
Obituari Salma
Pada malam saat ia dijemput dengan kereta kuda
Harapan-harapan tentang kematian jauh lebih ia senangi
Sebab mati adalah surat cinta yang menjelma mahdi
dalam genggaman nirmala jemarinya
tak ada burung bulbul yang bernyanyi
tersisa jeritan-jeritan malam yang gebalau
cahaya rembulan yang memeluk tatap matanya
sirna menjelma puing-puing Troya
“Cinta seperti apa yang dunia ini inginkan kekasih?
adakah yang lebih pedih dari mawar yang
kehilangan kelopaknya yang merona ?
adakah yang lebih murung bagi langit jika
lenyap birunya ditelan mendung ?
Inilah aku Salma Karami kekasihmu
yang membias cahaya rembulan
di taman gelap untuk menerangi
tatapmu agar mampu kau pandang debar jantungku
kulangitkan beberapa teluh untuk Astarte yang
memaksaku membunuh denyut dalam nadiku
atas nama kebahagiaan yang diperban ngilu
dan di sinilah aku, kekasih
menari di ujung bukit Kanaan
menyusul kematian tanpa sisa
noktah dari cintamu
2026
***
Di Pangkuan Juni
_Untuk Hannah
Aku meninggalkanmu di pangkuan Juni.
Melipat sajak-sajak rindu dan cinta yang
tak lagi berwibawa. Kutanggalkan segala
bentuk perasaan-perasaan bahagia tanpa
arah dan tujuan itu.
Andai-andai tentang kebersamaan, kini
hanya menjadi hiasan dinding di kepalaku,
rekah senyum yang terbentuk buyar
setelah tak mampu kupandangi potretmu.
Aku meninggalkanmu di pangkuan Juni.
Membentang luas sebuah jalan kepergian pada
lapang tanpa batas pandang. Hijau padang
sabana tunduk pada gersang dan panas mentari.
Hujan, ya hujan.
Siramilah gersang dadaku, akan kupersembahkan
segala bentuk tumbal. Jika itu adalah urat nadiku,
maka goroklah ia pada batang leherku yang telah
telanjur mengalirkan namanya.
Aku meninggalkanmu di pangkuan Juni.
Dengan sisa-sisa doa yang menjelma tulah
untuk kepergianku.
2026
***
Sesuatu yang Kita Tinggalkan
Sekelebat rindu tetiba menampakkan diri
Semenjak tadi sibuk berkelindan di halaman rumah.
Kepalaku mengingat jejak yang telah lama rusak
sesaat setelah aroma petrikor menguak menusuk hidungku.
Betapa hidup terlalu sibuk bertanya perihal siapa di antara
kita yang setia menyiram kenangan agar tetap tumbuh,
dan sisa-sisa yang tertinggal di pot bunga lobelia
yang menggantung di rumahmu itu, sibuk meratapi
apa-apa yang telah lama terkubur, mati.
pertanyaan-pertanyaan tentang siapakah kita
menerobos pada celah-celah waktu tidurku yang sempit,
tersangkut. Menyisakan pertanyaan besar yang
bercokol pada dinding otakku tentang
Seberapa jauh rentang lenganmu
dari sesuatu yang kau sebut masa lalu?
2026
***
Mengeja
Di atas laut yang bergemuruh
Cinta setia menunjukkan jalan pulang
Kepada dekap yang lebih lembut
Dari sutra yang dikenakan Cyrus
Ialah mata Layla yang sembab
Lantaran rindu menggerogoti jantungnya
Aku mungkin akan tenggelam
Sebelum pulang benar-benar berlabuh
Pada mata kekasihku yang cengeng
Walau kita tak sempat mengeja debar
Masing-masing, kupastikan detak-detak
Terakhir jantungku adalah pesan yang akan
Datang padamu, lewat angin yang berhembus
Dari kapalku yang koyak, bersama cinta
Yang kubawa
Ke dasar samudra.
2026
***
Bermain Ombak
Di sini, waktu seperti bangkai kapal tua
Bisu dibungkam pasak-pasak besi di pelabuhan
Lanskap laut yang tak pernah mengubah dirinya
Meminjam kesetiaan dermaga yang hanya tersisa
Puing-puing kayu di tengah laut
Di pelabuhan, masa lalu menjelma lumut
di sungai-sungai yang setia memeluk batu-batu
Laiknya ombak yang tak benar-benar
berhenti mengirim debur untuk pantai
Dan kita adalah camar yang lapar, sesekali
mendapat ikan lalu kenyang untuk kembali lapar
di sini, pada pantai yang mengisi kenangan
menggelepar ingatan masa kanak-kanak, tepat
pada gelombang air yang mencium buih dan pasir
2026
***
Maulana Abdi Zahid, Lahir dan besar di Mataram, NTB. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Mataram. Menyukai puisi dan tertarik pada sastra sejak di bangku Aliyah. Puisi-puisinya termuat di beberapa media online. Menerbitkan E-Book kumpulan puisi dengan judul Memungut Luka (Ruangrasa Project, 2025). Berdomisili di Mataram. Bisa disapa di Instagram @telusursunyi




