
Bak melawan ombak khas Pantai Selatan, Ly Coffee mendobrak skena tempat nongkrong anak muda Cilacap. Selama tiga hari, kafe ini merubah vibesnya bukan hanya menjadi tempat bercengkerama namun juga menjadi tempat aman. Tempat aman untuk berdialektika dan berliterasi. Memberikan akses kepada Mula Space dan BIL Fest untuk menyulap ruang komersial mereka untuk menggelar Pekan Literasi Cilacap. Sebuah ikhtiar mendekatkan akses literasi ke khalayak umum, bukan hanya melalui buku. Di hari kedua, literasi dilakukan dengan membaca manusia melalui sesi Human Library karena cerita tak selamanya lahir di lembaran kertas.
Setelah semalam membaca manusia yang penuh haru. Pekan Literasi Cilacap memilih menutupnya dengan membara. Di sudut Ly Coffee, keriuhan akar rumput mengambil alih ruang komersial, mengubah Pekan Literasi Cilacap menjadi arena berdialektika. Suasana Cilacap, Minggu, 1 November 2026 cerah bercahaya sesuai dengan julukan kota ini. Alam ikut merestui hari penutupan ini. Keberanian anak muda terpancar dari hangatnya forum diskusi bedah buku Laut Bercerita. Mengupas luka sejarah 1998 dari karya Leila S. Chudori di pesisir Cilacap memberikan resonansi yang berbeda. Belajar dari fiksi sejarah dan belajar membaca sejarah dari kacamata rakyat yang tertindas. Di titik ini, membaca bukan lagi sekadar hobi yang mematikan waktu. Membaca menjadi cara paling purba untuk menjaga kewarasan, melawan lupa dan belajar dari sejarah.
Malamnya menjadi momen pertemuan berbagai komunitas di Cilacap. Saling berbagi cerita mengenai keresahan akan literasi, dan realita pahitnya. Kehadiran tim Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest) menjadi menjadi pemantik diskusi terkait komunitas literasi. Diwakili Rahmi Wijaya dan Nur Fadhilah Rizqi (Kiki), BIL Fest tidak hanya hadir sebagai seremonial belaka. Rahmi Wijaya, sang inisiator BIL Fest membedah dapur pergerakannya dari titik nadir yang paling sunyi.
Membangun ekosistem literasi yang cukup besar menemukan banyak tantangan. Dua bulan menjelang pelaksanaan, festival ini (BIL Fest) nyaris terkubur menjadi wacana mati. Namun, dari kelelahan tangisan, lahir sebuah afirmasi yang terus terngiang saat ia terbangun “BIL Fest adalah doa.” BIL Fest tidak lagi difokuskan sebagai ajang adu gengsi untuk membuktikan bahwa literasi Banyumas sudah berskala internasional, melainkan sebuah manifestasi kolektif. Rahmi dengan tegas menularkan pesan bahwa festival ini adalah respons sah bahwa masyarakat di daerah adalah bagian dari warga dunia. Ini menjadi cambukan manis agar pegiat literasi daerah menolak untuk terus merasa rendah diri. Sebab, sekecil apapun ruang yang diciptakan, ia tetap akan mengambil peran dan bergema di panggung yang lebih luas.
Manifestasi yang dilangitkan itu dibumikan melalui inkubasi penulis. Kiki menyampaikan bahwa inkubasi penulis BIL Fest mencari “nyawa” dalam tulisan. Dalam dapur inkubasi inilah nyali dan ego penulis diuji. Kiki juga memaparkan betapa berdarah-darahnya proses pematangan karya tersebut. Ide-ide mentah yang tengah diagungkan oleh penulisnya itu di-belek-belek tanpa ampun lewat kritikan pedas dari para akademisi FIB Unsoed hingga praktisi literasi. Inkubasi ini menjadi menarik karena menjunjung campaign kesetaraan dalam berliterasi yang selalu dibawa BIL Fest. Menghapus juara bertingkat di malam penghargaan dan menciptakan ruang egaliter yang memerdekakan karya tanpa harus melabeli siapa yang paling superior.
Tak berhenti pada naskah dan wacana, ikhtiar merawat ingatan kolektif itu, malam terakhir Pekan Literasi Cilacap itu juga diperkenalkan lewat perkenalan corak batik BIL Fest serta buku yang bersiap rilis. Melalui pemaparan yang dibedah oleh Neo, elemen visual dan tekstual ini bukan sekadar atribut kultural atau bacaan semata, melainkan dirancang sebagai sumber pemasukan ekonomi mandiri bagi ekosistem pergerakan. Langkah taktis ini membuktikan bahwa kerja-kerja literasi di daerah juga cakap memikirkan independensi ekonomi agar komunitas tetap berjalan di tengah paceklik sponsor. Tidak sekadar hidup segan mati tak mau.
Pertemuan komunitas ini menjadi ruangan untuk mencurahkan keresahan para pegiat literasi. Lili, perwakilan dari Pena CBC (Cilacap Buku Kolektif), menelanjangi dengan gamblang bahwa buku telah menjadi barang mewah terhimpit pajak. Mereka pernah nekat menggelar lapak baca gratis dengan modal koleksi pribadi di riuhnya Car Free Day Cilacap. Sayangnya, gerakan kultural ini sering kali berujung sunyi dan mangkrak. Jika Pena CBC berjuang mendobrak dinding akses, Klub Literasi Cilacap hadir untuk menyediakan ruang kedap bagi mereka yang bising di kepalanya. Bagi mereka, kegiatan membaca senyap atau menulis jurnal untuk merilis emosi bukanlah sekadar tren. Perlahan literasi juga memperluas ruang inklusifnya hingga memfasilitasi kawan tuli lewat praktik bahasa isyarat.
Perhelatan malam itu bukan hanya dihadiri pegiat literasi. Namun hadir juga perwakilan komunitas kaum marginal. Kehadiran komunitas seperti Puan Cilacap dan Keluarga Besar Buruh Migran (Kabar Bumi) Cilacap menjadi warna sendiri. Bagi mereka menceritakan pengalaman adalah bentuk perlawanan mendesak.
Nani, perwakilan dari Kabar Bumi, mengungkapkan kekagumannya terhadap format acara yang terbuka dan cair ini. Bagi Nani yang baru pertama kali mengikuti ruang diskursus literasi semacam itu, acara ini mendobrak batasan kaku soal literasi. Di acara ini literasi tidak hanya berfokus di dalam ruangan atau milik kalangan mahasiswa saja. Lewat ruang publik yang inklusif ini, ia menyadari bahwa literasi memiliki makna yang sangat luas “Bagaimana buku itu bukan cuma bacaan saja, tapi dia menuangkan tentang bagaimana kita membaca, terus ikut berpikir, dan juga bagaimana menuangkan cerita-cerita tersebut dalam kehidupan kita.” ungkapnya.
Rinda dari Puan Cilacap turut mengamini pentingnya ruang-ruang aman semacam ini. Dia berharap acara semacam ini lebih sering digelar dan konsisten merawat ruang diskusi untuk menambah pengetahuan. Di tengah kultur yang kerap menyudutkan perempuan, ia menegaskan bahwa “Pengetahuan adalah ruang aman terbaik untuk perempuan.” tuturnya. Di titik inilah literasi membuktikan hakikat kemanusiaannya menjadi katup pemulihan trauma dan alat advokasi. Bagi mereka yang tak pandai berkata-kata secara lisan karena terhimpit ekspektasi sosial, merangkai tulisan kini menjadi senjata paling masuk akal untuk merawat kenangan dan mendobrak ketimpangan.
Fais selaku panitia acara menyatakan bahwa target dari pekan literasi ini bukanlah pengulangan setiap tahun. Namun, budaya literasi yang terbangun. Ia berharap euforia ini tetap dijaga. “Harapan kami, selepas dari Pekan Literasi banyak teman-teman yang melanjutkan kegiatan yang sama di Cilacap,” harapnya.
Pada akhirnya, Pekan Literasi Cilacap di Ly Coffee itu pun akhirnya bukan sekadar tentang merayakan buku, melainkan merayakan ketahanan. Dari hangatnya pertemuan singkat ini, Cilacap telah membuktikan satu hal literasi bukan lagi milik kaum elitis di menara gading. Ia adalah napas yang dirawat bersama.
Regina Sheila, seorang perempuan biasa yang sok tahu soal dunia. Tinggal di Purwokerto. Bisa disapa lewat Instagram : @resheilaa




