
Setiap generasi mudah dihadapkan pada pertanyaaan mendasar: di mana saya akan mengabdikan diri? pertanyaan ini bukan sekadar pilihan karier, melainkan cerminan nilai-nilai yang dipegang dan visi yang ingin diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat. Di antara sekian banyak profesi mulia, dua bidang secara konsisten muncul sebagai pilihan yang paling sering diperdebatkan, yakni dunia pendidikan dan dunia kesehatan. Guru dan dokter, pengajar dan penyembuh, keduanya merupakan pilar peradaban yang tidak dapat dipisahkan dari keberlangsungan kehidupan manusia.
Kesadaran akan pentingnya menentukan arah pengabdian itu semakin saya rasakan ketika masa kelulusan tiba, bagi sebagian orang, masa transisi dari bangku sekolah menengah menuju perguruan tinggi adalah momen penuh selebrasi. Namun bagi saya, masa-masa itu adalah sebuah medan pertempuran batin yang sunyi. Saya merasakan, terjebak di antara dua pengabdian: keinginan untuk menyembuhkan raga sebagai tenaga kesehatan, atau panggilan untuk mencerdaskan jiwa sebagai seorang pendidik. Dilema ini bukan sekedar memilih program studi, melainkan tentang menentukan ke mana arah hidup untuk kedepannya .
Ketika pendaftaran jalur seleksi perguruan tinggi dimulai, saya merasakan kebimbangan yang semakin besar. Di satu sisi, dunia kesehatan menawarkan daya tarik yang kuat, sebuah pengabdian di garis depan kemanusiaan, merawat luka, dan mengembalikan senyum pasien yang sakit. Di sisi lain, dunia pendidikan menawarkan kesempatan untuk membentuk generasi masa depan, Sebuah pemikiran yang ditanamkan hari ini dapat tumbuh menjadi perubahan besar bagi bangsa di masa mendatang.
Ketertarikan saya pada dunia kesehatan bukan tanpa alasan. Saya memandang profesi dokter sebagai pekerjaan yang sangat mulia karena berhadapan langsung dengan penderitaan manusia. Kemampuan seorang dokter untuk mengurangi rasa sakit dan memberikan harapan kepada pasien selalu membuat saya kagum. Bahkan, sebelum menentukan pilihan studi, saya sempat membayangkan diri mengenakan jas putih dan mengabdikan hidup untuk merawat mereka yang membutuhkan.
Saya sempat mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) dengan harapan dapat diterima di program studi kedokteran dan mengabdikan diri di dunia kesehatan. Namun, hasil yang saya harapkan belum berpihak kepada saya. Kegagalan tersebut sempat menimbulkan kekecewaan, tetapi saya tidak ingin berhenti melangkah. Saya kemudian mencoba mengikuti jalur SPAN-PTKIN dan memilih program studi Tadris Matematika. Tak disangka, melalui jalur inilah saya akhirnya dinyatakan lolos dan memulai perjalanan baru di dunia pendidikan.
Diterima di program studi Tadris Matematika melalui jalur SPAN-PTKIN menjadi titik awal perjalanan saya di dunia pendidikan. Langkah pertama memasuki gerbang universitas sebagai mahasiswa semester awal dipenuhi oleh perasaan yang bercampur aduk. Ada rasa bangga, namun ada sisa-sisa keraguan tentang jalan “menyembuhkan” yang saya tinggalkan terkadang masih membayangi. Di ruang-ruang kelas kuliah, saya mulai dihadapkan pada dunia baru. Di dalam kelas, kami tidak hanya berfokus pada angka, pembuktian teorema, atau logika struktur matematika yang kaku. Lebih dari itu, kami diajarkan tentang bagaimana menyederhanakan konsep yang rumit agar bisa dipahami oleh pikiran seorang anak.
Titik balik yang menghapus seluruh keraguan saya terjadi seiring berjalannya waktu perkuliahan. Saya mulai menyadari bahwa mengajar dan menyembuhkan bukanlah dua hal yang sepenuhnya berbeda. Sebab, masalah yang dihadapi suatu bangsa tidak hanya berupa penyakit fisik, tetapi juga ketidaktahuan, dan keputusasaan. Di sinilah keputusan bulat itu lahir: saya memilih untuk mengabdi sebagai seorang guru.
Menjadi guru adalah cara saya untuk ‘menyembuhkan’. Jika seorang dokter berjuang memulihkan kesehatan fisik pasien, maka seorang guru berjuang memulihkan masa depan melalui ilmu pengetahuan. Dengan mendidik generasi muda, saya percaya bahwa saya turut berkontribusi membangun masyarakat yang lebih cerdas, mandiri, dan berdaya.
Matematika, yang kerap menjadi mata pelajaran yang ditakuti di sekolah, kini saya pandang sebagai alat terapi. Melalui matematika, saya tidak hanya ingin mengajar rumus, tetapi ingin menyembuhkan trauma belajar anak-anak, melatih ketajaman logika mereka, dan membangun rasa percaya diri bahwa mereka mampu memecahkan masalah yang rumit—baik di atas kertas maupun dalam kehidupan nyata.
Kini, dalam perjalanan perkuliahan yang saya jalani, Setiap materi tentang pembelajaran dan analisis matematika yang saya pelajari tidak lagi terasa sebagai beban tugas semata. Semua itu adalah bekal, layaknya alat bedah yang sedang saya persiapkan untuk membantu memecahkan berbagai persoalan pendidikan yang akan saya hadapi di masa depan. Keputusan untuk mengabdi di dunia pendidikan telah memberi saya ketenangan. Saya paham bahwa hasil dari jerih payah seorang pengajar tidak akan terlihat dalam hitungan jam seperti redanya demam setelah minum obat. Mengajar adalah seni menanam benih; butuh waktu bertahun-tahun untuk melihatnya tumbuh menjadi pohon yang rindang.
Pada akhirnya, dilema menentukan arah pengabdian itu telah usai. Menjadi pendidik adalah pilihan sadar yang saya ambil dengan penuh tanggung jawab. Dunia mungkin membutuhkan banyak penyembuh di rumah sakit, namun dunia juga sangat haus akan kehadiran para guru yang mengajar dengan hati di ruang-ruang kelas. Ke sanalah saya akan melangkah, mendedikasikan seluruh ilmu dan pemikiran untuk merawat serta menumbuhkan masa depan generasi penerus bangsa.
Silva Syafinatun Naja lahir di Banyumas tahun 2006. Saat ini menempuh pendidikan tinggi di Program Studi Tadris Matematika UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto). Bisa disapa melalui Instagram: @itz.nja_




