pop. Cinta tidak hadir setelah segala persoalan selesai. Sebaliknya, ia justru muncul ketika manusia berada pada titik paling rapuh, ketika yang tersisa hanyalah harapan yang belum tentu menjadi kenyataan.

Menariknya lagi, urutan kata yang dipilih tampaknya juga bukan kebetulan. Cerita adalah pengalaman yang mula-mula netral. Ketika pengalaman itu berkembang, ia berubah menjadi perkara yang menuntut penyelesaian. Dari perkara lahirlah derita, yakni pengalaman emosional yang harus dipikul manusia. Pada bagian berikutnya, Silampukau mengganti kata derita menjadi asmara, lalu sengsara. Pergeseran ini memperlihatkan bahwa asmara bukan penyebab penderitaan. Justru sebaliknya, asmara sedang diuji oleh penderitaan yang telah lebih dahulu hadir.

Di sinilah letak pembalikan paling menarik dalam Stambul Rindu. Banyak lagu cinta menjadikan hubungan antarmanusia sebagai sumber konflik. Silampukau memilih arah sebaliknya. Konflik berasal dari dunia yang semakin semrawut, sedangkan cinta adalah upaya untuk tetap bertahan di dalamnya. Asmara tidak lagi menjadi ruang pelarian dari kenyataan, melainkan ruang tempat kenyataan yang paling pahit diuji.

Gagasan itu kemudian diperkuat melalui simbol-simbol alam yang bekerja bukan sekadar sebagai penghias suasana, melainkan sebagai cermin keadaan batin tokohnya. 

Remang bulan remang menyinari
Daratan temaram sendu.

Kata remang, temaram, dan sendu membentuk wilayah yang berada di antara terang dan gelap, antara harapan dan keputusasaan, antara kepastian dan kehilangan arah. Bulan memang masih memancarkan cahaya, tetapi sinarnya tidak pernah utuh. Ia hanya cukup menerangi beberapa langkah di depan. Mungkin memang demikianlah cara cinta bekerja: bukan menghapus seluruh kegelapan, melainkan memberi keberanian untuk terus berjalan di tengah remang-remang.

Dari titik itu, Stambul Rindu perlahan menggeser pembicaraan dari dunia menuju manusia. Pergeseran tersebut mencapai puncaknya ketika lagu menutup bagian awalnya dengan kalimat yang sederhana, setidaknya mudah diingat, tetapi menghunjam:

“Terus terang yang aku punya hanya rindu.”

Daftar bacaan:

  1. Silampukau, & Elvira, N. (2026). Stambul Rindu. Spotify.
  2. Fromm, E. (2014). “The art of loving: Memaknai Hakikat Cinta. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Cetakan ke-4.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top