
Membaca Tidak Harus Berhenti pada Menikmati
Ketika saya mendengar kalimat itu langsung dari teman, saya bertanya mengapa novel yang waktu itu ramai dibicarakan terasa kurang menggigit buat saya. Tak setakat sekali dua kali. Kalimat itu sering kali bermunculan tiap kali ada orang yang mencoba mengajukan pertanyaan tentang suatu karya, entah itu mempertanyakan juri lomba sastra, mengkritik novel yang populer, atau mencoba membedah mengapa suatu karya dapat dianggap baik. Responnya pasti selalu sama, semacam sarkasme atau apa pun itu, “jangan serius-serius, kan cuman novel.”
