
Jam menunjuk pukul 22.00. Malam yang dingin dan sepi, seperti malam- malam sebelumnya. Aku mengambil ponsel dan mengirim pesan yang singkat. Terlalu singkat sebenarnya untuk hubungan yang nyaris 7 tahun.
“Hai, sudah tidur? Sudah makan?”
Butuh menunggu setengah jam untuk pesan itu terbalas
“Hai, sudah.”
Singkat seperti biasanya .
“Makan apa hari ini?”
“Ya seperti biasanya,”
“Pengen sebenarnya bisa masakin kamu”
“Ya pengen juga bisa makan masakanmu, tapi nggak memungkinkan ya”
Seperti basa-basi yang terus terulang. Dan pertanyaan yang sama terus kuajukan walaupun aku tahu bagaimana jawabannya.
“Capek banget ya hari ini”
“Iya nih lagi banyak banget pekerjaan”
“Oh, kalau begitu istirahat aja ya. Biar nggak sakit”
Aku menunggu balasan. Lama tidak muncul balasan yang aku harapkan. Aku menutup HP, meletakkan di samping tempat tidurku. Aku capek.
Dan pesan- pesan yang terjadi terus berulang. Tidak ada obrolan hangat seperti yang kuinginkan layaknya pasangan. Tidak juga ada pertanyaan seperti keluarga cemara hadir dalam setiap percakapan. Aku dan dia sibuk dalam pekerjaan yang tiada habis. Menghabiskan pagi hingga malam dengan setumpuk tanggung jawab yang harus selesai. Tanpa jeda, semua menuntut dan bertanya dengan nada terburu- buru, tanpa memahami apa yang terjadi dengan kami.
Dulu, bagiku semua terasa sempurna. Pekerjaan dan keluarga yang bisa berjalan beriringan. Hidup yang aku inginkan, bahwa ternyata kenyataan melemparkan impian itu diam-diam dan jauh berserak. Dia peduli atau tidak dengan yang aku rasakan, akupun tak tahu. Sejelas yang bisa aku tangkap, jarak kami semakin jauh. Gadis kecil di sampingku tersenyum dengan manis, menanyakan dia dan bilang jika kangen sekali. Aku mendekapnya lebih erat. Aku juga rindu bersama.
“Lalu bagaimana dengan hidupku?” air mataku jatuh tak terbendung lagi
“Lalu bagaimana aku juga? Bagaimana tanggung jawab ini? Kamu mau menanggungnya. Banyak yang sudah kulakukan untukmu?” dia membalasnya.
Aku tahu saat itu kami bertengkar hebat. Dia marah dan mengeluarkan kata-kata yang tak mampu kujawab kembali. Jika aku menjawab kembali, kapal ini tidak bisa dipertahankan lagi. Aku diam. Aku menutup malam itu dengan airmata yang kubawa tidur. Dia tak lagi menjawab. Padahal aku butuh untuk ditenangkan. Hanya sedikit kata, bagiku cukup. Tapi tidak ada.
Dia laki-laki pekerja keras. Dedikasinya untuk menjalankan semua tanggung jawabnya dan tak ada satupun yang terlewat. Kebutuhan hidup selalu tercukupi. Sepertinya tak ada yang kurang. Gadis kecil itu terpenuhi kebutuhannya, makanan, pakaian, mainan dan kesehatan tak ada yang terlewat.
“Mungkin aku kurang bersyukur” ucapku dalam hati. Tapi wajar aku ingin hidup yang lebih. Ini seperti tanggung jawab memang, tapi tak hangat di sana. Setiap meminta rasanya lelah, mengulang peristiwa yang sama membuatku menyerah.
“Ayo kita ngobrol, mungkin ada jalan tengah” ucapku mengawali pagi ini
“Ngobrol apa lagi? sudah cukup”
Aku diam. Ternyata jalan ini memang durinya tajam, kakiku berdarah. Hatiku teriris. Aku melihat cermin. Kantung mata yang tebal, lingkaran hitam dan disisir banyak sisa- sisa rambut yang menempel. Di bawah lantai juga banyak rambut berceceran dan untuk pertama kalinya aku menemukan uban di rambutku.
Pagi ini, kopi hangat ini cukup memenangkan hatiku. Semalam tidak ada lanjutan obrolan yang menenangkan. Aku mencintanya dan itu keputusan yang aku buat dengan kesadaran. Harusnya kupikirkan baik-baik waktu memutuskan hidup bersamanya. Aku membuat janji dalam hidupku dan untuk gadis kecil yang ada di sampingku.
“Baik, akan kujalani sisa hidup ini dengan bahagia, aku memilih dia dan itu sudah cukup.” Hatiku sedikit hangat dan senyum gadis kecil itu menangkan hatiku. “Setidaknya dia sehat, tapi dia sedikit pendiam dan takut. Ah, dia harus berani dan kuat sepertiku”. Setidaknya aku punya tujuan.
Aku menjalani hari ini dengan tenang tanpa risau dengan balasan dari dia. Malam bergulir cepat. Aku selamat hari ini. Tapi, ketenangan yang kurasakan sebentar saja. Aku kembali risau, ke mana arah perjalanan ini akan selesai. Pikiranku dipenuhi oleh adegan yang rumit.
“Harusnya tidak seperti ini keluarga yang aku idamkan” pikirku.
“Tapi bukankah begini saja sudah cukup” kembali aku bertanya pada diriku sendiri.
“Tidak, tidak bukan ini yang aku ingin. Inginku, tiap malam ada obrolan hangat antara aku dan dia. Di penghujung minggu ada waktu untuk kita berjalan-jalan” ucapku dalam pikiran.
“Apakah harus aku obrolkan lagi? Ah, tidak, nanti dia akan marah. Jika sudah begitu maka hatiku akan semakin sesak dan aku tak ingin kapal ini karam dengan cepat”
“Tapi sesak ini begitu membuat fisik dan jiwaku hancur. Lihat, wajahmu dan kepalamu yang mulai menipis rambutnya. Jangan lupa, sekarang ada banyak uban”.
“Uban bukannya normal ya?” pikirku kembali.
“Tidak, itu tanda tubuhmu sakit”
Dan hari ini dengan keberanian sekuat karang, aku membuka obrolan. Walaupun tahu akan dihantam ombak yang besar, tak apa. Setidaknya aku tahu bahwa memang dia ada dan mencintaiku. Sudah cukup. Sepanjang yang aku ingat hari itu, banyak kata yang keluar. Pelan-pelan aku tahu dan dia tahu apa yang kami rasa dan pikirkan. Sudah selesai sekarang. Tenang dan tunggu selanjutnya bagaimana. Entah kenapa hari itu seperti permulaan kami bertemu.
Di penghujung minggu. Angin semilir tenang menerpa wajahku. Diam dan sepi suasana hari ini, tapi matahari begitu hangat. Cukup aku ingat dengan jelas apa yang terjadi kemarin.
“Apa ini hidup yang kamu inginkan? jika memang begitu jalani saja”
“Kehilanganku terlalu banyak, kamu dan gadis kecil itu.”
“Terus ?”
Dia keluar dari ruang kerjanya. Menghampiriku dan duduk di sampingku. Meletakkan ponselnya dengan hati-hati di sampingnya. Tangannya menggenggam dengan hangat. Hanya sejengkal, sepersekian menit sebenarnnya untuk kita duduk sedekat ini dan saling berbicara. Kali ini aku melihat sorot mata yang berbeda. Matanya lelah dan penuh harap.
“Sudah cukup sepertinya, 7 tahun aku menjalaninya. Jarak ini sudah selesai”
“Kenapa?”
“Aku ingin hidup utuh sebagai manusia. Hidup bersamamu dengan bahagia. Kamu mau?”
“Tentu saja”
Untuk kedua kalinya, aku melihat sorot mata yang hangat itu lagi dan senyum yang paling indah
“Ayo kita rayakan”
“Kapan? hari ini”
“Iya tanggal 2 Agustus ini, selamat menjadi manusia yang utuh dan jarak yang telah usai”
Dia tertawa. Tawa yang seperti matahari bagiku. Tanganku dan tangannya menggenggam erat. Entah sampai kapan. Tetapi hari ini aku sangat bahagia.
Indry Kurniawati biasa dipanggil Indry atau Indi. Ia tinggal di Sumbang, Jawa Tengah. Ia merupakan alumni Jurusan Manajemen Dakwah di salah satu perguruan tinggi Isam swasta di Surabaya.




