Mereka Bercerita Melalui Kanvas

Saya baru teringat. Malam itu 13 Oktober 2026 adalah petang terakhir teman-teman Ikatan Pelukis Banyumas (IPB) pameran Neo Mooi Indie. Setelah menyelesaikan pekerjaan, sore itu saya mengajak Mahin Al Hasan untuk datang ke pameran. Walhasil, kami bergegas ke sana. Sebenarnya, kami (BIL Fest) diundang saat pembukaan. Namun saya secara pribadi ingin datang di lain waktu. Dan malam terakhir itulah, menjadi perjumpaan saya dengan beberapa teman perupa yang saya kenal.

Mas Sinung, Mas Zein, dan Mas Lis bergantian saya sapa. Tak terduga, ternyata Abah Titut Edi Purwanto juga sedang berada di lokasi pameran. Dari 50 seniman yang pajang karya saat pameran itu, 4 nama itulah yang saya kenal secara personal. Kami sering bertemu di pelbagai acara seni dan budaya. 

“Saya menikmatinya dari mana ini mas Lis?”, tanya saya kepada Mas Lis malam itu. Mas Lis sebagai humas sekaligus malam itu sebagai galeri sitter. 

“Bebas sih mas. Tapi biasanya, kita akan mendahulukan dari kanan ke kiri. Jadi bisa dari sini”, seraya Ia mempersilakan saya berjalan masuk ke ruangan Gatra Hetero Space Purwokerto. 

Namun Mas Lis harus menyapa pengunjung lain. Saya berjalan diikuti Mahin. Tepat saat kami berdiri di sebuah karya, saya bilang ke Mahin. “Tanpa saya baca siapa perupanya, saya tahu ini gayanya siapa”, ucap saya ke Mahin. “Siapa mas”, tanya dia sambil menyalakan kamera handphone-nya.

“Ini karya Mas Sinung”, sambil saya menunjuk sebuah bulatan merah di ujung lukisan. Mas Sinung dari luar galeri menghampiri kami. Ia menceritakan tentang karyanya. 

“Bulatan merah itu penanda waktu”, paparnya. Saya termasuk orang yang beberapa kali berbincang panjang dengan Mas Sinung. Sehingga karya lukisnya malam itu mudah untuk saya nikmati. Lukisan dekoratif yang para penikmatnya bisa membangun ceritanya sendiri-sendiri. Tapi jelas, pengkarya tentu punya konsep ceritanya. 

“Karya ini sebenarnya masih bisa saya teruskan. Tapi saya harus selesaikan. Karena setiap sapuan kuas dan pertemuan warna yang saya goreskan, muncul ide baru. Ide itu terus bermunculan, menjadikan karya ini memuat berbagai macam cerita”, ucapnya.

Setelah selesai menjadi illustratornya Majalah Bobo, Ia pulang ke Banyumas. Dan karya-karyanya yang cenderung dekoratif dan ceria, kini banyak ia ciptakan. Pameran kali ini memang karya yang dekoratif. Sehingga para pengunjung bisa menikmatinya dengan mudah. Dan tentu dengan rasa senang.

Setelah melihat karya lain, kami mendekati Abah Titut. Ia barusan bercerita tentang karyanya kepada pengunjung. Dan tibalah giliran kami. 

Sebenarnya, saya sering komunikasi dengan Abah Titut lewat WA. Pertemuan kami terakhir saat pentas monolog Kang Edon di Unsoed beberapa waktu lalu. Ia datang bersama istrinya. Pun malam itu. 

“Sama ibu nggih, Bah?”, tanya saya. Dengan tawa khasnya, seniman dengan rambut panjang terurai dan jenggot kumis panjang itu menjawab dengan tawa khasnya. “Meskipun kami sudah berusia senja, kami selalu berupaya untuk mesra. Bahkan kalau makan, kami ya berdua”, ucapnya sambil mempersilakan kami duduk. Ada beberapa kursi di dalam ruangan galeri. Mungkin karena sudah malam, jadi agak bebas.

Lukisan Cowongannya menjadi titik fokus obrolan kami. Di musim kemarau ini, lukisannya tambah hidup. Ditambah beberapa wilayah di Banyumas sedang dilanda kekeringan. Termasuk desa Pengebatan, tempat Abah Titut tinggal. 

“Selain bantuan air bersih, seharusnya ada solusi jangka panjang dari pemerintah”, ucap saya sambil mengamati lukisan ritual Cowongan dan ada gentong air di dalam tanah. “Seharusnya jalur PDAM melalui Pamsimas di tambah, atau pembuatan sumur bor”, lanjut saya.

Abah Titut langsung meresponnya dengan panjang. Menurutnya musim kemarau panjang ini dan kekeringan yang melanda beberapa wilayah di Banyumas harus menjadi kesadaran kita semua. Sadar bagaimana selama ini hubungan kita dengan bumi, dengan sungai, pohon, dan alam semesta. 

Ia mengajak kepada masyarakat untuk tidak menyalahkan alam. Melainkan kembali evaluasi diri. Bagaimana selama ini manusia memperlakukan alam. “Sekarang kekeringan mengeluh, lalu menyalakan cuaca alam. Besok saat musim hujan datang, ndilalah ada banjir atau longsor, alam lagi yang disalahkan”, tuturnya sambil tertawa. 

Menurutnya, meskipun mengambil air tanah menggunakan sumur bor, saat ini sulit. Airnya saja tidak ada. Sudah terlalu banyak pembangunan yang merusak ekosistem sumber air kita. Ini adalah dampak dari keserakahan kita sebagai manusia. 

Seperti karya yang lain. Karya lukis Abah Titut ini konsepnya dekoratif. Sehingga pengunjung bisa dengan mudah menikmatinya. Merasakan energi dan ajaran yang Abah Titut ingin sampaikan melalui lukisan. Tentang pelestarian alam. Menjaga sumber air dan kehidupan. 

“Karena saat ini sudah terlalu rusak, setidaknya kita jangan turut merusaknya. Dan mau tidak mau, kita sebagai bagian dari alam semesta ini, harus beradaptasi, dan mencintai bumi kita ini”, pungkasnya. Abah Titut sudah dikode oleh istrinya untuk pulang.

Setelah saya berada di pintu keluar galeri, Mas Lis mengajak kami masuk lagi. Saya dan Mahin akhirnya mengikutinya. Sambil menyuguhkan teh rosella, Mas Lis ingin bercerita tentang karyanya. 

Selama berbincang dengan Abah Titut, sebenarnya ekor mata saya beberapa kali melihat sebuah karya yang berbeda. Dan benar, rupanya itu karya Mas Lis. Tertulis nama Listyo Widodo.

“Saya merasa semakin sumuk mas. Semromong lihat lukisannya jenengan”, ucap saya. Semromong seperti berada di dekat kobaran api. 

“Karhutla yang sedang melanda beberapa wilayah di Indonesia kali ini sumber sebenarnya dari upaya ekstraktif sejak zaman Belanda. Itu kan nanti akan ditanami sawit. Dan karhutla itu ada pelakunya”, tuturnya.

Dalam karyanya yang membuat saya semromong itu, terlihat samar orang yang berdiri menggunakan topi koboi seperti seorang mandor. Boleh dikatakan, dari 50 karya yang dipajang saat pameran itu, hanya 1 yang kurang dekoratif. Atau malah tidak. Karyanya sangat muram, faktual, dan sangat menceritakan kondisi saat ini . 

Ada sebuah cerita yang menginspirasi karyanya. Dahulu di hutan Kalimantan, ada ular besar. Kemudian terjadi kebakaran di bumi gambut itu. Karena sudah terkepung oleh api, ular itu akhirnya bunuh diri. Tujuan ular itu supaya ia bisa menjaga tumbuhan yang masih tersisa. Dalam karya Mas Lis, tidak hanya hutan yang habis terbakar oleh api. Tapi ada beberapa pohon yang tersisa dan sedikit bagian yang terbakar.

“Lukisannya jenengan harus diberi identitas detail. Sebagai penanda. Bahwa bulan Oktober 2026, pernah ada karhutla besar-besaran yang terjadi di Indonesia”, saran saya malam itu. 

Selain melukiskan keindahan dan kebahagiaan, Neo Mooi Indie juga mengarsipkan dan menjadi perawat ingatan atas realitas kehidupan manusia. Termasuk memberikan ruang ingat bahwa manusia itu, menempati kasta tertinggi piramida keserakahan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top