
“Ngapain sih ribet amat? Nikmati aja.”
Ketika saya mendengar kalimat itu langsung dari teman, saya bertanya mengapa novel yang waktu itu ramai dibicarakan terasa kurang menggigit buat saya. Tak setakat sekali dua kali. Kalimat itu sering kali bermunculan tiap kali ada orang yang mencoba mengajukan pertanyaan tentang suatu karya, entah itu mempertanyakan juri lomba sastra, mengkritik novel yang populer, atau mencoba membedah mengapa suatu karya dapat dianggap baik. Responnya pasti selalu sama, semacam sarkasme atau apa pun itu, “jangan serius-serius, kan cuman novel.”
Sekiranya masuk akal. Sastra kan memang bisa dinikmati, seperti musik ataupun film, saya sendiri pun kadang menonton film cuma buat senang-senang tanpa mau mikir macam-macam. Tapi ada titik di mana logika itu malah jadi suatu alasan untuk saya berhenti berpikir sama sekali, seolah-olah bertanya, menafsirkan, ataupun mengkritik adalah tindakan yang merusak kenikmatan itu sendiri.
Padahal keduanya tidak perlu bertentangan iya kan?
Kita sering lupa bahwa membaca bukan sekadar mengonsumsi. Saya ingat waktu SMP membaca satu puisi yang menurut guru saya “biasa saja”, tapi entah mengapa baris-barisnya menempel terus di kepala selama berminggu-minggu. Pertanyaannya bukan hanya soal suka atau tidak suka, tapi kenapa satu puisi bisa menyentuh satu orang dan dianggap biasa oleh orang lain, termasuk kenapa satu karya akhirnya memperoleh penghargaan sementara karya lain tidak. Pertanyaan semacam itu, menurut saya, tak mengurangi kenikmatan membaca. Justru seringkali memperdalamnya.
Kritikus sastra Terry Eagleton pernah mengingatkan bahwa membaca bisa berubah menjadi bentuk narsisme kalau kita hanya tertarik pada karya yang memantulkan minat dan selera kita sendiri. Saya merasa tertampar waktu pertama membaca gagasan ini, karena jujur saja saya juga sering begitu: lebih suka buku yang sepaham dengan saya, dan malas dengan yang bikin saya harus mempertanyakan cara pandang sendiri. Eagleton menyebutnya mencari cermin, bukan jendela, maksudnya, kita cuma ingin menemukan diri sendiri dalam bacaan, bukan bertemu kemungkinan baru yang berbeda dari diri kita.
Mungkin karena itu saya selalu curiga pada orang yang terlalu cepat bilang “bagus” atau “jelek”. Biasanya mereka sudah selesai berpikir sebelum benar-benar membaca. Masalahnya, masyarakat kita kerap kali memisahkan antara kenikmatan dan pengetahuan. Kita didorong menjadi penikmat budaya yang baik, tetapi didukung untuk memahami bagaimana nilai-nilai itu terbentuk.
Saya sendiri sering melihat pola ini di lingkaran teman-teman penulis saya sendiri. Begitu sebuah keputusan muncul dari figur atau pun lembaga yang dianggap berotoritas, kerap kali mereka langsung memilih salah satu dari dua siap, “menerima begitu saja karena dianggap pasti benar”, atau pun “menolak mentah-mentah tanpa mau repot-repot mempertimbangkan alasan di baliknya.”
Padahal ketika kita berhadapan dengan dunia sastra, terutama dalam penghargaan atau pun kompetisi, proses pengetahuan juga tak kalah pentingnya. Sebuah keputusan juri tak hanya sekadar soal siapa yang “menang” dan siapa yang “kalah”. Keputusan tersebut merupakan buah pembacaan terhadap karya-karya yang telah masuk.
Karena hal itu —termasuk saya sendiri sebagai pembaca dan pernah jadi peserta—berhak mengetahui akar dari pembacaan tersebut. Bukan untuk memaksa semua kalangan setuju, melainkan agar keputusan tersebut dapat dipahami, dipelajari, atau pun diperdebatkan.
Saya masih ingat ketika berdebat cukup alot dengan teman saya tentang suatu cerpen yang menang dalam perlombaan, dia bilang ceritanya dalam, padahal bagi saya biasa saja. Dari situ saya semakin paham bahwasanya sastra tak bekerja seperti matematika yang hanya memiliki satu jawaban final. Satu karya dapat menghasilkan banyak tafsir. Satu puisi kerap kali dibaca dari berbagai sudut pandang. Bahkan dua pembaca yang sama-sama cermat pun bisa sampai pada kesimpulan yang berbeda. Tapi anggapan bahwasanya keputusan juri bersifat mutlak.
Justru karena tidak ada pembacaan final itulah, menurut saya, setiap penilaian perlu adanya pertanggungjawaban. Pertanggungjawaban yang layak bukan berarti juri harus meminta maaf kepada semua orang yang kerap tidak setuju. Yang dimaksud ialah keterbukaan juri mengenai perangkat-perangkat baca apa saja yang digunakan, seperti, aspek apa yang dianggap penting, pertimbangan apa yang dipakai, dan alasan mengapa suatu karya akhirnya terpilih.
Dengan demikian, keputusan juri tidak tampil selayaknya titah dewa ataupun wahyu dari Tuhan, melainkan buah intelektual yang bisa diterima dan dipahami oleh publik. Bagi saya, pertanggungjawaban semacam ini justru lebih bermanfaat karena membuka ruang belajar bagi masyarakat tentang bagaimana suatu karya dibaca, bagaimana suatu argumen dibangun, dan bagaimana suatu perbedaan tafsir dapat hidup berdampingan tanpa harus saling meniadakan.
Karena itu, untuk menjawab pertanyaan pertama dari esai ini, yaitu “ngapain sih ribet amat?” justru tak memahami unsur menikmati dan memahami suatu karya, padahal kedua unsur tersebut bukanlah suatu hal yang saling bertentangan. Keduanya saling berkaitan untuk membentuk suatu karya sastra.
Jika menikmati adalah cara membangun hubungan dengan suatu karya, maka memahami adalah cara untuk memperdalam hubungan tersebut. Saya pribadi menjadi lebih menghargai karya-karya yang dulu saya anggap “biasa saja” justru setelah saya berani untuk mempertanyakannya. Dan saya percaya bahwasanya kebudayaan yang sehat tak hanya tumbuh dari orang-orang yang hanya ingin menikmati, melainkan juga dari orang-orang yang bersedia berpikir tentang apa yang mereka nikmati.
Ibrahiem Khumeini lahir di Tanah Grogot tahun 2009. Ia berasal dari Jln Anden Oko, Kecamatan Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur. Bisa disapa melalui Instagram: @ibrahiemkhumeini




